Unik! Berikut 5 Tradisi Bangunkan Sahur Masyarakat Indonesia

Unik! Berikut 5 Tradisi Bangunkan Sahur Masyarakat Indonesia
info gambar utama

Warganet kembali heboh setelah munculnya update Artis dan model, Zaskia Adya Mecca. Istri dari Sutradara Hanung Bramantyo ini mengkritik cara orang membangunkan sahur.

Ia melihat cara membangunkan sahur yang ada di daerah rumahnya dengan menggunakan Toa masjid kurang baik. Baginya cara membangunkan sahur ini bisa disampaikan dengan lebih baik.

Tradisi membangunkan sahur di Indonesia bukanlah kegiatan yang asing. Bahkan di beberapa daerah sudah menjadi tradisi yang terus dipertahankan.

Walau hanya menggunakan alat-alat yang sederhana. Tradisi ini cukup semarak karena banyak melibatkan masyarakat, terutama anak-anak.

Berikut beberapa tradisi membangunkan sahur di berbagai daerah yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tradisi Ngarak Beduk

Tradisi Ngarak Bedug

Tradisi membangunkan sahur khususnya di Jakarta lebih terasa ketika kalian tinggal di pemukiman yang mayoritas berpenduduk suku asli Jakarta, yaitu Betawi. Tradisi ini lebih dikenal dengan sebutan Ngarak Beduk atau Beduk Sahur.

Dalam rombongan ini sejumlah puluhan orang peserta, baik tua muda maupun anak-anak, masyarakat sekitar tergabung dalam rombongan mengarak beduk untuk membangunkan sahur.

Menggunakan gerobak berisi beduk yang ditarik beramai-ramai, rombongan ini akan bersama-sama memukul beduk dan membunyikan genta, rebana, dan genjring. Tak lupa mereka berjoget sambil menyanyikan lagu-lagu daerah untuk membangunkan orang sahur.

Namun, ketika budaya Betawi mulai dipengaruhi oleh budaya Tiongkok, orang Betawi menambahkan petasan dalam tradisi membangunkan sahur selain menggunakan beduk.

Suara keras yang ditimbulkan petasan dapat membuat orang terkejut dan akhirnya bangun. Alasan inilah yang kemudian digunakan untuk membangunkan orang sahur saat Ramadan.

Tradisi ini memang sudah mulai berkurang belakangan ini. Setelah adanya peraturan larangan membuat gaduh di malam hari yang diatur dalam Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda Dalam KUHP, yang berbunyi:

“Dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari atau denda sebanyak-banyaknya Rp225.000 barangsiapa membuat riuh atau ingar, sehingga pada malam hari waktunya orang tidur dapat terganggu.”

2. Tradisi Koko’o Suhuru

Tradisi Koko'o Suhuru

Koko’o Suhuru atau ketuk sahur adalah tradisi membangunkan warga dengan menggunakan barang bekas dan diiringi lagu-lagu daerah. Tradisi ini masih dipertahankan oleh orang tua hingga remaja di Gorontalo.

Cara itu sudah dilakukan turun-temurun dan sudah menjadi tradisi ketika Ramadan tiba. Mereka biasanya menyanyikan lagu Hulontalo Lipu’u diiringi ketukan khas dari barang bekas, warga secara beramai-ramai menyusuri sepanjang jalan membangunkan warga untuk bersahur.

Selain menyanyikan lagu khas daerah, mereka juga menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga menciptakan lagu sendiri yang diberi judul “Menunggu Sahur”. Warga sendiri mendukung kegiatan tersebut, bahkan banyak yang mencari bila rombongan ini tidak lewat.

3. Tradisi Ubrug-ubrug

Tradisi Ubrug-ubrug

Masyarakat Kabupaten Karawang, Jawa Barat, atau tepatnya di wilayah Kecamatan Tempuran, memiliki tradisi membangunkan sahur dengan caranya sendiri. Tradisi membangunkan sahur di wilayah ini biasa disebut dengan istilah ''Ubrug-Ubrug''.

Biasanya warga akan membangunkan sahur dengan cara berkeliling kampung dengan memainkan beberapa alat musik tradisional ataupun modern dipadukan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seorang sinden.

Beberapa alat musik yang dipakai diantaranya kendang, organ, gitar, gong, serta beberapa alat musik lainnya. Biasanya, sekelompok pemuda setempat berkeliling kampung dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga menjelang waktu sahur sekitar jam 03.00 WIB

Walaupun mengeluarkan suara sangat keras, tak ada satupun warga sekitar yang merasa risih ataupun terganggu. Bahkan menurut informasi dari warga sekitar, justru bulan puasa tidak terasa afdol jika tradisi Ubrug-Ubrug hilang dari kampung mereka.

4. Tradisi Dengo-Dengo

Tradisi Dengo-dengo

Masyarakat Kota Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, memiliki tradisi membangunkan sahur yang mereka sebut ''Dengo-Dengo''. Dengo-Dengo sendiri dalam bahasa Indonesia bermakna tempat beristirahat.

Dengo-Dengo sejatinya merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter. Terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, menggunakan lantai papan dengan ukuran 3×3 meter persegi dan beratap daun sagu didirikan dengan cara gotong royong oleh warga menjelang datangnya bulan Ramadan.

Dengo-Dengo sudah hadir di Bungku sejak awal masuknya Islam sekitar abad ke-17 untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari. Bangunan ini juga dilengkapi sebuah gong, gendang, dan rebana, serta ditunggui sekitar 8 orang warga.

Hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah Dengo-Dengo. Pembangunan Dengo-Dengo ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp500 ribu untuk setiap bangunannya

Pada petang hari, Dengo-Dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu berbuka puasa. Itu sebabnya, Dengo-Dengo ini selalu ramai dengan kunjungan warga.

Sementara untuk membangunkan warga yang akan melaksakan ibadah puasa pada dini hari, sejumlah warga, umumnya para pemuda mulai berkumpul di Dengo-Dengo sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Hampir di setiap sudut jalan berdiri bangunan tinggi yang akan di bongkar usai Ramadan ini

5. Tradisi Bagarakan Sahur

Tradisi Bagarakan Sahur

Tradisi bagarakan sahur atau membangunkan orang sahur secara berkeliling komplek atau kampung masih terlihat di wilayah perkotaan di Pulau Kalimantan. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, adalah ''Bagarakan Sahur''.

Tidak ada catatan yang menyebutkan awal mula dilakukannya bagarakan ini. Namun tradisi ini sudah sejak lama berlangsung secara turun-temurun.

Sebelum Islam menyebar di Banjar, mereka sudah memiliki alat musik tradisional yakni gendang (babun) dan gong. Dahulu, alat-alat inilah yang digunakan untuk membangunkan warga berjalan kaki keliling kampung.

Sebenarnya tradisi ini, tidak jauh berbeda dengan aktivitas pemuda di daerah lain di Nusantara, terutama pada malam hari di bulan Ramadan. Biasanya di daerah hulu sungai di Kalimantan Selatan, para pemuda menggunakan perlengkapan berupa alat musik, seperti babun, agung, dan seruling.

Untuk daerah Barabai, ada juga yang melakukan Bagarakan Sahur ini menggunakan gerobak, yang ditarik oleh seekor sapi. Kemudian mereka berkeliling kampung memainkan berbagai peralatan yang dibawanya untuk membangunkan masyarakat.

Tapi saat ini, sebagian remaja dan anak-anak, gabungan laki-laki dan perempuan di Samarinda melakukan perubahan atas tradisi ini. Mereka tidak lagi berjalan kaki, namun lebih banyak mengendarai motor di jalan besar dan juga membawa pikap disertai pengeras suara, hal inilah yang membuat warga menjadi terganggu.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini