Mengenal Thorium, Nuklir Hijau asal Bangka Belitung yang Diincar Perusahaan AS

Mengenal Thorium, Nuklir Hijau asal Bangka Belitung yang Diincar Perusahaan AS
info gambar utama

Perusahaan dari Amerika Serikat, ThorCon International Pte. Ltd disebut sangat mengincar Thorium, mineral yang banyak terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Perusahan tersebut bakal melakukan feasibility study dan study tapak di Provinsi Babel.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan ThorCon International, Bob Soelaiman Effendi seusai bertemu Gubernur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Selasa (20/4/2021), demikian kabar yang dikutip dari Bangkapos.

Pada pertemuan itu, Bob tak sendiri. Bersamanya turut serta bersama dengan Government Relation Manager ThorCon International Dhita Ashari dan CEO ThorCon Internasional David Devanney.

Thorium sendiri kerap disebut sebagai nuklir hijau. Hal ini karena thorium dianggap lebih ramah lingkungan ketimbang uranium, namun energi yang dihasilkan jauh lebih dahsyat.

Thorium merupakan salah satu jenis nuklir di samping uranium. Namun, limbah radioaktif yang dihasilkan torium jauh lebih rendah daripada uranium.

Pakar Teknologi Nuklir dan Pengolahan Bahan Mineral alumni S2 Universitas Gadjah Mada, Akbar Yulandra, menjelaskan bahwa thorium adalah unsur radioaktif dengan nomor atom 90 dengan isotop paling stabil yaitu 232 (Th-232).

Hasil penelitan Batan 2009, sumber daya hipotek berdasarkan luas pelamparan aluvial di seluruh Babel, jumlah potensi Thorium mencapai 120 ribu ton. Potensi inilah yang dipaparkan Distamben Babel bersama Gubernur Erzaldi saat bertemu PT Indonesia Power, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Potensi besar nuklir hijau

Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element merupakan 17 unsur tambang paling langka yang ada di muka bumi. Unsur-unsur ini menjadi sulit didapatkan karena tingkat konsentrasi endapannya yang rendah.

Hal inilah yang membuat keberadaannya kerap tersebar secara acak di permukaan bumi, tidak seperti unsur atau mineral tambang lainnya seperti nikel, timah, dan emas.

LTJ kerap ditemukan sebagai material bawaan pada material tambang tertentu. Salah satu contohnya adalah thorium (Th) yang sering ditemukan pada galian timah di Kepulauan Bangka dan Belitung.

Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) mengatakan bahwa thorium banyak dijumpai di Indonesia dalam bentuk mineral monasit yang berasosiasi dengan endapan timah. Saat ini, jumlah cadangan thorium dunia diperkirakan mencapai 6.355.000 ton.

Dari 16 negara di dunia yang memiliki cadangan thorium tinggi, India menempati posisi teratas dengan cadangan sebesar 846.000 ton. Data penelitian tahun 2015 mencatat jika terdapat cadangan thorium hingga sebesar 130.974 ton di tanah air.

Selain di Kepulauan Babel, potensi thorium Indonesia juga terdapat di Pulau Singkep, Kalimantan Barat dan Mamuju. potensi Thorium Ini pun dianggap jauh lebih mahal daripada timah.

Menurut data Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan, potensi Thorium di Bangka Belitung saja sekitar 170 ribu ton.

Kandungan itu dihitung berdasarkan penghitungan 6-7 persen kandungan Thorium jika memurnikan 2.734.657 ton total Monazite dari PT Timah Tbk, perusahaan swasta, PT Kobatin, dan yang tersebar dan terkumpul di masyarakat di Babel.

"Mineral ini kalau sudah di-ekstrak, harganya bukan lagi kayak timah. Satu kilo saja harganya mungkin Rp 35 juta sampai Rp 50 juta. Ini sangat jauh lebih mahal daripada timah," kata Plt. Kepala Distamben Babel, Rusbani dalam Bangkapos, Jumat (12/4/2019).

Memulai industri masa depan

PT Timah Tbk mulai menambang uranium dan thorium di lokasi tambang yang berada di Kepulauan Bangka Belitung.

Menukil Kontan, Direktur Utama PT Timah Tbk, Mochtar Riza Pahlevi Tabrani, mengatakan bahwa Indonesia memulai babak baru sebagai salah satu produsen logam tanah jarang yang selama ini dikuasai Cina.

"Industri ini merupakan industri masa depan dan sudah seharusnya Indonesia memanfaatkan dan memaksimalkan potensi dan berkah yang luar biasa,” kata Riza, Agustus 2019 lalu.

PT Timah Tbk telah menjalin kesepakatan dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) supaya bisa merealisasikan pengelolaan LTJ atau mineral ikutan timah itu. Menurut Riza, pihaknya juga siap bekerja sama dengan BATAN dalam proyek-proyek strategis khususnya yang berkaitan dalam pengolahan bahan-bahan terebut.

“Kami yakin BATAN sudah sangat expert dan leading dalam hal teknologi ini. Kami harapkan kerja sama yang telah dilakuan dapat menciptakan energi murah dan ramah lingkungan di Indonesia, dengan pemanfaatan mineral-mineral tadi,” ujar Riza.

Ke depan, thorium akan dimanfaatkan dan digunakan untuk menggantikan penggunaan batu bara. Dari segi ekonomi, dengan adanya PLTT di Babel juga akan berpotensi menurunkan tarif listrik, dan ini membawa dampak positif bagi industri elektronik berbasis IT.

"Saat ini kami sedang mengarah kepada pengelolaan Logam Tanah Jarang (LTJ), untuk itu thorium harus dimanfaatkan menjadi bahan bakar," kata Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2020), mengutip Kompas.

Walau begitu Indonesia perlu bersabar untuk debut Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT), hal ini karena pengelolaan thorium menjadi energi listrik melibatkan proses yang rumit. BATAN meramalkan Indonesia akan membutuhkan waktu setidaknya 30 tahun sebelum benar-benar bisa mengelola PLTT secara komersial.

Hingga sekarang belum ada PLTT yang beroperasi secara komersial di dunia. Jika dapat merealisasikannya, maka Indonesia bukan hanya akan memiliki PLTT pertama di dunia, tetapi juga berpotensi menjadi pusat kajian dan pengembangan pemanfaatan thorium sebagai sumber energi alternatif.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini