Malam Selawe, Tradisi Malam Terakhir Ramadan di Makam Sunan Giri

Malam Selawe, Tradisi Malam Terakhir Ramadan di Makam Sunan Giri
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Ramadan bulan yang suci diwarnai banyak kebaikan. Adapun suatu malam utama yang ditandakan turunnya keberkahan dan lebih baik dari malam papun. Ialah Lailatulqadar, malam-malam ganjil terakhir Ramadan yang terpaut dalam semesta. Yang pasti, aura yang dipancarkan malam itu sangat sejuk.

Adalah Malam Selawe, tradisi ibadah masyarakat Gresik yang dilakukan pada malam ke-25 Ramadan. Hampir seluruh masyarakat setempat dan pendatang memadati Jalan Sunan Giri hingga Jalan Sunan Prapen, lantaran ingin berserah diri kepada Yang Mahakuasa secara penuh dan mengharapkan kebaikan malam Lailatulqadar yang melebihi seribu malam.

Keramaian Malam Selawe tidak hanya terjadi pada beberapa tahun belakangan saja, bahkan sudah sejak zaman Sunan Giri. Menurut HU Mardiluhung, salah satu pemerhati budaya asal Gresik, tradisi Malam Selawe tersebar dari mulut ke mulut.

Ingar-bingar malam selawe

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Ada pula sumber yang menyatakan kalau tradisi Malam Selawe terjadi karena tradisi yang diberlakukan Sunan Giri, seorang wali songo yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Sunan Giri berdakwah dengan memberikan contoh perilaku yang baik. Contohnya, Sunan Giri mengajak murid-muridnya beribadah pada malam terakhir Ramadan di Masjid Jamik Sunan Giri.

Semangat tradisi itu mengental kuat di diri para santri dan masyarakat sekitar. Saking kuatnya, bahkan setelah meninggal tradisi beribadah itu masih berlangsung. Selain beribadah, para santri dan masyarakat pun berziarah ke makam Sunan Giri.

Biasanya para santri dan masyarakat bertandang pada satu hari sebelum Malam Selawe. Tidak sedikit dari mereka yang menginap di masjid supaya pada malam harinya mereka dapat membaca surat Yasin, tahlil, dan berdoa bersama.

Sekarang, tradisi Malam Selawe sedikit melenceng ke arah konsumerisme. Malam Selawe menjadi suatu acara yang terintegrasi dalam satu rangkaian kegiatan bulan Ramadan. Terdapat pembukaan pasar Malam Selawe yang mengiringi tradisi sakral itu.

Di sisi lain, mulai marak PKL yang menggelar tikar di sepanjang Jalan Sunan Giri hingga Jalan Sunan Prapen. Mereka memanfaatkan ratusan peziarah untuk mendapatkan pemasukan.

Pendatang dan beberapa masyarakat pun memilih untuk jajan dan jalan-jalan di pasar Malam Selawe. Tingginya antusiasme mereka dapat dilihat dari padatnya pasar Malam Selawe ketika sore atau malam hari.

Meskipun begitu, bukan berarti santri dan masyarakat kalap akan makna Malam Selawe. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk meresapi tradisi Malam Selawe yang diamini membawa banyak keberkahan.

Tradisi serupa

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Tidak hanya di Gresik saja, tradisi beribadah pada malam ke-25 Ramadan pun ada di daerah-daerah lain. Di Tidore, ada tradisi bernama Selo Guto. Suatu kegiatan pembakaran lilin di makam para leluhur yang dilakukan setelah salat tarawih, berlangsung selama satu hari penuh.

Ada pula tradisi Dile Jojor, yaitu penyalaan lampu yang dilakukan masyarakat Lombok pada 10 malam terakhir Ramadan. Biasanya Dile Jojor dinyalakan pasca salat magrib dan dijadikan penerangan di setiap rumah yang berada di dusun. Meskipun mulanya Dile Jojor dinyalakan untuk menerangi jalan tatkala seseorang hendak memberikan zakat fitrah.

Nah, itu dia fakta seputar tradisi Malam Selawe. Apakah di daerah Kawan GNFI ada tradisi serupa?

Referensi: detik.com | gresik.info | Kompas | Kumparan | inibaru.id

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini