Selamat Hari Bumi! Yuk, Cari Tahu 6 Startup Indonesia yang Peduli Lingkungan

Selamat Hari Bumi! Yuk, Cari Tahu 6 Startup Indonesia yang Peduli Lingkungan
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Manusia dan lingkungan hidup saling beriringan. Ketidakhadiran salah satunya saja dapat menyebabkan ketidakseimbangan alam semesta. Diperingatinya Hari Bumi setiap 22 April menjadi pengingat untuk kita tentang kondisi lingkungan.

Sebagai anak muda, Banyak metode perjuangan yang dapat kita coba dalam memerangi isu lingkungan. Mulai dari kampanye digital, menyuarakan kepedulian lingkungan di jalan, hingga mendirikan perusahan yang berorientasi pada lingkungan.

Dewasa ini, sudah marak kelahiran dan perkembangan startup Indonesia yang peduli lingkungan. Titik temu keresahan seluruh startup itu sama, mencegah kerusakan lingkungan dan melestarikan keasrian bumi. Berikut beberapa startup Indonesia yang peduli lingkungan.

1. Waste4Change

Startup layanan pengelolaan sampah di Indonesia yang didirikan pada 2014. Perintis startup ini tak lain Mohamad Bijaksana Junerosano, atau biasa disapa dengan Sano.

Motivasi Sano membangun startup ini dimulai dari diskusi antara PT Greeneration Indonesia dan (Ecobali) PT Bumi Lestari Bali. Melalui Waste4Change, Sano berkeinginan untuk mengurangi jumlah sampah di TPA.

Dalam operasional perusahaannya, Waste4Change menerapkan metode 4C yaitu konsultasi (consult), kampanye edukasi (campaign), pengumpulan sampah (collect), dan mendaur ulang sampah (create).

Lebih jelasnya, Waste4Change menyediakan jasa pengumpulan dan pemilahan limbah. Sebagai catatan, Waste4Change menerapkan metode Zero Waste to Landfill, di mana pemilahan dilakukan di muaranya, bukan di TPA.

Selain itu, Waste4Change menyediakan layanan edukasi dan konsultasi waste management untuk rumah dan perusahaan. Dilansir dari 101wired, sudah lebih dari 2000 rumah dan 40 area komersial yang menjadi mitra Waste4Change.

Waste4Change juga berencana untuk mengembangkan platform smart city. Mereka telah mengajak pemerintah kota, pemerintah kabupaten, dan investor untuk bergabung dalam usaha merintis platform tersebut.

2. Evo & Co

Startup peduli lingkungan yang menggunakan limbah laut sebagai produk bisnis. Evo & co didirikan oleh seorang pria bernama David Christian yang prihatin dengan masalah plastik di laut. David berharap agar limbah plastik dapat ditanggulangi dengan baik.

Evo & co mengandalkan sampah plastik sebagai bahan untuk membuat produk baru non polutif. Tercatat startup ini sudah membuat produk-produk ramah lingkungan, seperti gelas ello jello, evoworld, evoware, dan rethink plastic.

3. Geofast

Startup yang dirintis oleh sekelompok mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material UI ini berfokus pada pembuatan semen ramah lingkungan. Adapun semen tersebut terbuat dari limbah tambah.

Semen produksi Geofast diketahui memiliki beberapa kelebihan ketimbang semen pada umumnya. Di antaranya adalah waktu pengeringannya yang begitu singkat, yaitu 8 jam sampai 3 hari. Biasanya, beton lian membutuhkan 28 hari untuk bisa kering sepenuhnya.

Di samping itu, semen berbasis limbah tambang ini menghasilkan polusi dan emisi karbon yang lebih sedikit dari semen pada umumnya. Semen Geofast memberikan dampak yang besar dalam pembangunan gedung yang ramah lingkungan.

4. Arfa Quilt

Salah satu startup lingkungan yang bergerak di pengolahan kain perca. Startup yang didirikan oleh Afifah Ainun dan Arifah Nurul ini membuat berbagai produk fashion dan furnitur rumah tangga yang ramah lingkungan. Produk Arfa Quilt dibuat dengan menggunakan teknik quilting, yaitu teknik yang menyatukan berbagai kain perca dengan menjahit berpola.

5. SMASH (Sistem Online Manajemen Sampah)

SMASH merupakan aplikasi terintegasi yang memfasilitasi berbagai cara penanganan sampah. Pengelolaan sampah dilakukan melalui 3 produknya, yaitu banksampah.id (penunjang operasional sampah), e-smash (pemantau pengelolaan sampah), dan mysmash (informasi tentang bank sampah di sekitar pengguna).

Sampah yang dikumpulkan oleh pengguna dapat ditukarkan dengan berbagai kebutuhan. Mulai dari pulsa, tagihan listrik, atau keperluan lainnya.

6. Mycotech

Startup yang menggunakan myco (jamur) sebagai bahan utama pembuatan produknya. Kebangkitan startup ini dimulai dengan penciptaan Biobo atau decorative panel dari limbah pertanian. Biobo digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti struktur bangunan, pelapis dinding, furnitur, dan interior lainnya.

Selain Biobo, Mycotech juga memproduksi barang bernama Mylea. Produk ini banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tekstil sebagai pewarna sampul buku, pakaian, jam tangan, dan lainnya. Pewarna pada Mylea bersifat ramah lingkungan lantaran menggunakan bahan-bahan alami.

Nah, itu dia 6 startup yang peduli lingkungan. Bagaimana? Apakah Kawan GNFI tergerak untuk memelopori startup ramah lingkungan?*

Referensi: 101wired | eadthday.org | Hidup Tanpa Sampah | konezky | kumparan | Nibble.id | smash.id | waste4change

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini