Simak 5 Cara Kartini untuk Menjadi Perempuan Independen

Simak 5 Cara Kartini untuk Menjadi Perempuan Independen
info gambar utama

Menjadi perempuan independen dan mandiri adalah impian para perempuan. Tak hanya itu, pintar dan kritis juga menjadi sifat yang harus ada pada pperempuan masa kini. Jika menilik ke belakang, sifat dan sikap itu ada pada sosok Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang lebih dikenal dengan R.A. Kartini.

R.A. Kartini merupakan sosok yang memelopori kesetaraan gender dan memperjuangkan kemerdekaan atas kesetaraan gender di Indonesia. Dikutip dari laman Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Riau, perjuangan kemerdekaan atas kesetaraan gender di Indonesia dimulai ketika R.A. Kartini hanya bisa bersekolah hingga usia 12 tahun. Hal ini disebabkan karena saat itu seorang bangsawan perempuan di Indonesia harus tinggal di rumah saja untuk dipingit.

Kendati demikian, Kartini tidak membiarkan dirinya dibatasi oleh keadaan. Maka, Kartini belajar mandiri dan mulai menulis surat untuk teman-temannya yang sebagian besar adalah orang Belanda. Salah satunya untuk teman Kartini yang berasal dari Belanda bernama Rosa Abendanon.

Melalui Rosa, Kartini mulai sering membaca buku dan koran Eropa. Mulai dari situ, Kartini berniat untuk memajukan kesetaraan perempuan Jawa yang kala itu dipandang memiliki status rendah.

Cara Kartini menjadi perempuan independen

Film Kartini | Foto: Sisternet
info gambar

Adapun cara R.A. Kartini untuk menjadi perempuan yang merdeka atau independen. Berikut beberapa cara yang bisa Kawan terapkan dari R.A. Kartini.

1. Prioritaskan diri sendiri

Menurut laman Project Hot Mess, sebagian besar perempuan lebih memprioritaskan orang lain daripada dirinya sendiri. Mulai dari sahabat hingga keluarga.

Namun, hal ini bukanlah cara yang benar. Memprioritaskan diri sendiri sangatlah penting. Kartini telah menunjukkan bahwa ia memprioritaskan dirinya sendiri.

Walaupun tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, Kartini tidak berhenti belajar untuk dirinya dan untuk kemajuan perempuan Jawa.

2. Tidak abai pada karier

Dilansir dari Lifehack, perempuan yang independen adalah perempuan yang selalu memprioritaskan kariernya. Hal ini ditunjukkan oleh Kartini, ketika ia sudah menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Kala itu, Kartini dijodohkan dengan sang bupati yang telah memiliki tiga orang istri. Meski sudah menikah, Kartini tetap memperjuangkan cita-citanya.

Suaminya juga mendukung Kartini dalam mencapai cita-citanya itu. Lantas, Kartini mampu membangun sekolah perempuan. Letaknya ada di sebelah timur gerbang Kompleks Kantor Kabupaten Rembang.

Saat ini, bangunan itu digunakan sebagai Gedung Pramuka. Tidak hanya itu, Kartini juga berhasil mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912.

3. Pahami keinginan Kawan

Paham atas keinginan dan kebutuhan diri sendiri dapat menjadi fondasi yang kuat, agar Kawan GNFI dapat menjadi perempuan yang tegas. Kala itu, Kartini menuliskan pada surat-suratnya bahwa ia memiliki banyak kendala yang harus dihadapi agar lebih merdeka sebagai perempuan.

Atas keluhannya tersebut, akhirnya Kartini meminta izin pada ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda atau pun untuk masuk sekolah kedokteran. Namun, akhirnya Kartini tidak diizinkan dan beralih menjadi pengajar.

4. Mengontrol hidupnya secara penuh

Perempuan yang kuat dan mandiri adalah perempuan yang tidak pernah hilang kendali atas dirinya. Kendali atas diri sendiri ditandai dengan pilihan, keputusan, dan gaya hidup yang dimiliki.

Hal ini ditunjukkan oleh Kartini dengan perubahan sikap toleransinya terhadap pernikahan adat Jawa. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri, untuk mewujudkan keinginannya dalam mendirikan sekolah bagi para perempuan.

Selain itu, dalam surat-suratnya, Kartini juga menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga tentang menulis sebuah buku.

5. Tidak impulsif

Tidak implusif dalam hal ini berarti mampu berpikir dua kali atas keputusan yang akan diambil. Perempuan yang mandiri, mampu bersabar atas impian-impian jangka panjangnya. Sama seperti sikap Kartini yang menjadi lebih tolerir, Kartini juga mampu meninggalkan egonya dan menjadi perempuan yang mengutamakan cita-citanya.

Itulah beberapa cara yang bisa Kawan terapkan untuk bisa menjadi perempuan independen seperti R.A. Kartini. Untuk perempuan Indonesia, mari bersama mengukir prestasi dan membuat karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Selamat Hari Kartini!* (COMM/EGA)

Referensi: Lifehack | Project Hot Mess | (LPMP) Riau

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini