Selempang Bima Sakti di Langit Ramadan, Galaksi yang Namanya Diusulkan Soekarno

Selempang Bima Sakti di Langit Ramadan, Galaksi yang Namanya Diusulkan Soekarno
info gambar utama

Saat anda bersantap sahur, ada fenomena langit yang sayang untuk anda lewatkan. Fenomena menarik ini bernama selempang galaksi Bima Sakti.

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Rhorom Priyatikanto menjelaskan fenomena antariksa Selempang Galaksi Bima Sakti yang dapat disaksikan dari April hingga Agustus 2021.

"Galaksi Bima Sakti itu bentuknya seperti piringan, sehingga kalau kita berada di piringan dan kita melihat sekeliling kita maka akan tampak lebih banyak bintang yang berada pada piringan tersebut," ujar Rhorom yang dilansir dari CNNIndonesia.com, Selasa (5/4)

Dirinya menjelaskan jika melihat ke arah langit pada malam di waktu tertentu, maka dapat terlihat seperti jalur di langit yang dihuni oleh banyak bintang. Kemudian bila melihat dari daerah perkotaan dan minim polusi udara dan cahaya, maka katanya, dapat terlihat banyak gugusan bintang pada jalur tersebut.

Sementara itu Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menjelaskan secara rinci fenomena langit yang dalam bahasa International disebut Milky Way ini. Menurutnya selempang galaksi Bima Sakti adalah bagian dari galaksi Bima Sakti yang bisa disaksikan dari Bumi.

Sementara itu Bima Sakti adalah salah satu galaksi terbesar di jagat raya dan berbentuk cakram, serta merupakan sekumpulan miliaran bintang di alam semesta ini.

Bintang-bintang ini, sebagian besar yang menyusun galaksi Bima Sakti yang terlihat dari tepian galaksi. Galaksi ini mengandung sekitar 100 hingga 400 miliar bintang.

Matahari beserta segenap tata surya terletak di tepi Bima Sakti, sehingga memungkinkan untuk memandang ke sebagian besar struktur galaksi ini.

Saat kita melihat dengan mata telanjang akan tampak seperti kabut atau awan di langit. Meski begitu, awan tersebut berbeda dengan awan yang muncul di langit pada siang hari.

Rhorom menjelaskan jika awan di siang hari akan bergerak apabila tertiup oleh angin, sebaliknya penampakan Selempang Galaksi Bima Sakti yang menyerupai awan ini akan tetap terlihat meski ada hembusan angin.

"Seperti awan tapi berbeda dengan awan biasa yang jika tertiup angin akan bergerak, tetapi Bima Sakti itu akan ajek (tetap/tidak berubah) di langit," ujar dia.

Waktu yang tepat untuk melihat

Marufin menjelaskan Selempang Bima Sakti merupakan bagian galaksi Bima Sakti yang bisa dilihat dari Bumi kita (yang berkedudukan di tepi galaksi). Menurutnya proses pembentukan galaksi Bima Sakti sendiri mengikuti mekanisme umum pembentukan galaksi di jagat raya kita.

Setelah jagat raya mengembang lewat peristiwa Dentuman Besar hingga melahirkan inti-inti atom ringan seperti hidrogen dan helium, beserta elektron dan partikel-partikel lainya.

Pada saat itu terjadi titik-titik kerapatan lebih tinggi yang kemudian berkembang menjadi taman pembibitan bintang-bintang generasi pertama.

"Bintang-bintang tersebut menyusun galaksi Bima Sakti purba," ujar pria yang juga menjadi Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIK) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKIF) Kebumen Jawa Tengah.

Marufin mengatakan, selempang galaksi Bima Sakti hanya bisa disaksikan di kawasan pedesaan atau kota kecil yang belum terpolusi cahaya (skala Bortle maksimum 3).

"Selempang Bima Sakti hanya bisa dilihat di daerah yang gelap yang memiliki skala Bortle maksimum 3," jelas Marufin.

Pada skala Bortle maksimum 3, ketampakan selempang ini menjadi indikator apakah lingkungan setempat telah terpolusi cahaya atau belum.

Tidak dibutuhkan alat bantu untuk melihatnya. Apabila hendak diabadikan atau difoto, dapat menggunakan kamera ponsel ataupun kamera lebih kompleks seperti DSLR.

Sementara itu Rhorom menjelaskan fenomena Selempang Galaksi Bima Sakti dapat dinikmati menjelang musim panas hingga puncak musim panas. Ia mengatakan fenomena ini akan lebih jelas pada bulan Juni hingga Agustus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika masyarakat ingin menikmati pemandangan dari fenomena itu, ia menyarankan untuk melihat pada pukul 20.00 hingga 03.00 waktu setempat ke arah rasi sagitarius dan scorpio.

"Masyarakat akan saksikan bagaimana pergerakan pusat Galaksi Bima Sakti dari hari ke hari," ujar dia.

Meski demikian, kata dia masyarakat dapat menikmati suguhan fenomena Selempang Galaksi Bima Sakti dari bulan April hingga Agustus 2021.

Diusulkan nama oleh Soekarno

Selempang Bima Sakti ternyata sudah dikenal sejak awal peradaban manusia, meski pada saat itu orang belum mengetahui bahwa selempang tersebut merupakan galaksi.

Di masa Yunani dan Romawi Kuno, selempang ini dikenal sebagai Via Lactea karena menyerupai aliran sungai yang berisikan susu. Sehingga, transliterasinya ke dalam Bahasa Inggris menghasilkan nama Milky Way.

Identitasnya sebagai kumpulan bintang-bintang yang sangat banyak baru diusulkan oleh para astronom Muslim sejak abad ke-10, seperti al-Biruni, Ibn Bajah, Nasiruddin ath-Thusi, dan lain-lain.

Konfirmasinya diperoleh pada era teleskop, saat Galileo Galilei mengarahkan teropongnya ke selempang Bima Sakti dan mendapatkan kumpulan bintang-bintang redup dalam jumlah besar.

Sementara itu penamaan Selempang Galaksi Bima Sakti pertama kali diberikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada tahun 1960an.

Pada saat itu, kata Rhorom, Presiden Soekarno ditunjukkan pusat galaxy bima sakti melalui teleskop. Dalam penamaan dengan semangat nasionalismenya, Soekarno menamakan fenomena itu dengan nama Galaksi Bima Sakti.

Diberikannya nama Bima Sakti, menurut Rhorom karena Presiden Soekarno melihat bagian yang sekilas tampak seperti wayang bima sakti. Maka diubahlah menjadi Galaksi Bima Sakti.

"Maka dari itu dengan semangat nasionalisme daripada kita menyebut Milky Way atau Via Lactea maka kita sebut saja sebagai Bima Sakti di tahun 1960-an," tutup Rhorom.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini