Menyelisik Uniknya Ritual Pertanian di 3 Daerah Indonesia

Menyelisik Uniknya Ritual Pertanian di 3 Daerah Indonesia
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

Indonesia adalah negara yang memiliki kondisi pertanian paling kompleks se-Asia tenggara. Sejalan dengan kebudayaan Indonesia yang beragam, hal ini menjadikan beberapa daerah di Indonesia masih merayakan ritual pertanian.

Dilansir dari Balai Penelitian Tanah BALITBANGTAN-Kementerian Pertanian, pertanian adalah salah satu sektor yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dengan begitu, menjaga ketahanan pangan suatu negara sangat diperlukan agar sektor pertanian tidak terancam.

Beberapa daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Kebumen, dan Kalimantan Barat memiliki tradisi tanam padi yang cukup unik. Menurut Kompas.com sebagian besar dari tradisi ini dirayakan karena Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan memiliki banyak sumber daya alam (SDA).

Indonesia sebagai negara agraris, berarti Indonesia memiliki penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani atau bercocok tanam. Indonesia juga kaya dengan SDA-nya, baik di darat maupun di perairan.

1. Ritual ungkapan rasa syukur kepada Dewi Sri di Yogyakarta

Dewi Sri | Foto: Kumparan
info gambar

Para petani di Yogyakarta melakukan upacara ritual kepada Sang Penguasa Alam sebagai ungkapan rasa syukur. Ritual ini seringkali dihubungkan dengan penghormatan kepada Dewi Sri.

Dilansir dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta, Dewi Sri dianggap sebagai dewi kesuburan. Masyarakat petani percaya bahwa Dewi Sri hadir dalam wujud biji padi yang ditanam di tanah, kemudian bertemu dengan Dewa Wisnu dalam wujud air.

Lalu, pertemuan antara biji padi dan air melahirkan kehidupan. Pertemuan ini dianalogikan bagaikan pertemuan antara semen dan ovu. Kepercayaan ini, membuat para petani di Yogyakarta merasa bahwa padi adalah tanaman yang istimewa.

Ritual ungkapan rasa syukur kepada Dewi Sri dibagi menjadi tiga tahap, yaitu menabur benih, pada waktu perawatan dan pada siklus-siklus sesudahnya hingga saat padi dituai.

Tahap menabur benih umumnya dilakukan oleh laki-laki. Pertama-tama mereka akan menanam sembilan butir gabah. Satu butir diletakkan di tengah dan delapan butir ditanam di delapan penjuru mata angin.

Tahap pada waktu perawatan dan pada siklus-siklus sesudahnya, dibagi menjadi waktu tandur (tanam) dan meteng (bunting). Pada waktu tanam, kelengkapan yang dibutuhkan ialah jenang pethak (bubur putih), pisang kluthuk, kinang (kapur-sirih), dan bunga.

Sementara pada waktu padi mulai meteng (bunting), kelengkapan yang dibutuhkan adalah bubur putih atau telur yang diletakkan di tulakan. Jika sudah, maka padi akan dituai.

2. Tradisi Wiwitan tanam padi di Kebumen

Tradisi Wiwitan | Foto: Bernas News
info gambar

Menurut Bernas News, tradisi wiwitan tanam padi telah dilaksanakan secara turun temurun. Upacara ini dilakukan oleh kepala desa di Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Tradisi ini juga ditujukan sebagai kegiatan untuk nguri-uri atau melestarikan budaya. Selain itu, tradisi wiwitan juga ditujukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan keselamatan kepada petani dan agar padi dapat selalu tumbuh dengan subur.

Keperluan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tradisi wiwitan disebut uba rampe. Uba rampe terdiri dari ingkung bakar (masakan ayam), tumpeng, tiga macam pisang, dan berbagai macam minuman dari minuman rasa pahit hingga manis.

Wedang cembawuk adalah salah satu minuman yang selalu ada untuk melengkapi tradisi wiwitan. Wedang ini adalah wedang khas Kebumen yang dibuat dari santan kelapa. Selain itu juga ada, jenang merah putih dan aneka jajanan pasar lainnya.

3. Nyobeng di Kalimantan Barat

Tradisi Nyobeng | CNN Indonesia
info gambar

Melansir laman CNN Indonesia, nyobeng adalah ritual penghormatan kepada tengkorak. Nyobeng berasal dari kata "Nibakng" yang merupakan ritual adat ucapan syukur atas panen berlimpah dan ritual memandikan kepala hasil ngayau (memotong kepala musuh) dulu.

Ritual ini dilakukan oleh Suku Dayak Bidayuh. Dalam ritual ini, Suku Dayak Bidayuh akan membersihkan tengkorak dengan upacara adat. Tengkorak manusia adalah lambang dari harga diri dan pelindung desa.

Roh tengkorak dipercaya mampu menghalau hama penyakit, mendatangkan hujan, serta menghindari desa dari bahaya. Ritual nyobeng sangat dinanti oleh Suku Dayak karena bagi mereka, bertani adalah satu-satunya cara agar dapat melestarikan kearifan lokal dan upaya utama penghidupan.

Ritual ini dimulai dengan upacara penyambutan, setelah itu tengkorak akan disimpan di atas bambu yang ada di sebelah balug (rumah adat). Kemudian, masyarakat yang ditunjuk sebagai pejuang akan memanjat bambu dengan posisi terbalik untuk menunjukkan kekuatan mereka.

Ritual pertanian yang dilakukan di Yogyakarta, Kebumen, dan Kalimantan Barat sebagian besar ditujukan sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan sikap menghargai alam terutama pada sektor pertanian. Sudahkah Kawan menghargai alam hari ini?*

Referensi:CNN Indonesia| BALITBANGTAN | Bernas News | Mongabay

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini