Membelah Lautan, Jembatan Batam-Bintan Bakal Menjadi Jembatan Terpanjang di Indonesia

Membelah Lautan, Jembatan Batam-Bintan Bakal Menjadi Jembatan Terpanjang di Indonesia
info gambar utama

Janji pemerintah dalam merealisasikan proyek pembangunan Jembatan Batam-Bintan tampaknya semakin nyata. Sikap optimis ini muncul lantaran dari segi anggaran pemerintah pusat sudah menyiapkan dana senilai Rp3,4 triliun.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa, mengatakan, Jembatan Batam-Bintan digadang-gadang akan rampung sebelum tahun 2024. Sementara proses pembangunannya dimulai paling cepat tahun ini.

“Masih berproses. Target kami tahun 2021 atau 2022 sudah mulai dibangun.” Kata Suharso Monoarfa dilansir dari Antara, Sabtu (24/4/2021).

Selain itu, guna mewujudkan proyek pembangunan yang maksimal. Maka, janji pemerintah terkait pembangunan dalam praktiknya juga telah melewati serangkaian kegiatan penting beberapa tahun terakhir. Mulai dari kegiatan mengkaji desain hingga pembahasan anggaran pembangunan.

Melihat desain Jembatan Batam-Bintan

Ilustrasi desain Jembatan Batam-Bintan © Kementerian PUPR
info gambar

Sebenarnya desain Jembatan Batam-Bintan di Kepulauan Riau sudah terlebih dahulu dibuat oleh Pemerintah Provinsi setempat pada 2005. Kemudian desain pembangunan jembatan kembali lagi diperbarui pada tahun 2010.

Pembaharuan jembatan misalnya saja dapat terlihat dari segi ukuran, dimana telah terjadi penyesuaian lebar jembatan yang mula-mula 28 meter kini diperbaharui menjadi 33 meter.

Pelebaran jembatan tersebut menurut Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR, Yudha Handita Pandjiriawan, dimaksudkan untuk menyesuaikan standar desain pembangunan yang berbentuk jembatan tol.

Kosekuensi dari standar tersebut pun pada akhirnya membuat pengguna kendaraan yang melintasi jembatan Batam-Bintan dikenakan tarif.

Berdasarkan laporan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, diprediksi akan ada sekitar 7.000 kendaraan per hari yang akan melintasi Jembatan Batam-Bintan.

Total panjang lintasan yang akan dilewati pengendara, yakni sepanjang 7.000 meter. Lebih rincinya, tujuan Batam-Tanjung Sauh sepanjang 2.000 meter. Sedangkan, Tanjung Sauh-Bintan sepanjang 5.000 meter.

Calon jembatan terpanjang di Indonesia

Memiliki panjang 7.000 meter atau 7 km, Jembatan Batam-Bintan digadang-gadang akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia menyalip Suramadu © Kementerian PUPR
info gambar

Gelar Jembatan Suramadu sebagai jembatan terpanjang di Indonesia tampaknya akan disalip oleh Jembatan Batam-Bintan.

Pasalnya, total panjang Jembatan Suramadu yang melintasi Selat Madura tersebut hanya 5.438 meter (5,4 km), dibandingkan Jembatan Batam-Bintan yang bakal memiliki panjang 7.000 meter (7 km).

Perencanaan ini pun turut ditegaskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, bahwa pembangunan Jembatan Batam-Bintan dengan standar jalan tol akan membentang sepanjang 7.000 meter di atas permukaan laut dan akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia.

Apabila perencanan pembangunan Jembatan Batam-Bintan nantinya terealisasi, maka dari segi urutan jembatan terpanjang, Jembatan Batam-Bintan akan menggeser posisi pertama Jembatan Suramadu sebagai jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.

Sementara status jembatan terpanjang ketiga ditempati Jembatan Dompak dengan panjang 1,5 Km. Selanjutnya ada Jembatan Tayan yang menghubungkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menempati posisi keempat dengan panjang 1,44 Km.

Dibangun dengan skema KPBU

Berbeda dengan pembangunan Jembatan Suramadu yang lebih banyak memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), proyek Jembatan Batam-Bintan dibangun dengan skema Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha (KPBU).

Walaupun pemerintah pusat memang sudah menyiapkan anggaran pembangunan jembatan Batam-Bintan sebesar Rp3,4 triliun. Di sisi lain, alternatif pembiayaan infrastruktur melalui Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) diharapkan menjadi sarana terbaik untuk mewujudkan pembangunan suatu wilayah atau daerah dengan tanpa membebani anggaran negara.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan skema KPBU memiliki keunggulan dibandingkan dengan APBN.

"Pembiayaan pembangunan infastruktur dengan skema KPBU memiliki keunggulan dibandingkan dengan APBN, di antaranya adalah bagi swasta memiliki kepastian pengembalian (investasi) plus keuntungan. Sementara itu, keuntungan pemerintah proyeknya banyak yang mengawasi sehingga tercipta tertib admininistrasi dan tertib teknis untuk melayani masyarakat lebih baik," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pada bisnis.com (26/4).

Adapun progres terkait pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan skema KPBU masih masuk dalam tahap finalisasi pembahasan. Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR pun turut menegaskan bahwa pengkajian teknis dan finansial pada pembangunan Jembatan Batam-Bintan tengah dilakukan.

Pembangunan jembatan ini juga diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi wilayah serta meningkatkan konektivitas di wilayah Kepulauan Riau, dengan mengurangi waktu tempuh dan juga biaya transportasi orang dan barang.

Sumber Referensi:

Antaranews.com | Ekonom.bisnis.com | Wartaekonomi.co.id

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini