Buku Digital, Solusi Bagi Industri Buku di Indonesia

Buku Digital, Solusi Bagi Industri Buku di Indonesia
info gambar utama

Sejak akhir abad ke-19, industri penerbit buku telah berkembang cukup pesat di Indonesia. Tercatat sejak 17 Mei 1950 Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) didirikan dan sejak lima tahun setelah didirikannya, IKAPI telah menghimpun sebanyak 46 penerbit yang berdomisili di Pulau Jawa dan Sumatra. Kini, 68 tahun lebih setelah didirikannya, anggota IKAPI telah tercatat sebanyak 1488 anggota dan 94 persen di antaranya adalah penerbit aktif.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi Ikapi, industri penerbit buku di Indonesia tumbuh sebanyak 6 persen per tahun, dan tercatat lebih dari 30.000 judul buku diterbitkan setiap tahunnya. Angka tersebut hanya mewakili buku-buku yang terdaftar dalam catatan resmi toko buku, serta judul-judul yang diajukan ISB-nya di Perpusnas.

Industri penerbit buku di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan selama enam dekade terakhir. Di satu sisi, perkembangan industri penerbit buku merupakan penanda meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan minat baca masyarakat Indonesia.

Selain itu, industri penerbit buku merupakan salah satu subsektor industri kreatif Indonesia. Bahkan, menjadi subsektor industri yang menempati peringkat keempat dalam permintaan ekspor produk ekonomi kreatif.

Infografis Realissasi Kegiatan Direktorat Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif | Sumber: Bekraf.go.id
info gambar

Pertumbuhan industri penerbit buku harus terus didukung dan dipertahankan oleh seluruh pelaku dan stake holder industri. Mulai dari kreator atau penulis, percetakan, penerbit, dan distributor atau toko buku.

Namun, pertumbuhan yang cukup pesat ini memicu kekhawatiran bahwa industri ini membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup. Sebagaimana diketahui, bahan baku utama untuk industri buku adalah kertas.

Umumnya kertas dibuat dari bahan dasar kayu, khususnya kayu yang memiliki kandungan serat tinggi. Kayu didapat dengan cara menebang pohon sehingga makin banyak judul buku yang diproduksi oleh penerbit di Indonesia, dan makin banyak pula pohon yang harus ditebang. Dalam jangka panjang hal ini tentunya dapat berdampak negatif bagi lingkungan hidup.

Penebangan Hutan untuk Industri Buku

Di seluruh dunia, sekitar 20 juta pohon ditebang setiap tahunnya untuk memproduksi kertas. Sebesar 90 persen dari seluruh kertas yang dihasilkan kemudian digunakan oleh industri penerbitan surat kabar dan buku. Padahal pembalakan hutan menyumbang 25 persen dari emisi gas rumah kaca dunia yang disebabkan oleh ulah manusia.

Menurut UCSUSA meningkatnya permintaan akan kayu sebagai bahan baku produksi kertas telah menyebabkan kerusakan signifikan terhadap hutan-hutan tropis di seluruh dunia. Selama 6 dekade ini Indonesia juga telah mengalami peningkatan permintaan produksi kertas seriring dengan makin bertumbuhnya industri buku.

Di Indonesia sendiri beberapa dampak negatif dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penebangan pohon sudah mulai dirasakan. Industri kertas tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar penyebab pembalakan hutan di Indonesia. Tercatat sebanyak 1.6 juta hektar hutan alami ditebang dan diubah menjadi sarana pengolahan industri kertas.

Indonesia adalah salah satu dari 30 negara penghasil kertas terbesar dunia yang turut memenuhi kebutuhan industri kertas dunia. Tepatnya, Indonesia adalah negara produsen kertas terbesar ke-6 dunia dan produsen pulp ke-9 dunia. Kerusakan terhadap lingkungan hidup, khususnya rusaknya hutan-hutan tropis di Indonesia adalah merupakan imbas tidak langsung dari pertumbuhan industri buku lokal dan dunia.

Selain sebagai pendukung industri buku, industri pengolahan kertas termasuk dalam kelompok industri kimia dan mejadi salah satu industri unggulan Indonesia. Selain sebagai bahan baku utama industri buku kertas juga digunakan untuk dalam industri kemasan dan merchandise.

Kesimpulan ini sesuai dengan hasil temuan The Cleantech Group yang menyatakan bahwa industri buku meninggalkan jejak karbon tertinggi. Mulai dari proses perolehan bahan bakunya, limbah produksi kertas, hingga proses percetakan, distribusi dan disposal limbah buku yang tidak terserap oleh pasar.

Oleh karena itu beberapa organisasi bahkan penerbit buku sendiri mulai memikirkan upaya-upaya untuk menekan dampak negatif ini tanpa mengurangi pertumbuhan industri buku. Salah satu solusi yang kini banyak diterapkan oleh penerbit-penerbit buku, termasuk penerbit buku Indonesia yang bergabung di IKAPI adalah melalui buku digital.

Ebook | Foto: Unsplash
info gambar

Buku digital adalah buku elektronik (buku-e atau e-book). Sesuai namanya, buku digital adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya dibuat dari bahan baku kertas, maka buku elektronik berwujud informasi digital yang tidak membutuhkan bahan baku kertas sebagai material dasar produksinya.

Penggunaan e-book didukung pula dengan pertumbuhan signifikan jaringan serta pengguna internet Indonesia. Kedua hal ini mendorong terciptanya pasar dan permintaan akan cetak ebook. Beberapa penerbit besar di Indonesia, seperti Gramedia Pustaka Utama dan Elex Media telah menerbitkan buku-buku mereka dalam format digital selain dalam format fisik.

E-book dipandang sebagai solusi karena proses pra-produksi buku digital tidak berbeda dengan produksi buku fisik. Adapun proses yang umumnya terjadi dalam pembuatan buku, penulis dan editor bersama menyusun konten isi buku yang kemudian oleh desainer diolah ke dalam format buku yang nyaman dibaca.

Pada proses produksi buku cetak, file ini kemudian dikirimkan ke percetakan untuk dicetak dan dijilid menjadi sebuah buku fisik. Setelah itu buku fisik harus menjalani proses packaging dan didistribusikan ke toko-toko buku.

Memang ada kekhawatiran bahwa emisi karbon dan dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimpulkan saat memproduksi sebuah gawai lebih buruk, dibandingkan dampak dan emisi karbon yang timbul dari proses produksi buku tradisional. Namun menurut penelitian yang dilakukan Ecolibris dengan memiliki satu gawai saja, seseorang dapat membaca ratusan hingga ribuan buku, tidak terhitung surat kabar, tabloid, dan majalah yang juga dapat dibaca secara digital.

Maka, memiliki sebuah gawai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan membeli 18 buku fisik. Dengan kata lain dampak negatif yang diakibatkan oleh produksi sebuah gawai akan berbanding impas dengan kertas dan air yang digunakan untuk memproduksi setidaknya 18 buku.

Dengan begitu, jika pemilik setiap gawai menggunakan gawai miliknya untuk membeli dan membaca lebih banyak buku, serta mengurangi pembelian buku fisik secara signifikan maka dampak positif ke lingkungan dapat segera dirasakan.

Dengan penggunaan e-book, sebuah karya tulis dapat diedarkan dan diperbanyak sebanyak mungkin tanpa menambah biaya, tanpa tambahan bahan baku kertas, serta minim emisi karbon. Minimnya bahan dan ongkos produksi yang digunakan maka umumnya harga ebook lebih murah dibandingkan buku fisik. Maka, e-book merupakan solusi yang ramah ingkungan baik untuk penerbit maupun pembeli.*

Referensi:Garuda.Ristekdikti.go.id | Bsd.pendidikan.id | Crafters.getcraft.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini