Sakralnya Ramadan dan Lebaran di Kampung Surabaya Tahun 1950-an

Sakralnya Ramadan dan Lebaran di Kampung Surabaya Tahun 1950-an
info gambar utama

*Penulis senior GNFI

Ramadan merupakan waktu yang membahagiakan bagi kami anak-anak kampung; suasana religiusnya begitu kental. Seperti pada umumnya keluarga santri, saya berssama mbakyu dan mas saya berpuasa. Namun karena saya anak yang paling bungsu maka puasa saya adalah “puasa beduk” artinya saya sudah berbuka pada waktu beduk siang/dhohor berbunyi. Tak jarang karena tidak kuat berpuasa, sebelum waktunya dhohor saya diam-diam ke kamar mandi pura-pura buang air kecil, tapi minum air PDAM.

Yang mengasyikkan bagi kami adalah sebelum salat tarawih di musala milik keluarga besar saya di kampung Kapasari Surabaya, kami sama-sama naik tangga musala itu tempat berdirinya beduk besar. Kami bermain beduk - kami sebut bermain “Beduk Keter”.

Menabuh bedug dari kulit sapi itu dengan gerakan yang rancak mengingatkan saya permainan drum tradisional dari Korea dan Jepang. Kami berlama-lama bermain menabuh bedug ini sampai waktunya sholat Isya’ dan tarawih.

Seperti umumnya anak-anak kecil kampung ketika salat tarawih, tidak tidak ada yang fokus sholat tapi bergurau, misalkan menggoda teman yang lagi sujud dengan menyingkap sarungnya karena dia tidak pakai celana dalam, atau memperlebar rentangan kedua tangan waktu sujud agar merintangi teman sebelah yang akan sujud.

Seingat saya, kami tidak dimarahi oleh orang-orang yang lebih tua. Mungkin beliau-beliau ini punya pikiran yang sama seperti pengumuman yang ada di salah satu Masjid di Kairo Mesir yang berbunyi antara lain agar orang-orang tua tidak memarahi anak-anak kecil yang berlarian dan berteriak-teriak di Masjid, karena merekalah nanti menjadi generasi penerus yang mengurus dan memakmurkan Masjid.

Dalam bulan puasa itu kadang saya ikut bapak-bapak dan anak-anak melakukan “Patrol”- bukan patrol untuk menjaga keamanan, tapi berkeliling kampung untuk membangunkan warga kalau waktunya sahur. Dengan berbekal alat dari bambu yang tengahnya berlubang dan ditabuh berkali-kali sambil teriak-teriak “Sahur-Sahur !!!”.

Dua-tiga hari menjelang lebaran, saya selalu ikut menunggu dan melihat ibu saya menjahit pakain baru untuk kami dan membuat kue-kue yang dimasukkan oven terbuat dari seng tipis, dan diletakkan diatas tungku (kami menyebutnya Angglo) yang membara dengan arang sebagai bahan bakarnya.

Jangan dibayangkan seperti sekarang dimana ibu-ibu tidak membuat sendiri kue-kue itu, tapi beli yang sudah jadi di mal atau order di toko online. Namun membuat kue sendiri seperti yang dilakukan ibu saya, kita bisa merasakan kesakralan Ramadan dan menjelang lebaran.

Selain itu, bagi warga Surabaya yang memunyai uang tentu belanja persiapan lebaran untuk anak-anaknya, misalkan membelikan sepatu di Jalan Tembaan (sebelum Blauran) atau membeli baju di Pasar Atom.

Biasanya sehari-dua hari menjelang lebaran warga “Nyumet” atau menyalakan mercon (petasan), baik yang dinyalakan di halaman rumah dan meledak atau menyalakan “Mercon Sreng” – yaitu mercon yang melesat keatas setelah dinyalakan seperti peluru kendali. Kita bisa melihat tetangga kita itu kaya atau tidak dari ketebalan sisa-sisa mercon dihalamannya.

Bagi warga yang kurang mampu yang tidak bisa membeli petasan, tetap bisa menikmati kebahagiaan yang sama yaitu dengan membuat “Mercon Bumbung” – terrbuat dari bambu yang agak panjang dan dilubangi kemudian dimasukkan karbit, disulut api dan mengeluarkan suara ledakan seperti meriam artileri.

Di hari lebaran,warga kampung kami menuju Lapangan Tambaksari untuk salat Idulfitri, dan setelah salat kami melakukan “Unjung-Unjung” atau pergi ke tetangga–tetangga atau famili di kampung lain untuk saling memaafkan.

Anak-anak sebaya kami juga melakukan kegiatan itu sendiri, bukan untuk minta maaf atau mengucapkan selamat lebaran, tapi menunggu diberi uang oleh pemilik rumah atau mengambil kacang goreng di toples tanpa sepengetahuan pemilik rumah.

“Unjung-Unjung” ini adalah budaya kearifan lokal yang dilakukan selama stu minggu atau lebih. Kegaiatan budaya ini juga menimbulkan perasaan religi dan tradisi yang dalam, sehingga kesakralan lebaran itu begitu terasa.

Sayang sekarang di dunia modern dengan IT yang canggih ini, budaya “Unjung-Unjung” itu sudah hilang, diganti dengan silaturahim singkat lewat dunia maya, lewat aplikasi obrol WhataApps (WA), Instagram, Twitter dan Facebook sambil mengucapkan selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin.

Dengan cara ini sepertinya kita sudah bersilaturahmi, padahal itu maya atau virtual. Selain dengan sosmed, kita sekarang melakukan “Unjung-Unjung” singkat yaitu Halal Bi Halal di suatu gedung atau restoran, dan tidak pernah menginjakkan kaki di rumah saudara, atau sahabat.

Karena itu wajar, kita sekarang tidak melihat kesakralan lebaran itu, karena sehari setelah lebaran, jalan-jalan sudah macet lagi dan banyak orang sudah masuk kantor. Yang dirasakan oleh warga tentang lebaran dewasa ini hanyalah hiruk pikuk mudik yang kemacetannya di siarkan TV berhari-hari.

Untuk semua pembaca GNFI, saya menghaturkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga senantiasa mendapatkan ampunan dan berkah dari Allah SWT.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini