Keren! 5 Grup Musik Asal Indonesia Suarakan Isu Lingkungan Lewat Lagunya

Keren! 5 Grup Musik Asal Indonesia Suarakan Isu Lingkungan Lewat Lagunya
info gambar utama

Permasalahan lingkungan yang tengah kita hadapi saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi pemerintah saja. Dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak guna mengembalikan kondisi lingkungan yang lebih layak bagi seluruh mahkluk hidup.

Kendati demikian, tak sulit untuk bisa mengambil peran dalam permasalahan lingkungan di Indonesia. Angin segar datang dari kalangan muda hingga tua yang semakin gencar berkolaborasi dalam melakukan aksi, gerakan dan menyumbangkan karyanya untuk ibu bumi.

Muncul pula aktivis baru dengan ciri khas dan wadahnya masing-masing, salah satunya lewat musik. Keberadaan grup musik yang membawa misi kepedulian terhadap lingkungan memberi warna baru dalam industri musik tanah air. Siapa saja mereka? Yuk, simak selengkapnya.

1. Navicula

naviculamusic/Instagram
info gambar

The Green Grunge Gentlemen, sebuah julukan yang disematkan kepada Navicula berkat keaktifannya dalam menyuarakan isu lingkungan di Indonesia. Berdiri sejak tahun 1996, band yang berasal dari Bali itu beranggotakan Robi (vocal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), dan Gembul (drum).

Salah satu albumnya yang berjudul Earthship, telah membawa Navicula menggelar tur ke negara Eropa dalam rangka promosi album sekaligus mengenalkan budaya Indonesia di kancah internasional. Tak hanya itu, Navicula juga sering terlibat dalam kampanye lingkungan seperti gerakan 'Kepak Sayap Enggang', 'Bali Bukan Pulau Plastik', dan 'Tolak Reklamasi Teluk Benoa'.

Namun seiring perjalanannya, pada tahun 2018 Made meninggal dunia lalu digantikan oleh Krishnanda Adipurba. Tak lama setelah itu Gembul pun mengundurkan diri dari Navicula yang kemudian diambil alih oleh Palel.

"Tak akan ada ibu bumi kedua. Bila ibu bumi telah tiada. Kujaga dia, kujaga selamannya". Sepenggal lirik lagunya yang berjudul Ibu, Navicula berhasil menyampaikan pesan sederhana, tetapi sangat bermakna. Beberapa lagunya yang wajib Kawan GNFI dengar di antaranya, "Busur Hujan", "Harimau! Harimau", "Orangutan", "Metropolutan", "Kali Mati", "Over Konsumsi".

2. Nosstress

nosstressbali/Instagram
info gambar

Bali kembali menghadirkan grup musik yang menyuarakan isu lingkungan lewat lagunya. Band indie folk yang terdiri dari Man Angga (gitar, vokal), Kupit (gitar, vokal), dan Cok (kajon, harmonika). Berangkat dari keresahan tentang kondisi Bali yang kian berubah, akhirnya Nosstress merilis album pertama dengan judul Perspektif Bodoh Vol. 1 pada tahun 2011 lalu.

“Banyak sampah berserakan di jalanan. Kebersihan bukan hanya tugas truk berbedag hijau. Ayo ikut bersihkan sampahnya perlahan”. Petikan dari lirik 'Hiruk Pikuk Denpasar' ini merupakan salah satu lagu di album Perspektif Bodoh Vol. 1. Lagu lain yang bertemakan lingkungan di antaranya, "Sama Seperti Dia", "Tanam Saja", "Kantong Sampah", dan "Ini Judulnya Belakangan" juga tak kalah asik untuk didengarkan.

Setelah dua belas tahun grup itu berdiri, tak disangka Cok memutuskan untuk keluar dari Nosstress. Meskipun begitu, kini Nosstress masih bersinar di industri musik Indonesia dan terdengar kabar akan merilis album terbarunya di tahun ini.

3. Dialog Dini Hari

dialogdinihari/Instagram
info gambar

Siapa sangka, ternyata grup musik dengan nuansa folk, blues, ballad, dan jazz ini juga berasal dari Bali. Digawangi oleh Dankie, gitaris Navicula, Dialog Dini Hari beranggotakan Joshua Stevenson dan Mark Liepmann (Kaimsasikun). Meski tak begitu banyak lagunya yang bertemakan lingkungan, Dialog Dini Hari kerap kali berkolaborasi dengan musisi lain untuk menggelar konser yang mendukung penuh pelestarian lingkungan, seperti ForBALI, Hutan Indie, dan konser lainnya.

“Air bumi menipis. Seakan-akan hampir habis. Sungai danau hilang”. Potongan dari lirik "Bumiku Buruk Rupa" ini merupakan lagu dari album pertama Dialog Dini Hari yang berjudul "Beranda Taman Hati". Dirilis pada tahun 2008, sesuai dengan namanya, Dialog Dini Hari mencoba berdialog secara sederhana lewat lagu yang berdurasi 4.59 menit tersebut.

Seiring perjalanan mereka, kini Dialog Dini Hari pun sudah berganti personil. Dankie menggandeng Deny Surya dan juga Berzio Orah untuk menggantikan posisi rekan lamanya. Pada 2020 lalu, Dialog Dini Hari kembali mengeluarkan mini album yang berjudul Setara. Wah, apakah Kawan sudah dengar lagu-lagunya?

4. Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca bersama dengan t-shirt Im Good (Merchandise GNFI) | Foto: GNFI
info gambar

Beranjak dari Pulau Dewata, grup musik indie asal ibu kota ini tak ketinggalan untuk hadir membawa nafas baru di industri musik Indonesia. Berdiri sejak tahun 2001 dan sempat beberapa kali berganti nama, akhirnya pada tahun 2005 Efek Rumah Kaca (ERK) resmi menjadi nama dari grup mereka. Kini, ERK beranggotakan Cholil Mahmud (vokal, gitar), Poppie Airil (vokal latar, bass), dan Akbar Bagus (drum, vocal latar).

“Daun-daun berlubang. Tak berputar energi. Wajah bumi menangis sedang kita tak mengerti”. Sama seperti nama mereka, itulah penggalan lirik lagu dengan judul "Efek Rumah Kaca" yang rilis pada tahun 2009 lalu. Lewat lagunya itu, ERK mengajak pendengarnya untuk peduli terhadap isu global warming dan bergerak melalakukan perubahan.

Lagu lainnya seperti "Debu-Debu Berterbangan", "Di Udara", "Belanja Terus Sampai Mati", dan "Tiba-Tiba Jadi Batu" barangkali bisa Kawan masukkan ke dalam playlist lagu di ponsel Kawan. Selamat mendengarkan!

5. Primata

Personil Band Primata | Foto: Kompasiana
info gambar

Grup musik yang terakhir datang dari Tangerang Selatan yang tak lain ialah Primata. Hadir dengan balutan rock-instrumental, Primata menampilkan satu-satunya personil perempuan, Ria Antika (drum) dengan dua orang laki-laki, yaitu Adhitomo Kusumo (bassis) dan Rama Wirawan (gitaris). Grup musik yang memulai perjalanannya sejak 2014 itu sudah mengeluarkan single dan album mini, seperti "Kupu-Kupu", "Khaga", "Avani", "Tebang!", dan yang terakhir "Sebelum Terlalu Mati".

Single yang berjudul "Tebang!" merupakan proyek kerja sama dengan The Center of Orangutan dengan membuat merchandise, yang mana hasil penjualannya akan disumbangkan untuk membantu kesejahteraan orang utan di Indonesia. Kabar terakhir, pada tahun 2020 lalu, Primata mengeluarkan video musik yang berjudul "Sebelum Terlalu Mati" dengan menggambarkan dampak pencemaran udara yang menjadi ancaman serius kehidupan manusia yang akan datang.

Tema tersebut mereka pilih karena terinspirasi dengan istilah Near-Term Human Extinction atau menjelang kepunahan manusia, yang menurut prediksi ilmuwan Amerika, Guy R. McPherson akan terjadi di tahun 2030.

Itulah lima grup musik asal Indonesia yang suarakan isu lingkungan lewat lagunya. Apakah Kawan berencana hadir di konsernya setelah pandemi nanti? Tenang, lagu mereka banyak tersedia di kanal Youtube resmi masing-masing grup, dan aplikasi musik yang bisa diunduh melalui handphone Kawan. Yuk, dukung terus musik karya anak bangsa!*

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

H
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini