Disegani Dunia, Sejarah Kapal Selam Indonesia yang Tabah Sampai Akhir

Disegani Dunia, Sejarah Kapal Selam Indonesia yang Tabah Sampai Akhir
info gambar utama

Setelah pencarian lebih dari 72 jam, kapal selam KRI Nanggala 402 akhirnya ditemukan. Kapal selam yang berasal dari Jerman ini ditemukan dengan kondisi terbelah menjadi tiga bagian.

Penemuan ini bermula dari KRI Rigel yang menggunakan multibeam echo sounder di sekitar lokasi pencarian pada kedalaman 800 meter. Sementara itu, 53 awak kapal selam KRI Nanggala telah gugur.

"Berdasarkan bukti-bukti autentik tersebut dapat dinyatakan bahwa KRI Nanggala 402 telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur," ujar Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat konferensi pers Minggu (25/4).

"Saya nyatakan seluruh personel telah gugur," tambah dia.

KRI Nanggala 402, adalah salah satu dari lima kapal selam yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Selain Nanggala, ada KRI Cakra-401, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadeli-404, dan KRI Alugoro-405.

KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 merupakan kapal selam tipe 209 buatan galangan Howaldt Deutsche Werke (HDW), Kiel, Jerman Barat. Kedua kapal tersebut dipesan Pemerintah Orde Baru tahun 1977 dan masuk jajaran armada TNI AL tahun 1981.

Dua kapal selam ini telah ikut menjaga perairan Indonesia selama 40 tahun. Pada perjalanan tugasnya, kedua kapal ini telah menjalani perbaikan besar. Pada tahun 2006 dan 2011, di Korea Selatan.

Sementara itu tiga kapal selam lainnya merupakan merupakan pengadaan baru tahun 2017-2018. KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404, buatan Korea Selatan. Sedangkan KRI Alugoro-405, adalah hasil produksi bersama yang dibuat di PT PAL dengan transfer teknologi dari Korea Selatan.

Sebagai negara maritim, pengoperasian kapal selam merupakan langkah politik yang strategis. Karena itulah keberadaan kapal selam sebagai alutsista RI sudah menjadi sejarah panjang TNI AL.

Kapal selam Indonesia yang disegani

Seperti yang diketahui KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 adalah dua kapal selam pengganti kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet, yaitu RI Tjakra SS-01 dan RI Nanggala SS-02, yang sudah dipensiunkan. Kapal selam buatan negeri Beruang Merah ini telah mengukir banyak sejarah di laut Indonesia.

Pada dasawarsa 1960-an, Indonesia adalah salah satu negara yang telah mengoperasikan kapal selam, bahkan sampai 12 armada. Praktis hal itu membuat Indonesia negara dengan kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara.

“Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal selam dengan dua kapal selam Whiskey yang dibeli dari Uni Soviet melalui Polandia pada 1959, RI Tjakra (S-01) dan RI Nanggala (S-02). Baru tahun 1962 sepuluh kapal selam kelas Whiskey menyusul seiring modernisasi TNI AL sepanjang 1950-1960-an,” ungkap Collin Koh Swee Lean, peneliti studi pertahanan dari Nanyang Technological University, Singapura, dalam bukunya Naval Modernisation in Southeast Asia, Part Two.

Ke-12 kapal itu di antaranya adalah RI Nagabanda, RI Trisula, RI Nagarangsang, RI Tjandrasa, RI Alugoro, RI Tjumandani, RI Widjajadanu, RI Pasopati, RI Hendrajala, RI Barmastara. Semua nama diambil dari pusaka sakti milik para tokoh satria Mahabarata dalam cerita pewayangan.

Kesemua kapal selam ini hadir seiring dengan kampanye Trikora untuk merebut Irian Barat dari penguasaan Belanda. Kedatangan 12 kapal selam tersebut langsung diterjunkan dalam Operasi Jayawijaya yang merupakan bagian dari kampanye tersebut.

Salah satu keberhasilannya adalah mendaratkan 15 anggota pasukan khusus RPKAD di Tanah Merah, sekitar 30 kilometer dari Bandara Sentani. Pada perkembangannya Belanda pun memilih menghindari perang terbuka dan menyerahkan Irian Barat ke Indonesia.

Keberadaan kapal selam ini tidak lepas dari lobi hebat Presiden Pertama RI, Soekarno. Saat itu, Indonesia mampu menyakinkan Uni Soviet untuk pengadaan kapal selam jenis Whiskey-Class yang tergolong memiliki teknologi canggih.

Padahal saat itu kondisi ekonomi yang terbatas, dan politik sedang hiruk pikuk. Di sisi lain, seluruh armada perang tersebut merupakan pinjaman lunak Uni Sovyet kepada Indonesia

Tentunya dengan kehadiran 12 kapal selam, dua kapal induk kapal selam, dua kapal penangkap torpedo, dan satu kapal penyelamat dalam komando jenis kapal selam itu, menjadikan Angkatan Laut RI kian berwibawa.

Menyelam dan tabah sampai akhir

Wira Ananta Rudira, merupakan motto kapal selam Indonesia yang menyimpan kisah perjuangan. Hal ini tidak lepas dari pidato Presiden Soekarno di atas kapal selam KRI Tjandrasa pada 6 Oktober 1966.

Melansir dari Harian Kompas, kala itu kapal selam sedang berlabuh di dermaga Tanjung Priok, Jakarta.

Pidato yang cukup menggebu-gebu itupun menandakan gelombang semangat perjuangan prajurit TNI AL kala itu.

"Sekali menyelam, maju terus - tiada jalan untuk timbul, sebelum menang. Tabah sampai akhir"

Memang hampir semua penugasan kapal selam jauh dari publikasi. Hal ini merupakan karakteristik operasi kapal selam berikut awaknya, yaitu senyap dan tidak diketahui keberadaanya.

KRI Nanggala 402 yang kini telah dinyatakan tenggelam pun memiliki kisah senyap pengoperasiannya. Salah satu yang tercatat adalah perannya sebagai ujung tombak saat terjadi konflik dengan Angkatan Laut Malaysia di Blok Ambalat yang kaya migas.

Kapal selam Indonesia pertama kali bertugas dalam Operasi Cakra ke Irian Jaya pada tanggal 28 Juli 1962. Operasi lainnya adalah operasi di Timor Timur, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Samudera Hindia.

Kapal selam Indonesia generasi 1960-an memang telah dilengkapi peluru kendali, mirip rudal Polaris, seperti yang dimiliki kapal-kapal selam modern Angkatan Laut Amerika Serikat. Kondisi seperti ini tentu membuat negara lain lebih berhati-hati jika harus berurusan dengan Indonesia.

Pada kepal selam generasi terbaru, fasilitas yang tersedia lebih modern dan nyaman. Ruang kabin sudah dipasangi penyejuk udara (AC) sehingga para awak kapal tidak lagi kepanasan seperti ketika mengoperasikan Whiskey-Class.

Sementara itu senjata torpedo yang dipanggul kapal selam generasi sekarang adalah buatan PT Dirgantara Indonesia. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa tingkat akurasi torpedo SUT (Surface Underwater Target) buatan Indonesia mencapai 100 persen.

Keberadaan kapal selam diharapkan bisa menambah kewibawaan Indonesia di mata dunia. Selain itu untuk menjaga wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala ancaman.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini