Orang-Orang Indonesia yang Gugur dalam Pertempuran Terbesar di Laut Jawa

Orang-Orang Indonesia yang Gugur dalam Pertempuran Terbesar di Laut Jawa
info gambar utama

Pertempuran laut terbesar pada Perang Pasifik (1941-1945) atau Perang Dunia II pernah terjadi Laut Jawa, di utara Surabaya, dekat Pulau Bawean dan teluk Banten pada 27-28 Februari dan 1 Maret 1942, antara Angkatan Laut Sekutu lawan AL Jepang.

Pertempuran yang dikenal dengan nama Battle of Java Sea ini tercatat sebagai yang terbesar kedua setelah Battle of Jutland, yang berlokasi dekat perairan Denmark dan Norwegia. Walaupun jumlah kapal perang yang terlibat dalam pertempuran laut tersebut bukan yang terbesar.

Pertempuran ini selamanya akan dikenang sebagai salah satu momentum kekalahan besar, sekaligus memalukan pihak Sekutu dalam Perang Dunia II. Hasil pertempuran ini juga menentukan nasib wilayah koloni Belanda yang kini bernama Indonesia.

Saat Perang Dunia II, Indonesia merupakan salah satu tujuan utama penaklukan Jepang di kawasan Asia Tenggara. Hal itu dikarenakan lokasinya yang sangat strategis serta kekayaan alam yang sangat melimpah yang dapat menjadi bahan baku untuk mendukung jalannya peperangan.

Sebagai upaya untuk menaklukan Hindia Belanda, Jepang mengerahkan 2 kapal penjelajah berat, 2 kapal penjelajah ringan, 14 kapal perusak, dan 10 kapal transport. Armada itu dipimpin Laksamana Muda Takeo Takagi.

Sedangkan sekutu, yang terdiri atas Australia, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris, mengerahkan 2 kapal penjelajah berat, 3 kapal penjelajah ringan dan 9 kapal perusak. Armada ini dipimpin Rear Admiral Karel Doorman. Dilihat dari kekuatannya, sekutu jelas kalah jumlah.

Akhirnya, pada 27 Februari 1942, armada Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDA) bersatu mencegat Jepang yang merangsek maju ke Hindia Belanda. Namun, Jepang menenggelamkan tiga kapal perusak (destroyer) dan dua kapal penjelajah (cruise), tanpa mengorbankan satu kapal pun milik pihak Negeri Sakura, sekutu pun dipermalukan.

Pertempuran berlangsung selama sehari penuh ini telah menewaskan 2.300 orang pelaut, kebanyakan merupakan prajurit sekutu. Termasuk komandannya, Laksamana Karel Doorman akibat pertempuran laut tersebut.

Dengan hasil yang sangat tidak berimbang, jelas pendaratan pasukan Jepang ke Pulau Jawa menjadi tidak terbendung yang kemudian mengakibatkan runtuhnya kekuasaan Belanda atas Indonesia.

Orang-orang Indonesia di Perang Laut Jawa

Dilansir dari Tirto, yang mengutip Buku Gedenkrol van de Koninklijke Marine 1939-1962 (102-190). di antara para korban dalam Pertempuran Laut Jawa, terdapat orang-orang Indonesia. Tercatat 25 orang meninggal dalam kapal perang Kortenaer dan 119 orang dalam kapal perang Java.

Kebanyakan dari yang tewas itu adalah kelasi, bedinde, juru api, dan juru minyak. Sementara di kapal perang De Ruyter terdapat 73 orang Indonesia yang gugur, 23 di antaranya pesuruh dan sisanya kelasi dek dan juru mesin.

Sementara dalam kapal Prins van Oranje yang tenggelam, terdapat 42 orang Indonesia yang tewas. Kapal lainnya adalah Hr.Ms. van Nes yang tenggelam pada 17 Februari 1942 di lepas Pulau Bangka, ini menewaskan 21 orang Indonesia.

Kapal selam Belanda lainnya yang hilang adalah K-17. Kapal ini berangkat ke Singapura pada 24 Desember 1941, di dalamnya antara lain terdapat 7 personel orang Indonesia.

Lalu dalam kapal selam Belanda K-7 yang ditorpedo Jepang pada 18 Februari 1942 terdapat 5 personel orang Indonesia. Dan dalam kapal selam O-16 yang nahas pada 15 Desember 1941 terdapat 6 personel orang Indonesia.

Meski banyak orang Indonesia yang menjadi korban dalam keganasan pertempuran itu, tetapi ada pula yang selamat. Mereka di antaranya adalah 23 personel kapal De Ruyter yang tenggelam, termasuk Tjip Boenandir yang bertugas sebagai juru minyak.

Kabar keselamatannya muncul di koran Soerabaijasch Handelsblad (06/04/1942). Mereka kebanyakan para bedinde (pesuruh) dan kelasi yang kemudian dibawa Jepang ke Surabaya.

Monumen memperingati Pertempuran Laut Jawa terdapat di Makam Kehormatan Belanda (Eereveld) Kembang Kuning di Surabaya. Sementara itu para jenazah anak buah kapal dan tentara Belanda, lebih banyak yang tenggelam bersama kapal mereka di Laut Jawa.

Kuburan perang yang hilang

Laut di sekitar Indonesia, Malaysia dan Singapura menjadi kuburan bagi lebih dari 100 kapal dan kapal selam selama Perang Dunia II. Namun, pada 2016 lalu kapal-kapal yang menyimpan banyak kenangan ini dikabarkan telah hilang.

Ada dalam daftar bangkai kapal yang dijarah adalah kapal penjelajah HNMLS De Ruyter dan HNLMS Java. Dua bangkai kapal Inggris juga lenyap. Berdasarkan investigasi, kapal Amerika Serikat USS Perch juga hilang diduga dipreteli dan diperlakukan sebagai barang rongsokan.

Setelah diadakan investigasi lebih lanjut, diketahui bahwa bangkai kapal tersebut dijarah untuk dijual sebagai besi tua, oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penjarahan bangkai kapal tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Besi tua dari bangkai kapal-kapal tersebut dianggap 'harta karun' bagi para penjarah. Misalnya, baling-baling dari kapal berukuran besar bisa dihargai mahal, nilainya mencapai US$ 40 ribu atau Rp 533 juta.

Tindakan penjarahan atas bangkai-bangkai kapal perang tersebut jelas tidak mempertimbangkan pentingnya nilai sejarah dari bangkai kapal perang tersebut. Terutama kepada korban pertempuran yang jasadnya masih terbaring di tanah Jawa.

Pemerintah Britania Raya mengaku telah melakukan investigasi soal nasib kapal mereka yang kini tak diketahui. Menanggapi hilangnya peninggalan PD II tersebut, Kemhan Inggris mengatakan mereka telah menghubungi pihak Indonesia.

"Banyak nyawa hilang selama pertempuran itu dan kami sangat berharap situs tersebut 'dihormati' dan tidak ganggu terutama tanpa izin dari Inggris," kata juru bicara Kemhan Inggris seperti dikutip dari Guardian.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini