Tradisi Nyorog, Budaya Betawi Sambut Ramadan yang Hampir Punah

Tradisi Nyorog, Budaya Betawi Sambut Ramadan yang Hampir Punah
info gambar utama

Beberapa hari lagi umat Islam akan menyambut bulan suci Ramadan. Setiap daerah memiliki banyak tradisi untuk menyambut bulan suci, tidak terkecuali masyarakat Betawi. Salah satunya adalah Nyorog, yang merupakan kegiatan yang telah ada ribuan tahun di masyarakat Betawi. Nyorog merupakan kegiatan berbagi bingkisan dengan sanak saudara maupun tetangga.

Bingkisan yang diberikan pun bermacam-macam, ada yang memberikan sembako berupa beras, telur, gula, garam, tapi ada juga yang memberi aneka masakan khas Betawi, semacam gabus pucung, sayur babanci, soto tangkar, dan sebagainya.

Kegiatan Nyorog memang dilakukan sebagai tanda penghormatan. Karena itu biasanya yang melakukan pembagiannya adalah anak muda atau pasangan muda. Bingkisan ini biasanya diantarkan kepada anggota keluarga yang lebih tua, tokoh daerah setempat, atau orang tua/mertua yang sudah tinggal berbeda rumah.

Berawal dari 'Sedekah Bumi'

Mengutip Okezone, menurut Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, Nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Kegiatan ini merupakan refleksi antar interaksi yang melibatkan manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada sang pencipta.

Pada masa lampau sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran. Persembahan berbagai sesajen atau makanan itu kemudian dijadikan sebagai rasa syukur kepada Dewi Kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.

Tapi setelah berubahnya zaman dan masuknya Islam, tradisi Nyorog lantas dijadikan sebuah ajang penghormatan kepada mereka yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke tempat tokoh tertua seraya membawakan berbagai macam makanan.

"Pada saat sekarang, ide (Nyorog) itu ‎oleh orang-orang dahulu kala, orang Betawi dulu, dijadikan sebagai memberikan penghormatan dan silaturahmi kepada orang-orang yang kita hormatin," ujar Yahya.

Tradisi ini tidak hanya dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan, tapi jelang Idul Fitri juga. Lain itu, juga kerap dilakukan saat melangsungkan pernikahan. Seperti misalnya pihak keluarga mempelai laki-laki sebelum lamaran sudah mendatangi keluarga mempelai perempuan lebih dulu dengan membawa Sorogan atau ‎bahan makanan disertai bingkisan.

Tradisi yang mulai tergerus zaman

Bukan hanya perayaan guna memperingati datangnya bulan Ramadan, Nyorog juga dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi, khususnya bagi para anggota keluarga yang tinggalnya berjauhan. Karena pada zaman dahulu, warga Betawi memiliki tempat tinggal yang berjauhan antara satu dengan yang lainnya.

Memang pada masa itu antara satu rumah dengan yang lainnya paling tidak terhampar hutan atau kebun yang luas. Wujud usaha untuk menyambangi kerabat di tempat yang jauh ini membuat Nyorog semakin bermakna.

Tapi sejak awal tahun 2000-an, Nyorog semakin sulit untuk ditemui, tak seperti zaman dulu yang menjelang Ramadan pastinya banyak sekali kaum muda-mudi Betawi yang berseliweran melaksanakannya. Meski begitu, sebenarnya tradisi Nyorog ini masih diterapkan oleh beberapa kalangan, meskipun sifatnya bukan lagi perayaan, melainkan hanya kegiatan personal.

Salah satu faktor yang membuat tradisi ini mulai tergerus zaman ialah relokasi warga Betawi, karena banyak masyarakat Betawi asli Jakarta yang pindah ke kota-kota satelit, seperti ke Depok, Tangerang, Bekasi, atau Bogor.

Faktor lainnya ialah kondisi ekonomi. Banyak yang mengatakan bahwa tradisi Nyorog ini biasanya sering dilakukan hanya oleh keluarga yang berada atau cukup kaya. Karena sekarang terbalik, justru kaum muda yang biasanya kondisi ekonominya masih belum stabil sehingga belum bisa berbagi kelebihannya dengan orang lain.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini