Implementasi 5G Indonesia Makin Dekat, XL Jadi Pemain Baru

Implementasi 5G Indonesia Makin Dekat, XL Jadi Pemain Baru
info gambar utama

Babak baru lelang frekuensi jaringan seluler 5G kembali dimulai, setelah sebelumnya mengalami pembatalan pada Januari 2021. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun telah mengumumkan 3 operator seluler yang lulus tahapan evaluasi administrasi lelang frekuensi 2,3 GHz.

Tercatat Telkomsel, Indosat Ooredoo, Smartfren, Tri, dan XL Axiata, 5 operator yang mengambil dokumen seleksi pada Rabu (17/3/2021). Namun, Hutchison 3 (Tri) Indonesia dan Indosat Ooredoo mundur di tengah jalan.

Hingga pada akhirnya, Rabu (14/4), dari 5 operator seluler calon peserta lelang frekuensi, hanya ada 3 peserta yang menyerahkan dokumen Permohonan Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021.

Ketiga peserta itu adalah Telkomsel, XL Axiata, dan Smartfren. Kominfo menyatakan ketiga operator seluler itu sebagai peserta seleksi lelang frekuensi 2,3 GHz di rentang 2360-2390 MHz tahap pertama telah lulus persyaratan.

Ini tentu bertanda baik, mengingat 2 dari 3 operator seluler yang lolos lelang itu merupakan operator asli Indonesia (Telkomsel dan Smartfren).

Secara umum, tim seleksi telah memeriksa kelengkapan dokumen peserta lelang frekuensi 2,3 GHz yang dihadiri oleh perwakilan dari peserta seleksi sebagai saksi. Dalam keterangan tertulis Kominfo, Jumat (16/4), tim seleksi Kominfo telah melakukan verifikasi dokumen administrasi pada, Kamis (15/4).

Berdasarkan hasil evaluasi itu, hasil peserta seleksi yang lulus tahapan Evaluasi Administrasi adalah sebagai berikut:

  • Telkomsel (lengkap)
  • XL Axiata (lengkap)
  • Smartfren (lengkap)

Sesuai ketentuan angka 4.8.3 dalam dokumen Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 2,3 GHz untuk Keperluan Penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler Tahun 2021, maka peserta seleksi yang lulus tahapan evaluasi administrasi akan mengikuti tahapan selanjutnya, yakni tahapan lelang harga blok kosong di frekuensi 2,3 GHz.

Berbeda dengan lelang sebelumnya, kali ini peserta seleksi diberikan kesempatan untuk mengajukan penawaran lebih dari 1 blok (1x10 MHz), sehingga tak ada pembatasan jumlah blok yang dapat dimenangkan oleh peserta seleksi sesuai dengan hasil seleksi

Alasan Tri Indonesia mundur di tengah jalan

Pada lelang sebelumnya (2020), PT Hutchison 3 Indonesia menjadi salah satu peserta lelang menemani Telkomsel dan Smatfren. Namun pada lelang berikutnya, operator seluler ini memutuskan untuk tidak ikut berpartisipasi dalam lelang frekuensi 30 Mhz dan 2300 Mhz.

Wakil Presiden Direktur Tri Indonesia, Danny Buldansyah, mengatakan pihaknya tidak memiliki persiapan apapun terkait dengan lelang frekuensi 5G spektrum 30 Mhz maupun 2300 Mhz yang diselenggarakan pemerintah.

''Tri Indonesia tidak berpartisipasi dalam lelang frekuensi di 30 Mhz dan 2300 Mhz,'' ujar Danny dalam Kontan, Kamis (15/4).

Sejatinya, Tri akan lebih fokus untuk meningkatkan layanan di bulan Ramadan dengan menghadirkan beberapa program. Melalui program-program itu, Tri Indonesia memberikan promo Paket Buka Sahur, lalu manfaat lain yang didapatkan pelanggan adalah bisa melakukan pembelian konten digital, seperti gim hingga konten streaming.

Lain itu, Tri Indonesia juga membuat program BonsTri untuk para pelanggannya yang mereka nilai cukup loyal.

Lolos lelang, ini persiapan XL Axiata

Hadirnya XL Axiata sebagai pemenang lelang baru, mendapat respons dari para pengamat telekomunikasi. Mreka menilai XL perlu mengamankan frekuensi 20 MHz--dari 30 MHz yang dilelang di pita 2,3 GHz--untuk meningkatkan kapasitas jaringan yang dimiliki.

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Muhammad Ridwan Effendi, bilang bahwa dari lelang 2,3 GHz, XL berpeluang meningkatkan kualitas layanan 4G yang ada saat ini.

Hanya saja, XL harus mengamankan frekuensi 20 MHz terlebih dahulu karena teknologi 4G memiliki pengaturan sebesar 20 MHz dan kelipatannya dalam sebuah pita frekuensi. Jika hanya mendapatkan 10 MHz maka setengah dari perangkat yang dimiliki akan kosong, sehingga kurang efisien.

“XL perlu 20 MHz karena belum punya frekuensi di 2,3GHz,” kata Ridwan kepada Bisnis.com, Minggu (18/4).

Saat ini, XL Axiata beroperasi menggunakan pita frekuensi sebesar 2x45 MHz, yang tersebar di pita 900 MHz (2x7,5), 1,8 GHz (2x22,5), dan 2,1GHz (2x15). Secara umum, perseroan belum memiliki frekuensi di pita 2,3 Ghz.

Dengan jumlah pita frekuensi tersebut, XL telah melayani 57,9 juta pelanggan per Desember 2020. Catatan itu merupakan peningkatan jumlah pelanggan di tahun-tahun sebelumnya, yakni 56,7 juta pelanggan (2019) dan 54,9 juta pelanggan (2018).

Tambahan frekuensi nantinya jelas dibutuhkan, karena seiring dengan pertambahan jumlah pelanggan serta lalu lintas data XL Axiata terus menanjak. XL mengklaim bahwa sebanyak 80 persen penggunanya menggunakan jaringan data untuk aktivitas video/sreaming yang sudah pasti memakan bandwidth yang cukup besar.

Menanggapi kelolosan seleksi, Group Head Corporate Communications XL Axiata, Tri Wahyuningsih, mengatakan pihaknya bersyukur karena telah dinyatakan 'aman' secara administrasi. XL Axiata, sambungnya, berupaya untuk memperoleh tambahan frekuensi pada spektrum 2.3 GHz untuk peningkatan kapasitas jaringan dan kualitas layanan data kepada pelanggan.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini