Sosok Perempuan di Balik Tinta Syair sang Pujangga Chairil Anwar

Sosok Perempuan di Balik Tinta Syair sang Pujangga Chairil Anwar
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Hari Puisi Nasional jatuh pada 28 April lalu. Perayaan ini dilakukan sebagai bentuk meresapi hakikat puisi sekaligus mengenang kepergian Chairil Anwar, seorang penyair revolusioner ternama Indonesia.

Menurut Chairil Anwar, Hasil Karya dan Pengabdiannya karya Sri Sutjianingsih (2009) karya Sri Sutjianingsih, pada masa penjajahan pemerintah Jepang, Jepang sangat tertarik dengan kesenian Indonesia. Namun, mereka tidak memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk berekspresi dalam seni dan budaya.

Pada saat itulah Chairil Anwar beranjak menciptakan revolusi dalam dunia sastra Indonesia. Ia mengenalkan aliran puisi baru, yaitu ekspresionisme, suatu aliran seni yang kental dengan kedekatan indera pada fenomena dan alam sekitar.

Aliran puisi ekspresionisme setidaknya membawa pembaharuan kesusastraan, merubah corak bahasa yang sudah menjadi batu usang di zamannya. Kaidah bahasa yang cenderung kaku dan terlalu mendayu. Membatasi kebebasan berekspresi sastrawan pada masa silam itu.

Kita bisa melihat dan merasakan nafas baru kesusastraan dari seluruh puisi ciptaan Chairil. Sebutlah puisi Chairil paling terkenal seperti “Aku” dan “Karawang-Bekasi”. Di situ kental sekali dengan ekspresionisme; pengalaman fisik yang seolah dekat dengan penyair maupun pembaca serta majas yang mengundang biru keharuan.

Ada pula puisi-puisi lain Chairil yang kental akan ekspresi cinta kepada para perempuan. Dengan menonjolkan imajinasi pernyataan cinta dan penyuluhan jiwa dalam bentuk aktivitas fisik.

Setidaknya terdapat 3 cara sang sastrawan revolusioner dalam menyebut nama para perempuan pujaan hati. Mulai dari baris-baris puisi bertuliskan Ida, menjadikan nama perempuan sebagai judul puisi (Tuti, Gadis Rasid, Sumirat, dan Dien Tamaela), hingga puisi persembahan (Karinah Moordjono, Sumirat, dan Sri Ajati). Berikut beberapa kisah perempuan tersebut.

Ida Nasution

Ida Nasution yang Diperankan Marsha Timothy | Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
info gambar

Lahir pada tahun 1924, Ida Nasution merupakan penulis hebat, kritis, dan berbakat. Terbukti dari prestasinya sebagai anggota redaksi majalah Belanda dan pengelola rubrik “Gelanggang” di majalah Siasat.

Ida diceritakan pernah mengelola rubrik “Gelanggang” bersama Chairil. Setiap harinya, Ida dan Chairil selalu melakukan perdebatan, tidak ada yang kalah dalam soal intelektualitas.

Tak jarang Chairil merayu Ida dengan sajak puitis berisi kata-kata manis meluluhkan hati. Namun, sosok Ida yang terlalu pintar dan idealis, menolak pernyataan cinta Chairil. Tidak mempan dihantam sajak rayuan.

Sri Ajati

Sri Ajati yang diperankan oleh Chelsea Islan | Foto: Kirani.id
info gambar

Tak patah arang dengan pernyataan cintanya yang ditolak mentah-mentah oleh Ida, Chairil memberanikan diri untuk melanjutkan kisah cintanya. Ia mencoba meloloskan puisi barunya kepada perempuan penyiar radio Jepang yang dikenalnya tempo hari, yaitu Sri Ajati. Puisi-puisi berjudul “Hampa –kepada Sri yang selalu sangsi” (Maret 1943) dan “Senja di Pelabuhan Kecil” (1946); pernyataan cinta bernuansa puitis lainnya.

Dien Tamaela

Dien Tamaela | Foto: okezone
info gambar

Sosok perempuan ketiga yang berhasil membuat Chairil jatuh cinta. Dien Tamaela, putri dokter pejuang kemerdekaan. Sahabat karib sekaligus pujaan hati Chairil saat remaja. Meninggal dunia di usia yang terbilang sangat muda.

Untuk mengenang dan mengabadikan kisahnya dengan Dien, Chairil menulis puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” (1946) dan “Cintaku Jauh di Pulau” (1946). Adapun puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” yang menyebutkan “Betta Pattiradjawane” merujuk pada ibu Dien yang tidak menyukai Chairil.

Gadis Rasid

Gadis Rasid | Foto: Hendi Johari/Historia
info gambar

Di saat Chairil menjabat sebagai redaktur “Gelanggang” di majalah Siasat, ia berkenalan dengan Gadis Rasid, wartawan di majalah itu. Gadis memiliki banyak pengetahuan tentang sastra dan budaya serta mengenal sastrawan modern termasyhur di Indonesia. Ia pun mengenal Chairil melalui pengetahuan yang dimilikinya.

Hapsah Wiriaredja

Hapsah Wiriaredja | Foto: Abdillah M Marzuqi/Media Indonesia
info gambar

Sosok perempuan yang sukses meloloskan pernyataan cinta Chairil hingga ke tahap pernikahan. Hapsah Wiriaredja bertemu dengan Chairil di Karawang. Beberapa pertemuan di sana yang membuat Chairil jatuh cinta, sungguhpun di antara mereka berdua pernah ada halangan.

Aura, pesona, dan karisma Hapsah membuat Chairil menaruh hati. Walaupun Hapsah tampak lebih gemuk daripada perempuan-perempuan pujaan Chairil sebelumnya, Chairil tetap mencintainya dengan tulus sepenuh hati.

Sampai-sampai Chairil-Hapsah sama-sama membuat panggilan sayang. Hapsah memanggil sayang Chairil dengan Nini, sementara Chairil menyapa Hapsah dengan Gajah. Chairil pernah kedapatan mengungkapkan cintanya kepada Hapsah dengan, “Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri pendidikan dan kebudayaan.”

Nah, itu dia beberapa sosok perempuan yang berhasil membuat Chairil Anwar jatuh Cinta. Mengantarkan ekspresi sajak pada tingkatan berikutnya.*

Referensi: CNN Indonesia | Historia | Kompas | Kumparan

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini