Sayonara Resesi, Ekonomi Indonesia Akan Kembali Bangkit

Sayonara Resesi, Ekonomi Indonesia Akan Kembali Bangkit
info gambar utama

Sebelum adanya pandemi covid-19, banyak lembaga dunia memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh cemerlang sepanjang 2020.

Misalnya IMF dan World Bank, kedua lembaga tersebut memproyeksi ekonomi Indonesia akan tumbuh di atas 5 persen pada 2020. Catatan itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di antara negara G-20.

Indonesia dikala resesi

Setelah dihantam kontraksi selama 3 kuartal, Indonesia akhirnya terjerumus ke jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat -2,07% secara year on year (yoy) pada 2020. © GNFI
info gambar

Pandemi mematahkan semua proyeksi lembaga dunia. Awal Maret 2020, kala kasus covid-19 pertama kali diumumkan di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Kuartal I 2020, ekonomi RI hanya tumbuh 2,41 pesren. Meskipun masih tumbuh positif, namun angkanya masih jauh dari harapan, bahkan menjadi yang terendah dalam 10 tahun terakhir.

Kuartal II 2020 menjadi catatan yang lebih parah, pelaku industri banyak yang kolaps, masyarakat banyak yang terdampak, beberapa di antaranya mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Indonesia secara resmi jatuh ke lubang krisis. Pertumbuhan ekonomi RI terjun ke angka -5,32 persen.

Seiring diterapkannya paket kebijakan untuk memerangi covid-19, ekonomi RI perlahan membaik. Namun tetap saja belum keluar dari cengkraman krisis. Pada Kuartal III 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terkoreksi -3,49 persen.

Begitupun pada Kuartal IV 2020, ekonomi Indonesia masih berada di zona minus. Pertumbuhannya mencatatkan angka -2,19 persen, sedikit lebih baik dari catatan Kuartal III 2020.

Setelah dihantam kontraksi selama 3 Kuartal, Indonesia akhirnya terjerumus ke jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat -2,07 persen secara year on year (yoy) pada 2020. Angka tersebut menjadi yang terburuk sejak krisis moneter tahun 1998 silam.

Baca Juga: Jatuh Bangun Indonesia, Menuju Negara Berpenghasilan Tinggi

Ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh

ADB memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 4.5% pada 2021, kemudian meningkat menjadi 5% pada 2022. © GNFI
info gambar

Meski masih di area minus, namun Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan bahwa Indonesia menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah ke zona positif.

Kabar baiknya, mulai tahun ini ekonomi Indonesia diproyeksi akan kembali tumbuh. Hal itu berdasarkan laporan dari Asian Development Outlook (28/04/2021) yang dirilis oleh Asian Development Bank (ADB).

Dalam laporan tersebut, ADB memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 4,5 persen pada 2021.

Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein, mengatakan, sepanjang 2020 Indonesia telah melewati masa krisis akibat pandemi dengan respon yang cukup baik. Dengan anggaran pemulihan yang cukup besar, ia optimis mulai 2021 ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh.

“Meskipun terjadi krisis yang tak terduga akibat penyakit virus korona (COVID-19), Indonesia melewati tahun 2020 dengan baik berkat respon krisis yang dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan rapi, dan kepemimpinan yang kuat dalam menanggulangi pandemi,” kata Wicklein.

“Dengan pulihnya perdagangan secara kontinu, kebangkitan sektor manufaktur, dan anggaran pemulihan ekonomi nasional yang besar untuk 2021, kami optimis Indonesia akan kembali ke jalur pertumbuhannya tahun depan,” tambahnya.

Tidak hanya meningkat pada 2021, lebih jauh Senior Economist of ADB, James Villafuerta, menambahkan, ekonomi RI diproyeksi kembali tumbuh, naik menjadi 5% pada 2022.

“Pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada 2022 diperkirakan mencapai 5 persen. Asumsi yang memperkuat terjadinya tingkat pertumbuahan ekonomi di Indonesia pada 2022, yakni adanya upaya pemulihan kondisi global dengan cara melakukan pembukaan secara bertahap pada perekonominan Indonesia". Ungkapnya.

Angin segar itu datang seolah memberi harapan bagi Indonesia. Kehadiran vaksin Covid-19 juga menjadi salah satu hal yang dapat mengubah keadaan dunia, termasuk Indonesia, dari berbagai krisis yang terjadi sepanjang tahun 2020.

Seiring berjalannya program vaksinasi dan makin banyak bidang perekonomian yang kembali dibuka, pengeluaran rumah tangga di Indonesia diperkirakan akan meningkat sepanjang 2021.

Tidak hanya itu, gelontoran dana investasi juga diprediksi akan melonjak bersamaan dengan membaiknya prospek ekonomi. Terbukti, baru-baru ini pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) telah menyepakati rencana investasi senilai Rp144 triliun melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia yang dikelola Indonesia Investment Authority.

Baca juga: Lampaui Arab dan Turki, Ekonomi Indonesia Jadi yang Terbesar di Antara Negara OKI

Bangkitnya sektor manufaktur dan membaiknya kinerja ekspor Indonesia

Bangkitnya sektor manufaktur serta membaiknya kinerja ekspor juga menjadi faktor utama meingkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. © Asian Development Bank (ADB)
info gambar

Bangkitnya sektor manufaktur serta membaiknya kinerja ekspor juga menjadi faktor utama meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data CEIC Company yang dikutip dari ADB, pada awal 2021, Purchasing Manager Index (PMI) sektor manufaktur Indonesia berada di level tertinggi sejak 2019.

“Indonesia mengalami peningkatan kegiatan manufaktur dan pertumbuhan ekspor pada akhir 2020, Dengan pulihnya perdagangan secara berkelanjutan, adanya kebangkitan sektor manufaktur, dan anggaran pemulihan ekonomi nasional yang besar untuk 2021 kami optimis Indonesia akan kembali ke jalur pertumbuhannya tahun depan.” Kata Wicklein.

Kinerja ekspor Indonesia juga tak kalah mentereng, berdasarkan laporan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Januari 2021 ekspor Indonesia tumbuh sebesar 12,24 persen year on year (yoy) dengan nilai 15,30 miliar dolar AS.

Satu bulan kemudian, ekspor Indonesia masih menunjukan catatan positif. Ekpor RI tumbuh sebesar 8,56 persen yoy dengan nilai 15,27 miliar dolar AS. Lalu pada bulan Maret 2021, ekspor Indonesia kembali tumbuh 20,31 persen yoy dengan nilai 18,35 miliar dolar AS.

Sumber Referensi: Asian Development Bank (ADB) | Badan Pusat Statistik (BPS) RI | CEIC Company | Internationak Monetery Fund (IMF)

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini