Mengenali 9 Bagian Daging Sapi dan Olahan yang Cocok

Mengenali 9 Bagian Daging Sapi dan Olahan yang Cocok
info gambar utama

Selain ketupat dan opor ayam, makanan yang identik dengan menu lebaran adalah olahan daging sapi. Biasanya di setiap daerah memiliki kreasi daging sendiri, misalnya rendang, semur, empal, sup iga, tongseng, atau dendeng.

Menurut data dari Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), seperti dikutip IDXChannel, kebutuhan daging selama puasa dan lebaran sebanyak 46.758 ton. Jumlah ini terdiri dari sapi siap potong sebanyak 14.350 ekor dan daging sapi beku 26.740 ton. Kementerian Pertanian memperkirakan kebutuhan daging sapi secara nasional mencapai 60 ribu ton.

Meski bukan kewajiban, makan daging sapi saat lebaran seperti sudah jadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Jika Anda ingin memasak daging sapi untuk keluarga di rumah untuk lebaran nanti, sebelumnya mulailah dari mengenali bagian-bagian daging agar tak salah membelinya.

Daging sapi punya banyak bagian dengan karakter masing-masing. Meski semua sama-sama lezat, tapi setiap bagian biasanya lebih cocok untuk masakan tertentu. Ini karena teksturnya berbeda-beda sehingga bila salah pengolahannya, daging bisa alot dan sulit disantap.

Agar tak salah beli, mari kenali jenis-jenis bagian daging berikut ini:

Iga (rib eye)

Iga merupakan daging yang berasal dari sekitar tulang iga atau tulang rusuk. Berhubung daging menempel dengan tulang yang besar, biasanya iga dimasak menjadi sup bening, soto, semur, dipanggang, atau menjadi bahan dasar sup konro khas Makassar. Meski bertulang, bila dimasak dengan benar, daging iga tetap lembut, cukup berlemak, dan rasanya gurih.

Has dalam (tenderloin)

Daging has dalam merupakan bagian yang cukup populer karena memiliki tekstur empuk. Has dalam diambil dari bagian punggung sapi dan hampir tak berlemak. Bagian ini cocok dikonsumsi bagi Anda yang sedang menjaga berat badan atau mengurangi daging berlemak. Biasanya, daging has dalam tak membutuhkan waktu lama untuk dimasak sehingga cocok untuk dibuat steik, barbeku, atau bisa jadi tumisan seperti oseng-oseng daging.

Has luar (sirloin)

Kebalikan dari has dalam, has luar atau sirloin ini dagingnya berlemak dan membuat daging jadi lebih gurih. Meski berlemak, daging has luar juga tak perlu dimasak lama-lama karena cepat matang. Daging has luar juga bisa dimasak jadi steik atau dipanggang.

Ilustrasi | @Alexander Raths Shutterstock

Sengkel (shank)

Karakteristik daging sengkel adalah teksturnya kenyal dan cocok untuk dimasak dalam waktu lama. Sengkel sendiri berasal dari bagian depan atas kaki sapi dan biasanya dimasak menjadi menu semur, gulai, atau rendang.

Perut sapi (flank)

Bagian perut sapi atau biasa disebut flank ini mengandung banyak lemak, tekstur dagingnya pun kenyal. Bagian ini biasa dimasak menjadi rawon, soto daging, ataupun sup daging.

Buntut (oxtail)

Bagian buntut ini butuh proses memasak yang lebih lama karena cenderung keras. Bila matang sempurna, buntut akan kenyal dan lembut. Biasanya bagian buntut diolah menjadi sup atau dibakar dengan bumbu kecap manis, bisa juga digoreng. Bila direbus terlebih dahulu, kuah kaldunya bisa digunakan untuk sup karena rasanya gurih dan sedap.

Gandik (topside)

Bagian gandik ini berada di area terluar paha belakang. Dari teksturnya, cenderung lebih padat dan tak banyak lemak. Karena padat, daging ini tahan dimasak lama karena tak mudah rapuh dan hancur. Bagian daging gandik ini biasa dimasak menjadi empal, dendeng, atau rendang yang membutuhkan waktu masak cukup lama.

Tanjung (rump)

Bagi pencinta sate, biasanya daging yang digunakan adalah bagian tanjung dari area punggung. Daging tanjung ini cocok untuk sate karena lebih lembut dan berlemak tebal. Selain dibuat sate, tanjung juga bisa dimasak menjadi sup dan tumisan.

Sandung lamur (brisket)

Nama sandung lamur mungkin terdengar asing karena di pasaran biasa juga disebut dengan tetelan. Bagian daging ini mengandung banyak lemak dan biasa digunakan untuk masakan berkuah karena membuat rasa kaldunya makin gurih.

Sandung lamur biasanya ditemukan pada kuah bakso, soto, dan digunakan untuk campuran masakan seperti oseng-oseng, hingga pembuatan sosis, bakso, dan kornet.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini