Kayu Sowang, Digunakan Sejak Zaman Prasejarah yang Terancam Punah

Kayu Sowang, Digunakan Sejak Zaman Prasejarah yang Terancam Punah
info gambar utama

Saat anda berkunjung ke warung-warung restoran, atau dapur rumah tangga di Jayapura, dapat dipastikan arang andalan untuk memanggang daging, ikan, dan lauk lainnya berasal dari bahan baku kayu sowang.

Kayu Sowang atau disebut juga kayu suwang (Xanthostemon novaguineensis) adalah tumbuhan endemik Papua. Kayu sowang dapat ditemui di Pegunungan Cyclops yang membentang dari Kota Jayapura hingga Kabupaten Jayapura.

Papua memang sudah terkenal sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam dan keragaman ekosistem mengagumkan. Terlebih, flora dan fauna endemiknya

Kayu sowang dapat dijadikan arang untuk memasak. Pasalnya arang kayu sowang bara apinya sangat baik dan bertahan lama, sehingga lebih ekonomis. Berbeda jika memakai arang tempurung batok kelapa atau mungkin arang dari jenis kayu lainnya misalnya kayu bakau.

“Kita tidak memakai arang kayu sowang, karena dilarang polisi. Kami hanya membeli arang kayu dari Arso Kabupaten Keerom, “ kata Cak Syam, tukang sate Madura yang biasa jualan di pertigaan Kali Acay Kota Raja yang dilansir dari Jubi, Senin (3/5).

Cak Syam yang selalu ditemani istrinya bernama Dewi itu mengaku sudah lama berdagang sate, dan sudah tidak lagi memakai arang kayu sowang. Kini ia memakai arang tempurung kelapa.

“Arang tempurung tetapi cepat habis dan tidak bisa bertahan lama. Paling lama hanya tiga hari saja,”katanya

Pelarangan ini terjadi karena kayu sowang terancam punah. Pemanfaatan kayu sowang untuk dijadikan arang dalam bisnis rumah makan yang tersebar di Kota dan Kabupaten Jayapura, diduga menjadi penyebab utamanya. Selain itu, dampak dari pembangunan kota juga disebut semakin membuat kayu sowang terancam di pegunungan Cyclops.

“Arang dari kayu sowang itu kualitas terbaik dan bisa digunakan berkali-kali. Pedagang merasa untung jika memakai kayu arang dari sowang dibandingkan tempurung,” kata Sri Wilujeng, peneliti kayu sowang yang dilansir dari Mongabay Indonesia (3/5).

Hasil studi memperlihatkan bahwa kayu sowang tergolong kayu yang tahan terhadap serangan perusak kayu; yakni rayap tanah, penggerek kayu di laut, cendawan pelapuk putih dan cendawan pelapuk cokelat.

Walaupun kayu sowang memiliki kemampuan tahan terhadap api atau kebakaran. Tapi hal itu tidak sebanding dengan kemampuan regenerasi kayu sowang yang rendah.

Sudah Digunakan Sejak Zaman Prasejarah

Hingga saat ini telah diketahui sebanyak 45-50 spesies Xanthostemon yang tersebar di Kaledonia Baru, Australia, Kepulauan Solomon, Papua Nugini, Indonesia, dan Filipina dengan pusat keanekaragaman di Kaledonia Baru.

Sowang juga hanya tumbuh di sisi barat, selatan, sampai timur pegunungan Cycloop. Di kawasan ini sowang ditemukan pada ketinggian 15-450 mdpl. Kayu ini banyak dijumpai di kaki pegunungan Cycloop, atau daerah penyangga cagar alam, sehingga menjadi daerah yang bebas untuk dirambah.

Menurut sebuah jurnal disebutkan bahwa secara tradisional masyarakat asli yang mendiami kawasan pegunungan Cycloop mengenal dua jenis tumbuhan sowang yaitu sowang putih dan sowang hitam.

Dari hasil pengecekan terhadap kedua macam tumbuhan sowang ini diketahui bahwa sowang putih adalah spesies yang berbeda yaitu Gordonia papuana dari famili Teaceae, sedangkan yang dikenal sebagai sowang hitam adalah Xanthostemon novoguineensis.

Gordonia papuana sendiri tergolong kayu keras dan berdasarkan peta distribusi di Papua Nugini merupakan spesies yang tersebar luas karena mampu melakukan koloni area ekologis yang lebih luas hingga daerah ketinggian.

Kayu sowang sudah sejak lama memainkan peran penting dalam kehidupan tradisional suku-suku yang mendiami kawasan pegunungan Cycloop. Sowang telah dikenal sebagai kayu yang kuat dan awet sehingga dimanfaatkan sebagai tiang penyangga rumah.

Kayu sowang juga digunakan sebagai alat pertukaran pada zaman dahulu. Kedua hal ini menunjukan bahwa pemanfaatan kayu sowang secara intensif telah dilakukan dalam tradisi masyarakat lokal.

“Faktor ekonomi adalah fakta yang dapat dikatakan sebagai bencana bagi tumbuhan sowang, karena kebutuhan ekonomi menyebabkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan,” ujar Sri Wilujeng.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan kayu sowang sudah dikenal sejak masa prasejarah di Danau Sentani. Hal ini berdasarkan hasil penelitian di situs Ayauge, Kampung Doyo Lama, Danau Sentani bagian barat.

Tiang-tiang yang ditemukan merupakan bekas hunian prasejarah berupa rumah panggung di atas permukaan air. Apalagi kayu sowang dikenal sebagai kayu keras dan mampu bertahan lama hingga ratusan tahun sehingga secara tradisional oleh masyarakat Sentani dijadikan tiang rumah dan peralatan hidup lainnya.

Masyarakat yang menghuni pesisir Danau Sentani telah menghuni kawasan tersebut sejak ribuan tahun lalu. Misalkan di situs Yomokho, pesisir Danau Sentani, dari hasil ekskavasi atau penggalian serta analisis uji laboratorium, di lokasi ini sudah ada kehidupan sejak 2950 tahun yang lalu. Jelajah manusia di situs Yomokho ini menjangkau sungai-sungai di daerah pegunungan Cycloop.

“Bagi masyarakat Sentani, kayu sowang yang dijadikan tiang rumah, mereka tidak mengubah bentuknya. Misalnya memotongnya menjadi balok panjang. Namun disesuaikan dengan kondisi asli kayu sowang. Masyarakat Sentani hanya membuat ukiran di tiang rumah dari kayu sowang. Ukiran ini berupa manusia, binatang mitologi seperti kadal, ikan, atau motif geometris,” jelas Hari Suroto

Menjaga Kearifan Lokal Kayu Sowang

Jika bukan karena kearifan warga lokal, maka kayu sowang akan mengalami kepunahan. Hal ini karena sebagian masyarakat Papua tetap menjaga ekologi dari kayu sowang itu. Dalam kepercayaan mereka, penggunaan kayu sowang memiliki aturan adat yang ketat dan tidak sembarangan.

Warga Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, misalnya. Mereka salah satu kelompok masyarakat yang memerhatikan keberadaan kayu sowang.

“Mengambil kayu sowang untuk membangun tiang rumah atau membuat perahu itu tidak sembarang. Harus melalui proses aturan adat dan tetap menjaga pegunungan Cyclops,” ungkap Amos, kepala suku Kampung Sereh dikutip dari Beritapapua.

Keberadaan kayu sowang juga diakui WWF Indonesia yang menyebut sebagai tumbuhan endemik pada Cagar Alam Cycloop. Kayu sowang di kawasan ini termasuk endemic dan sudah dilindungi sejak 1987 sehingga sangat langka.

Tinggi pohon ini dapat mencapai 40 m dengan diameter dapat mencapai 80 cm. Pepagan dengan bagian dalam berwarna coklat kemerahan, bergetah yang tidak menyolok. Kayu teras keras cokelat tua hingga hitam pekat.

Kayu ini saat digunakan sebagai tiang rumah dapat bertahan tiga hingga empat generasi atau setara 70 hingga 100 tahun. Namun masa pertumbuhan kayu Sowang cukup lama dan membutuhkan waktu minimal 50 tahun untuk mencapai diameter ideal untuk digunakan sebagai elemen tiang rumah.

Sri Wilujeng mengatakan eksploitasi kayu sowang dan konversi habitat sowang tetap berlangsung, usaha meregenerasi belum tampak di masyarakat, regenerasi sowang berlangsung secara alami.

“Hal ini merupakan ancaman kepunahan bagi populasi sowang,” kata Wilujeng yang hampir 30 tahun tinggal di Kota Jayapura

Baca Juga :

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini