Dhandhangan, Tradisi Gelar Pasar Malam Sebelum Ramadan

Dhandhangan, Tradisi Gelar Pasar Malam Sebelum Ramadan
info gambar utama

Bulan suci Ramadan selalu dinantikan oleh uman muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Dengan memiliki beragam tradisi, tentunya Indonesia mempunyai cara tersendiri untuk menyambut bulan baik ini. Salah satu tradisi yang ada ialah Dhandhangan.

Dilansir dari laman Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, tradisi Dhandhangan adalah suatu festival yang diadakan untuk menandai dimulainya ibadah puasa pada bulan Ramadan. Tradisi ini biasanya dihelat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Istilah “Dhandhangan” diambil dari suara bedug di Masjid Sunan Kudus yang sedang ditabuh. Resonansi bunyi bedug yang nyaring berbunyi "Dang!" menjadi penanda datangnya bulan Ramadan. Semula, Dhandhangan adalah tradisi berkumpulnya para santri untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus, terkait penentuan waktu pelaksanaan puasa Ramadan.

Kala itu, pengumuman Ramadan pertama diberikan pada abad ke-16 atau sekitar tahun 1459 Hijriah oleh Sunan Kudus secara langsung. Sebagai informasi, Sunan Kudus adalah ahli ilmu falak yang mampu menghitung hari dan bulan dalam tanggalan hijriah.

Pengumuman Ramadan pertama dilakukan di pelataran Masjid Menara Kudus dengan memukul bedug di dua waktu, dan dihadiri oleh murid-murid Sunan Kudus. Waktu pertama ditujukan untuk memutuskan sekaligus membuka masa awal Ramadan setelah salat Isya.

Adapun murid-murid Sunan Kudus yang ikut menyaksikan pengumuman tersebut, yaitu Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadirin dari Jepara, hingga Aryo Penangsang dari Blora.

Awal mula Dhandhangan

Masjid Menara Kudus yang ramai berdatangan untuk melihat tradisi Dhandhangan| Foto: Travel.kompas
info gambar

Kala itu, tradisi Dhandhangan juga menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Kabupaten Kudus. Hal ini karena tekonologi komunikasi belum maju seperti saat ini. Dengan begitu, masyarakat bergantung pada bunyi bedug untuk memperoleh informasi. Lantas, ketika Sunan Kudus akan mengumumkan Ramadan pertama, masyarakat akan berkumpul di sekitar Menara Kudus.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi Dhandhangan dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid Menara Kudus. Dikutip dari laman Phinemo, saat ini tradisi Dhandhangan lebih dikenal dengan munculnya pasar malam sebelum Ramadan tiba.

Pasar malam ini juga sering disebut dengan pasar kaget. Perubahan dari makna Dhandhangan yang sebenarnya telah berlangsung selama ratusan tahun.

Di Kabupaten Kudus, tradisi Dhandhangan digelar 10 hari menjelang Ramadan. Kemudian, para pedagang pasar malam akan memeriahkan tradisi ini di sekitar masjid.

Memasuki tahun 1980-an, jumlah pedagang saat tradisi Dhandhangan semakin bertambah. Para pedagang tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjual pakaian. Bahkan, saat ini tradisi Dhandhangan juga menampilkan Kirab Dhandhangan. Kirab Dhandhangan adalah ajang representasi budaya yang ada di Kudus.

Representasi ini ditujukan mulai dari visualisasi Kiai Telingsing, Sunan Kudus, rumah adat Kudus, hingga batil (merapikan rokok). Prosesi Kirab ini dimulai dari jalan Kiai Telingsing menuju kompleks Menara Kudus sejauh 3 km. Tidak hanya ada pasar malam dan pertunjukkan, tradisi Dhandhangan juga dimanfaatkan oleh para perempuan yang telah dipingit.

Para orang tua akan membiarkan putri-putrinya yang sedang dipingit, untuk mengikuti ajang ini dengan cara membebaskan mereka untuk berjalan-jalan di sekitar pasar malam Dhandhangan dan berkenalan dengan laki-laki. Kendati demikian, anggota keluarga yang memingit sang perempuan juga ikut dalam tradisi ini.

Sayangnya seperti dikabarkan Detikcom, Bupati Kudus HM Hartopo menyatakan bahwa tradisi Dhandhangan tahun 2021 ditiadakan. Hal ini berkaitan dengan kondisi pandemi Covid-19 di Kudus yang belum membaik.

Ia juga menambahkan, bahwa sebelumnya Pemerintah Kabupaten Kudus telah melaksanakan rapat teriat Tradisi Dhandhangan. Salah satu alasan tradisi Dhandhangan harus ditunda tahun ini karena dikhawatirkan akan mengundang kerumunan yang sulit dibendung. (Ega)

Referensi: detik.com | warisanbudaya | phinemo

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini