Deretan Pengusaha Wanita Indonesia dalam Daftar 30 Under 30 Majalah Forbes

Deretan Pengusaha Wanita Indonesia dalam Daftar 30 Under 30 Majalah Forbes
info gambar utama

Setiap tahun, majalah Forbes merillis daftar anak muda yang masuk dalam “30 Under 30”. Untuk yang belum familiar, daftar tersebut berisi deretan anak muda berusia 30 tahun dengan prestasinya masing-masing, mulai dari pengusaha, pemimpin, kreator, filantropis, pembuat film, hingga pekerja seni.

Ada 11 kategori penghargaan 30 Under 30 tahun 2021, yaitu The Arts, Entertainmet and Sports, Finance and Capital Venture, Media, Marketing and Advertising, Retail and E-Commerce, Enterprise Technology, Industry, Manufacturing and Energy, Healthcare and Science, Social Impact, serta Consumer Technology.

Tahun ini, ada beberapa nama pengusaha wanita Indonesia yang masuk dalam daftar 30 Under 30, berikut nama-namanya:

Anbita Nadine Siregar dan Tania Soerianto

Anbita dan Tania terpilih menjadi 30 Under 30 dalam kategori social impact. Keduanya adalah pendiri Yayasan Generasi Maju Berkarya. Keduanya menginisiasi yayasan tersebut di Jakarta untuk menginspirasi anak-anak usia sekolah menengah untuk bekerja di industri teknologi. Mereka juga bekerjasama dengan perusahaan besar seperti Tokopedia, Google, dan Microsoft.

Anbita dan Tania mengajarkan keterampilan seperti desain web dan pengodean. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 20 ribu siswa telah bergabung dalam program mereka. Yayasan Generasi Maju Berkarya pun meluncurkan program untuk mengembangkan keterampilan pendampingan untuk lebih dari seribu guru.

Nashin Mahtani

Nashin Mahtani adalah seorang pemimpin di Yayasan Peta Bencana. Yayasan nirlaba ini mengembangkan perangkat lunak untuk mendukung bantuan bencana.

Perangkat lunak mereka telah diluncurkan tahun 2017 dan menggunakan bot yang dibantu AI untuk memantau unggahan media sosial oleh penduduk di daerah yang terkena bencana.

Perangkat tersebut juga dapat memetakan gempa bumi, kebakaran, hingga banjir dalam waktu riil. Bot yang mereka punya juga bisa mengirim peringatan darurat pada warga. Atas karyanya, Mahtani pernah jadi finalis dalam Penghargaan Kepemimpinan Pemuda Global Citizen Prize 2019.

Jessica Lin

Jessica Lin adalah co-founder dari Deca Group yang terkenal dengan merek produk perawatan, Everwhite. Jenama ini didirikan tahun 2016 untuk mereka yang sedang mencari produk pencerah warna kulit yang berkualitas tapi memiliki harga terjangkau. Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini sekarang telah berkembang dan memiliki produk unggulan seperti produk perawatan jerawat dan menjual serum anti-aging.

Stefani Tan dan Fanny Tjandra

Stefani dan Fanny adalah pendiri dari Jolie Clothing, merek busana lokal yang berbasis di Jakarta. Jolie Clothing didirikan tahun 2012 dan menyediakan busana yang nyaman dan terjangkau. Mereka merancang pakaian dengan mempertimbangkan kehidupan sehari-hari dan memiliki koleksi untuk semua tipe tubuh.

Kathleen Gondoutomo

Kathleen yang sebelumnya bekerja di Kraft Heinz memiliki keinginan untuk menyajikan minuman ringan yang mudah dipesan, sekaligus memberdayakan wanita yang belum bekerja di kota-kota kecil.

Pada tahun 2019, ia mendirikan H! Cups, jaringan minuman di daerah dengan fokus untuk memberikan para wanita keterampilan dan meningkatkan penghasilan mereka. Saat ini H! Cups telah membuka lebih dari 40 toko dan mempekerjakan lebih dari 150 wanita.

Jennifer Heryanto

Jennifer Heryanto adalah founder dan CEO dari SKK Jewels. Ia dan tim mengembangkan produk emas dan manufaktur dengan lebih dari 250 pekerja. Ia mengelola dua merek perhiasan, yaitu Hala Gold dan Sandra Dewi Gold.

Di sisi lain, Jennifer juga merupakan pendiri The Wisemen & Company, perusahaan manajemen merek yang berfokus pada barang konsumsi, kecantikan, kemewahan, dan gaya hidup.

Liris Maduningtyas

Pada tahun 2015, Liris Maduningtyas mendirikan Jala Tech, perusahaan rintisan di bidang teknologi pertanian dan berbasis di Yogyakarta. Liris mengembangkan perangkat lunak dan pengukur air pintar untuk membantu para petambak udang memeriksa kualitas air hingga melacak stok guna meningkatkan produksi.

Sistem pengelolaannya telah digunakan oleh lebih dari 8 ribu petani untuk memantau sekitar 15 ribu kolam di Indonesia.

Charina Prinandita

Charina, seperti banyak anak Indonesia lain, tumbuh besar dengan makan di restoran cepat saji asing. Tahun 2016, ia dan dua orang rekan mendirikan Eatlah, gerai makanan cepat saji lokal dengan menu masakan rumahan Indonesia, seperti nasi ayam telur asin. Saat ini, Eatlah memiliki 24 gerai di enam kota di Indonesia.

Levana Sani

Tahun 2016, Levana Sani mendirikan Nalagenetics yang berbasis di Singapura. Perusahaan ini bekerja di bidang baru yaitu farmakogenetik yang mempelajari tentang bagaimana gen memengaruhi respons pasien terhadap obat.

Levana sendiri memiliki gelar B.S. dalam biokimia dari University of Southern California, dan M.B.A. dari Harvard Business School. Sejauh ini, Nalagenetics telah menguji lebih dari seribu pasien dan hasilnya dapat dipakai oleh dokter untuk menyesuaikan resep dan berpotensi mengurangi reaksi obat yang merugikan.

Liana Gonta Widjaja

Liana mendirikan Greenly tahun 2019 dan bekerja dengan dokter untuk mengembangkan rencana makan sehat bagi para pasien sakit kritis di rumah sakit. Perusahaan rintisan berbasis di Surabaya ini menyajikan makanan sehat, mulai dari jus, salad, biji-bijian, serta alternatif menu non-susu. Kini, ia memiliki 12 gerai di tiga kota di Indonesia.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini