Desas-Desus Petrus, Saat Orang Hapus Tato Agar Tak Ditembak

Desas-Desus Petrus, Saat Orang Hapus Tato Agar Tak Ditembak
info gambar utama

Sekitar 100 peserta mengikuti program hapus tato gratis di Masjid Baitul Muhyi, Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Kamis (29/4/2021). Mengusung tema “Bersih Sehat Sambut Ramadhan”, kegiatan ini diharapkan dapat membantu warga DKI Jakarta menjalankan puasa dengan hikmat.

Program penghapusan tato gratis ini diselenggarakan oleh Baziz Baznas DKI Jakarta dan Pemkot Jakarta Timur. Hal ini menurut Ketua Baznas DKI Jakarta, KH Lutfi Fathullah, adalah bentuk kepedulian sosial dalam memaknai bulan Ramadan tahun 1442 Hijriah.

Ketua Baznas Bazis DKI Jakarta KH Lutfi Fathullah mengatakan banyaknya peserta kegiatan hapus tato ini menunjukkan adanya kemauan warga merubah arah hidupnya menjadi lebih baik.

"Hapus tato ini menunjukkan bahwa mereka ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Yang penting jangan ada pemaksaan, harus dari nawaitu yang bersangkutan ya, karena ini adalah salah satu langkah untuk berubah ke yang lebih baik," kata Kyai Lutfi dalam Tribunnews, Jum'at (30/4).

Menurut informasi dari panitia, antusiasme warga untuk mengikuti program ini cukup tinggi. Pada Selasa (20/4), sudah ada sekitar 350 peserta yang mendaftar. Program ini sangat penting bagi warga yang sudah terlanjur memiliki tato di tubuhnya. Mengingat, menghapus tato bukanlah perkara yang mudah.

Selain biaya yang mahal, rasa sakit yang akan dirasakan selama proses penghapusan mereka harus menerima konsekuensi rasa panas bak terbakar selama proses menghapus tato. Begitu juga kondisi kulit, pastinya tak seperti dulu lagi.

Salah satu pria yang meniatkan diri untuk berhijrah menghapus tato adalah Ivan Nulhakim. Pria asal Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, duduk bersila di ruang tunggu berusaha menahan rasa gugupnya.

"Saya ingin hijrah, mudah-mudahan dengan saya hapus tato ini, bisa hilang juga dosa saya," kata Ivan yang sehari-harinya menjadi pedagang kelontong pada Merdeka.com.

Namun upaya menghapus tato dalam sejarah masyarakat Indonesia tidak hanya bermotif keagamaan. Pada masa Orde Baru, banyak yang menghapus tato karena takut ditembak Petrus.

Hapus tato karena takut dipetrus

Pada masa pemerintahan Soeharto, dilakukan operasi petrus alias penembak misterius. Delapan lelaki ditemukan terbujur kaku, lima jenazah tergeletak di Jakarta Selatan, dua di Jakarta Timur, dan satu di Jakarta Barat. Tubuh mereka bertato.

"Dengan demikian, selama bulan Mei 1983 telah 17 orang tersangka pelaku kejahatan mati akibat tertembus peluru," tulis Kompas, 21 Mei 1983.

Berita tentang penemuan mayat yang bertato bukan hal yang baru bagi warga Jakarta. Seluruh jenazah itu, menurut Kompas, merupakan bromocorah, preman, residivis, dan jeger sasaran para penembak misterius (Petrus).

Mayat mereka umumnya ditemukan dengan luka tembak di kepala dan leher. Konon kabarnya, sepanjang 1983 hingga 1984, ribuan orang yang diduga preman tewas ditembak secara misterius di sejumlah wilayah Indonesia.

Namun di lapangan, tidak semua orang yang bertato merupakan pelaku kriminal. Hal ini membuat banyak kalangan berbondong-bondong menghapus tato atau rajah yang menandai tubuh mereka.

Rajah yang menandai tubuh buru-buru dihapus dengan berbagai cara. Ada cara menghapus dengan tindakan kedokteran, tapi ada juga yang menggunakan cara apapun karena keterbatasan biaya untuk menghapus tato.

Yang terparah, upaya menghilangkan tato dengan menggunakan setrika panas, yang kala itu terjadi, setrika dengan hiasan ayam jago, yang menggunakan arang. Fenomena ini memang menjadi kegiatan yang marak, banyak anggota tubuh sejumlah warga menjadi cacat karena tindakan yang dianggap kurang tepat tersebut.

Salah satu pria yang masih mengingat peristiwa itu adalah Edi, mantan preman Pasar Ciroyom mengaku sangat ketakutan saat penembakan misterius marak terjadi. Dia bahkan tak berani pulang ke rumahnya selama 1 tahun lamanya. Tak hanya itu, ia bahkan nekat menghapus tatonya dengan jalan menyeterika sejumlah bagian tubuhnya.

"Setiap hari saya pakai baju lengan panjang supaya enggak kelihatan tatonya," kata dia.

Selain terancam kehidupannya, menurut Hatib Abdul Kadir Olong pada tato, orang-orang bertato juga kehilangan hak diterima sebagai PNS dan ABRI. Orang bertato, lanjutnya, mengalami kesulitan dalam mencari Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) dari kepolisian.

"Pemerintah menganggap tato merupakan stempel dari tindak tidak baik, jahat," tulis Hatib.

Efektif menekan kriminalitas

Pada tahun 1980-an, munculnya pelaku kriminal tidak hanya terkait isu-isu kemiskinan. Beberapa dari mereka memang 'dibina' oleh kekuatan dibelakang rezim.

Menurut Salim Said pada ''Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto'', para para pelaku kriminal atau preman ini biasanya binaan Opsus pimpinan Ali Murtopo. Kelompok preman ini digunakan untuk kepentingan praktis Golkar

"Kelompok kriminal di Jawa Tengah itu dikenal sebagai Gali (Gabungan Anak Liar) tersebut terutama dipakai pada kampanye pemilihan umum untuk meneror saingan-saingan politik pemerintah, terutama kekuatan Islam politik,'' tulis Salim Said.

Setelah Pemilu 1982 usai, dan Soeharto kembali terpilih sebagai presiden, kriminalitas di kota-kota besar meningkat. Tajuk Rencana Kompas, 9 Juni 1983, menuding ketimpangan sosial menjadi penyebab merebaknya tindak kejahatan.

Istilah Gali, kali pertama muncul di Yogyakarta. Gali--dalam Pikiran Rakyat, 2 Mei 1983-- disebut sebagai kelompok pemuda, bahkan beberapa tak bisa disebut pemuda, kerjanya melakukan pemerasan terhadap para pedagang kecil, supir angkot, tukang parkir, serta masyarakat.

"Pada saat-saat tertentu kadang-kadang bersikap lebih kuasa dari aparatur keamanan sendiri," tulis Pikiran Rakyat

Operasi ini bermula, saat Komandan Kodim di Yogyakarta melancarkan Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK). Operasi yang diklaim hanya bertujuan mendata para pelaku kriminal.

Namun apa yang dilakukan oleh M. Hasbi di Yogyakarta lebih dari sekadar mencatat. Eksekutor operasi tak segan menembak mati siapa saja yang mereka anggap sebagai Gali (gabungan anak liar).

Tapi saat itu Panglima ABRI sekaligus Pangkopkamtib, Benny Moerdani, menegaskan Penembakan Misterius terjadi akibat perkelahian antar-geng. Sebagai negara hukum, Ia menyatakan penembakan hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa.

"Ada orang-orang mati dengan luka peluru, tetapi itu akibat melawan petugas. Yang berbuat itu bukan pemerintah. Pembunuhan itu bukan kebijakan pemerintah," ceritanya dalam autobiografi berjudul ''Tragedi Seorang Loyalis''.

Meski sempat menimbulkan kecaman, tak sedikit masyarakat yang mendukung langkah pembasmian preman itu. Sebab, akibat operasi itu aksi premanisme relatif turun, salah satu contohnya di Bandung.

Sebelum penembakan terhadap para preman dilakukan, Terminal Kebon Kalapa, Bandung, dipenuhi preman bertato yang sehari-hari memalak sopir dan masyarakat.

"Setelah penembakan gencar dilakukan, terminal itu bersih dari para preman," ujar Rusi, warga Bandung yang memberikan kesaksian pada Merdeka.com.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini