Bahan dan Manfaat Kapurung, Makanan Khas dari Bumi Sawerigading

Bahan dan Manfaat Kapurung, Makanan Khas dari Bumi Sawerigading
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Kapurung adalah salah satu makanan pokok di Luwu, Sulawesi Selatan. Saat ada hajatan atau acara keluarga, masyarakat Luwu selalu menyajikan kapurung. Mereka yang merantau di luar daerah pun jika berkumpul sesama orang Luwu, acara ma’ kapurung (membuat kapurung) begitu spesial bagi anak Luwu di tanah rantau karena bisa menjadi pelepas rindu akan kampung halaman dan juga mempererat silaturahmi mereka sesama anak Luwu.

Kapurung sendiri sangat terkenal di kalangan orang Luwu sebagai pemersatu anak Luwu di tanah rantau. Di Makassar sendiri, sudah banyak berdiri rumah makan yang menyediakan kapurung.

Tanah Luwu yang juga digelar bumi Sawerigading merupakan salah satu daerah yang hasil sagunya melimpah di Sulawesi Selatan.Menurut data dari Perkebunan di tahun 2017, Luwu Utara dikenal sebagai kabupaten penghasil sagu terbesar di Sulawesi Selatan, luas area lahan sagu mencapai 1,790 hektare dengan hasil produksi 1.960.

Salah satu makanan khas daerah ini yang terbuat dari sagu yaitu kapurung atau biasa juga disebut bugalu. Namun, kebanyakan orang di Luwu lebih sering menyebutnya kapurung. Makanan ini mirip dengan papeda khas Maluku dan Papua, cuma bedanya kapurung bentuknya bulat kecil-kecil, seperti bakso dan dicampur dengan berbagai macam lauk pauk.

Bahan dan Cara Membuat Kapurung

Kapurung | Foto: Debychyntia
info gambar

Adapun bahan-bahan untuk membuat kapurung, yaitu tepung sagu, air panas yang mendidih (digunakan untuk menyiram sagu), sayur-sayuran (seperti bayam, kacang panjang, jantung pisang, daun kelor, daun katuk, rebung, dan jagung atau sesuai selera), udang, ikan bisa juga daging ayam atau daging sapi, jeruk atau patikala untuk memberi rasa asam, dan kacang tanah. Namun, bisa juga tidak menggunakan kacang tanah. Sedangkan untuk bumbunya, yaitu cabai, garam, dan penyedap rasa.

Kapurung juga bisa dinikmati hanya dengan rebusan ikan tanpa sayur-sayuran untuk yang tidak menyukai sayur, bahkan meski hanya dengan ikan kering. Intinya, kapurung dengan bahan-bahan yang seadanya pun masih tetap bisa dinikmati. Namun, perlu diingat kapurung lebih enak dinikmati saat masih hangat karena jika sudah dingin, kapurung akan mengeras, istilahnya orang Luwu butto.

Cara membuat kapurung, yaitu sagu yang sudah berada di wadah di beri sedikit air. Lalu diaduk, setelah itu, panaskan air hingga mendidih lalu siramkan ke sagu yang ada di wadah. Sagu yang sudah di siram diaduk dengan teknik tertentu sampai kenyal. Selanjutnya, sagu yang sudah kenyal di bentuk bulat-bulat menggunakan sumpit dari bambu. Istilahnya orang Luwu ma’dui kalau sumpit untuk ma’dui orang Luwu menamaianya pidui.

Gizi dalam Kapurung

Sagu di Kapurung | Foto: Brisik.id
info gambar

Jika melihat bahan-bahan yang di gunakan dalam membuat kapurung tentu makanan khas Luwu ini penuh gizi. Menurut situs nilaigizi.com kapurung mengandung energi 41 kkl, protein 2 g, lemak 0.03 g, karbo 7.80 g, vitamin B2, vitamin B3, dan vitamin C adapun kandungan nutrisi terbanyak di dalam sagu adalah karbohidrat murni.

Karbohidrat yang masuk dalam kategori makronutrien dan dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak untuk bahan energi juga fungsi otak. Sagu mengandung nutrisi seperti 355 kalori, 85,6% karbohidrat, 5% serat, 0,5 gram protein/100 gram sagu hingga rendah kadar gula dan lemak.. Sealin itu sagu Manfaatnya bisa sebagai sumber energi, mencegah diabetes, memperlancar sistem pencernaan, meningkatkan kesehatan tulang dan sendi, menjaga suhu tubuh, hingga dimanfaatkan untuk kesehatan kecantikan.

Jika merujuk dari empat konsep dasar dalam ketahanan pangan yang di kemukakan oleh Maxwell dan Frankenberger, yaitu kecukupan, pertimbangan temporal, akses dan keamanan sagu sangat berpotensi menjadi salah satu bahan pokok yang bisa memenuhi kebutuhan pangan dalam negri. Sagu dinilai mampu menopang persoalan pangan dan energi di Indonesia.

Menurut riset MASSI (Masyarakat Sagu Indonesia) terjadinya keberlimpahan sagu bisa dimanfaatkan sebagai salah satu potensi kekuatan pangan bagi negara Indonesia. Ini antara lain karena luas lahan sagu di Indonesia mencapai 5,5 juta hektare dari total 6,5 juta hektar luas lahan sagu di dunia. Dari total luas tersebut, 5 juta hektare berlokasi di daerah Papua. Selain itu juga sagu telah lama menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di sebagian besar wilayah Indonesia Timur.

Sayangnya, sagu yang tumbuh liar di beberapa area di Luwu dibabat lalu ditanam tanaman lain yang nilai ekonominya lebih tinggi, di mana permintaan pasar lebih besar akan tanaman tersebut. Ada juga daerah yang melakukan perluasan lahan persawahan dengan menyingkirkan tanaman sagu yang tumbuh liar di sana. Padahal sagu sangat berpotensi menjadi salah satu bahan pangan untuk menjaga ketahanan pangan dalam negeri saat musim kemarau tiba karena tanaman sagu mampu menyimpan cadangan air.

Sudah saatanya mereka para penikmat kapurung tidak hanya menikmati kapurung yang sudah siap di meja makan, tetapi juga mereka harus peduli dengan apa yang terjadi pada bahan utama pembuat kapurung, yaitu sagu.

Jangan sampai dua puluh tahun yang akan datang semua lahan sagu berubah fungsi menjadi area permuahan atau perkantoran. Anak-anak kita tidak lagi mengenal kapurung atau bahkan gengsi untuk makan kapurung.*

Referensi:Nilai Gizi | Jurnal Palopo | Umrah Hamid dkk. 2019. Pengolahan Sagu di Desa Cenning Kecamatan Malangke Barat. ©Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan. Volume 6 No.3.

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HM
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini