Ketimbang Beli Rumah, Masyarakat Indonesia Lebih Suka Bangun Huniannya Sendiri

Ketimbang Beli Rumah, Masyarakat Indonesia Lebih Suka Bangun Huniannya Sendiri
info gambar utama

Kawan GNFI, rumah menjadi salah satu kebutuhan primer selain sandang dan pangan. Rumah berfungsi sebagai tempat berlindung bagi penghuni dari gangguan cuaca, serta jadi tempat berpulang berkumpul dengan keluarga.

Di Indonesia, 57 juta masyarakat yang telah berumah tangga lebih memilih membangun rumahnya sendiri ketimbang membelinya dari pihak developer atau pengembang. Hal ini sebagaimana yang tercatat dalam laporan ”Statistik Perumahan dan Permukiman 2019” yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS).

80 persen masyarakat Indonesia membangun huniannya sendiri

80% masyarakat Indonesia yang telah berumah tangga memilih membangun huniannya sendiri ketimbang membelinnya dari pengembang © Arsitur studio
info gambar

Metode membangun hunian sendiri mendapat persentase lebih besar, yakni 80 persen dibandingkan dengan membelinya dari pihak pengembang atau bukan pengembang. Rumah hasil dari warisan, hibah, dan lainnya juga mencatat persentase rendah yang bahkan tidak sampai menyetuh angka puluhan.

Tingginya persentase kepemilikan rumah yang dibangun sendiri, lantas disahut oleh Senior Vice President Head of Securitization & Government Assignments PT Sarana Multigriya Finansial, Sid Kumara karena dua alasan, yakni.

Pertama, mereka yang telah berumah tangga memiliki dana cukup untuk membangun rumah. Kedua, keluarga yang sudah memiliki tanah sendiri. “Kalau di Indonesia, tanah diwariskan. Banyak keluarga baru yang sudah memiliki tanah, tinggal membangun rumahnya,” kata Kusuma kepada Lokadata.id, Jumat (6/11).

Faktor tingginya biaya perumahan karena jumlah penduduk yang semakin bertambah namun tak seiring dengan luas tanah yang tersedia, menjadi pemicu masyarakat berumah tangga akhirnya memilih memanfaatkan tanah hasil warisan untuk mendirikan bangunan sendiri.

Selain mengurangi budget, kepuasan lain yang didapat si penghuni rumah, yakni ia dapat menentukan konsep rumahnya sendiri mulai dari ukuran, desain interior sampai kepada rancangan detail ruangan.

NTT tertinggi, DKI Jakarta terendah

Tingkat kepemilikan rumah yang dibangun sendiri menurut provinsi di Indonesia © Lokadata
info gambar

Dilansir dari laporan Statistik Perumahan dan Permukiman 2019 yang dipublikasikan BPS, seperti yang dikutp dari Lokadata.id, tingkat kepemilikan rumah yang dibangun sendiri tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencatat angka 93 persen.

Sedangkan kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang, dari pengembang, rumah hasil warisan, hibah dan lainnya mencatatkan angka 1% dari total 1 juta rumah tangga yang memiliki hunian.

Masih dari wilayah Indonesia bagian timur, Maluku Utara menempati posisi kedua sebagai provinsi yang 91% masyarakat rumah tangganya membangun hunian sendiri.

Kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang mencatat angka 2 persen, dari pengembang 1 persen, rumah hasil warisan, hibah, dan lainnya mencatat angka 2 persen dari total 227 ribu rumah tangga yang memiliki hunian.

Selanjutnya, Maluku menempati posisi ketiga sebagai provinsi yang 90persen masyarakat rumah tangganya membangun hunian sendiri.

Adapun kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang mencatat angka 4 persen, dari pengembang 3 persen, rumah hasil warisan, hibah, dan lainnya mencatat angka 4 persen dari total 305 ribu rumah tangga yang memiliki hunian.

Kemudian Provinsi Papua menempati posisi keempat dengan persentase mencapai 88 persen. Kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang, dari pengembang, rumah hasil warisan, hibah, dan lainnya mencatat angka 1 persen dari total 733 ribu rumah tangga yang memiliki hunian.

Posisi kelima ditempati Sulawesi Tenggara, sama halnya dengan Papua, persentase yang dicatat Sulteng mencapai 88 persen.

Sedangkan kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang mencatatkan angka 5%, dari pengembang 3 persen, rumah hasil warisan, hibah, dan lainnya mencatat angka 5% dari total 541 ribu rumah tangga yang memiliki hunian.

Sementara tingkat kepemilikan rumah yang dibangun sendiri terendah ada di Provinsi DKI Jakarta yang mencatat angka 52 persen. Faktor tingginya harga lahan menjadi penyebab utama rendahnya persentase DKI Jakarta.

Adapun kepemilikan rumah dengan metode membeli dari bukan pengembang mencatat angka18%, dari pengembang 8% rumah hasil warisan, hibah dan lainnya mencatatkan angka 22 persen dari total 1,4 juta rumah tangga yang memiliki hunian.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini