6 Kunci Menjadi Pemimpin yang Inklusif

6 Kunci Menjadi Pemimpin yang Inklusif
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Berbicara tentang kepemimpinan, tentu tidak akan ada habisnya. Mengingat konteks pembahasannya yang luas dan beragam. Ilmu tentang kepemimpinan akan terus mengalami pembaruan, bergantung pada kebutuhan dan pengalaman zaman.

Salah satu topik kepemimpinan yang sering dibicarakan adalah kepemimpinan inklusif. Mengutip resources.workable, jenis kepemimpinan ini tak lain adalah kemampuan dalam mengelola sekelompok orang yang heterogen. Kepemimpinan inklusif termasuk dalam kepemimpinan otentik, lantaran memandang istimewa tiap anggota kelompok, tanpa memikirkan perbedaan warna kulit, ras, dan budaya.

Alhasil, kepemimpinan inklusif membantu menyeimbangkan tuntutan kerja dengan kebutuhan anggota yang dipimpinnya. Kerja sama dilakukan secara kolaboratif, semua anggota dilibatkan dalam kerja bersama. Seluruh anggota kelompok merasa diperlakukan secara adil, dimiliki, dan terinspirasi.

Kolaborasi atas dasar rasa empati ini, tak dimungkiri dapat memberikan hasil terbaik bagi kelompok. Setali tiga uang, Bourke dan Titus (2019) menyebutkan kalau pemimpin inklusif meningkatkan kualitas keputusan sebesar 20 persen, aksi kolaboratif sebesar 29 persen, dan kehadiran anggota sebesar 10persen.

Efek dominonya, kepemimpinan inklusif dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam internal kelompok. Dilansir dari Center for Creative Leadership (2020), kepemimpinan inklusif bisa menghindarkan kelompok dari kemungkinan tokenisme, asimilasi, dan dehumanisasi. Kelompok akan menjelma suatu unit yang solid, berkembang, dan terus berekspansi. Berikut beberapa kunci untuk menjadi pemimpin yang inklusif.

1. Komitmen yang kuat

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Lingkungan kerja yang beragam tetapi inklusif membutuhkan waktu dan energi, ketimbang sekadar memberikan instruksi kepada anggota. Namun, hasil kerja yang dicapai biasanya sangat luar biasa, bahkan melebihi target kerja yang dicanangkan.

Tentu kondisi ideal ini hanya bisa dilakukan oleh pemimpin inklusif. Biasanya, pemimpin inklusif memiliki komitmen yang kuat dalam memimpin orang-orang dengan latar belakang yang berbeda.

Bagi mereka, memimpin orang-orang yang berbeda bukanlah beban. Malah, kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang untuk kebaikan dan masa depan kelompok.

2. Berani

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Pemimpin inklusif adalah mereka yang berani melawan arus kaku kelompok. Para pemimpin ini sangat menolak homogenitas berpendapat, karena dapat melemahkan gerak kelompok. Selain itu, pemimpin inklusif juga berani mengakui kalau mereka tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang diberikan orang-orang kepada dirinya.

3. Cermat memilah

Caption
info gambar

Pemimpin inklusif adalah pribadi yang menyadari bahwa bias pribadi dan kelompok dapat menghalangi mereka dalam membuat keputusan yang objektif dan komprehensif. Mereka akan sekuat tenaga mengenali, mempelajari, dan mencegah bias-bias yang akan menghancurkan kebaikan bersama.

4. Punya rasa penasaran yang tinggi

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Seorang pemimpin inklusif adalah mereka yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Bagi mereka, ide-ide berbeda adalah sarana untuk belajar dan mengembangkan diri. Perspektif dan pendapat anggota kelompok meningkatkan kematangan pemimpin inklusif dalam mengambil keputusan.

Keputusan yang diambil pemimpin inklusif membuat anggota kelompok merasa diwakili, dihargai, dan dihormati. Arus dan sistem kerja pun dapat berjalan secara efektif dan efisien, tanpa ada bias pandangan atau miskomunikasi.

5. Memiliki Cultural Intelligence yang mumpuni

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh pemimpin inklusif yang ekstrovert, suka baca buku, dan mudah berbaur dengan siapapun. Ketika dibenturkan pada lingkungan lokal yang berbeda, pemimpin inklusif ini akan menyesuaikan gaya bahasa dan perilaku dengan budaya setempat. Selain itu, mereka akan memahami bagaimana budaya sangat mempengaruhi perspektif dan pendapat anggota kelompoknya.

6. Senang berkolaborasi

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Pemimpin inklusif sangat menyadari bagaimana partisipasi anggota kelompoknya sangat mempengaruhi keberhasilan kelompok. Ketidakhadiran dan keengganan anggota untuk aktif dalam kelompok merupakan hal yang sangat ditakutkan para pemimpin inklusif.

Oleh karena itu, pemimpin inklusif akan menciptakan ekosistem yang positif, di mana seluruh anggota dapat berekspresi secara bebas. Mereka akan membuat kelompok dengan komposisi yang seimbang, dengan memperhatikan simpul merah antar anggota. Serta mencegah kemungkinan terjadinya konflik yang membahayakan masa depan kelompok.

Tentu untuk menjadi pemimpin inklusif tidak bisa secepat membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang dalam untuk bisa menjadi pemimpin inklusif.

Adapun beberapa cara meningkatkan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan inklusif. Di antaranya dapat mencari tahu penghambat kepemimpinan inklusif dengan meminta feedback ke anggota-anggota kelompok, memastikan dampak kepemimpinan Kawan GNFI tidak membuat anggota merasa buruk, mengikuti pelatihan kepemimpinan, dan mencari mentor.

Itulah beberapa kunci dan cara menjadi pemimpin yang inklusif. Apakah Kawan GNFI termasuk pemimpin inklusif? Apa pun jawabannya, semoga Kawan GNFI dapat menjadi pemimpin inklusi dan menginspirasi orang-orang.

Referensi: Center for Creative Leadership | Deloitte | Harvard Business Review | Workable

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini