Perahu Nelayan Tenaga Surya, Wujud Manfaat Energi Matahari Nelayan Indonesia

Perahu Nelayan Tenaga Surya, Wujud Manfaat Energi Matahari Nelayan Indonesia
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

Tidak hanya kaya akan budaya dan tradisi, Indonesia juga kaya akan hasil alamnya. Salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia adalah sumber energi. Laman Direktorat Sekolah Menengah Pertama menyebut sumber energi Indonesia itu adalah batu bara, minyak bumi, gas alam, dan juga biomassa.

Atas kekayaan sumber energi ini, Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Salah satunya energi tata surya sebesar 4,8 kWh/m2/hari.

Energi tata surya atau energi matahari ialah energi yang didapat dengan mengubah energi panas matahari melalui peralatan tertentu menjadi energi dalam bentuk lain. Dalam hal ini, matahari merupakan sumber utama.

Sementara itu, EBT adalah sumber energi yang berasal dari Sumber Daya Alam (SDA) dan tidak akan habis karena terbentuk dari proses alam yang berkelanjutan. Pemerintah memaksimalkan potensi EBT Indonesia dengan mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Mengutip laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM), pemerintah mengupayakan pemanfaatkan potensi energi surya, yaitu dengan memanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di perdesaan dan perkotaan, mendorong komersialisasi PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan swasta, mengembangkan industri PLTS dalam negeri, serta mendorong terciptanya sistem dan pola pendanaan yang efisien dengan melibatkan dunia perbankan.

Maka itu, para nelayan Indonesia juga telah memanfaatkan energi tata surya dengan cara membuat panel solar cell yang ada di bagian atap kapal dan aki yang digunakan untuk menyimpan energi dari panas matahari.

Pemanfaatkan energi matahari di perahu nelayan bertenaga surya

1. Atap kapal nelayan jadi sumber energi

Para Nelayan Memasang Panel Surya| Foto: Mongabay
info gambar

Dilaporkan Indonesia.go.id, sebuah perahu nelayan bertenaga surya resmi diluncurkan oleh PT Barokah Marine di kawasan pantai di Slamaran, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Jawa Tengah.

Pembuatan perahu nelayan bertenaga surya ini dilakukan selama tiga bulan dan diinisiasi oleh beberapa awak business development dari Yayasan Amanah Kita Pekalongan. Mereka adalah Idi Amin, David Susanto Ang, dan Risma Adi Candra.

Atas inisasi itu, maka para nelayan dapat memanfaatkan EBT yang melimpah, yaitu sinar matahari. Perahu nelayan bertenaga surya yang diluncurkan, memiliki panel solar cell di bagian atap kapal.

Atap kapal ini tersambung langsung dengan kebutuhan kelistrikan di kapal. Total energi yang dapat dihasilkan dari panel solar cell pada kapal nelayan mencapai 1.000 watt.

Kuntungan dari panel solar cell, yaitu sebagian bisa digunakan untuk menjalankan mesin dan sebagian lain untuk kebutuhan elektrikal, seperti mesin penggulung tali dan refrigerator kecil.

Jika sedang tidak digunakan, panel solar cell dapat membantu mengisi daya baterai yang sudah ditanamkan di kapal agar bisa bekerja lebih lama. Dalam bentuk energi listrik, out put panel surya ini fleksibel penggunaannya.

Kapal nelayan bertenaga surya, mampu beroperasi selama delapan jam pada kondisi cuaca normal. Baterai yang digunakan adalah produk dari perusahaan baterai di Boyolali. Adanya perahu nelayan bertenaga surya tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan, ya Kawan.

2. Aki tempat penyimpanan energi dari panas matahari

Para Nelayan Pantura | Foto: Mongabay
info gambar

Para nelayan di pesisir pantai Utara Lamongan, memanfaatkan energi dari panas matahari dan disimpan di dalam aki. Pasalnya, aki-aki yang disetrum listrik rumahan lebih mudah rusak karena aki dipakai tiap hari. Selain itu, seringkali aki di perahu para nelayan juga dibongkar dan dipasang kembali.

Dilansir dari Mongabay, aki yang digunakan untuk menyimpan energi dari panas mentari ini dapat meresap energi matahari sebanyak 70 ampere. Pemanfaatan EBT, membuat para nelayan tidak pernah kehabisan daya untuk lampu-lampu penerangan yang dipasang di perahunya, terutama saat malam tiba.

Sebelumnya, para nelayan tergantung pada listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Aki milik para nelayan harus dicabut untuk disetrum dengan biaya sebesar Rp15 ribu sekali setrum.

Tidak hanya soal biaya, umur aki juga diperhitungkan pada penggunaannya. Daya aki yang berumur pendek lebih cepat rusak, apalagi karena sering dibongkar dan dipasang kembali.

Sejauh ini para nelayan Indonesia sudah memiliki inisiatif yang tinggi untuk menyelesaikan permasalahan terkait energi listrik yang dibutuhkan. Sudahkan Kawan bangga atas inisatif ini?*

Referensi: Direktorat Sekolah Menengah Pertama | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral | Indonesia.go.id | Mongabay

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini