Tradisi Ramadan Jawa di Kaledonia Baru, Ada Nyadran Hingga Tahlilan

Tradisi Ramadan Jawa di Kaledonia Baru, Ada Nyadran Hingga Tahlilan
info gambar utama

Komunitas orang Jawa, selain di Suriname ternyata juga ada di negara Kaledonia Baru. Para diaspora ini pertama kali datang pada tahun 1896.

Keledonia Baru ditemukan oleh penjelajah James Cook pada 4 September 1774 ketika melakukan perjalanan keduanya di kawasan Pasifik. Ia menamakan wilayah ini New Caledonia karena teringat tanah kelahirannya, Skotlandia.

Wilayah ini mulai dikuasai Prancis pada tahun 1854. Saat itu Napoleon III mendirikan koloni hukuman dengan mengirimkan narapidana politik ke Kaledonia Baru.

Diperkirakan sekitar 22.000 narapidana dibuang ke sana hingga Gubernur Prancis di Kaledonia Baru, Paul Feillet memberi penghapusan hukuman dan kembali ke kampung halaman mereka. Kemudian diputuskan imigran dari Asia datang be-kerja di pertambangan dan perkebunan di wilayah ini.

Sementara, jumlah penduduk Kaledonia Baru kini mencapai sekitar 240 ribu jiwa. Sebanyak 25 ribu di antaranya atau lima persen dari populasi adalah Muslim.

Mayoritas penduduk, yakni 75 persen, masih memeluk agama Katolik Roma, sementara penganut Protestan 15 persen dan animisme lima persen.

Diaspora dari Jawa memang memberi peran penting bagi perkembangan Islam di Kaledonia Baru. Sedangkan sisanya adalah Muslim asal Aljazair dahulunya adalah tahanan politik yang dikirim ke Kaledonia Baru pada 1872. Umat Islam kebanyakan tinggal di bagian utara Kaledonia Baru.

Islam di Kaledonia Baru

Islam tiba di Kaledonia Baru lebih dari 100 tahun lalu. Muslim pertama di Kaledonia Baru merupakan orang Arab yang dibawa ke sana oleh bangsa Prancis selama kolonialisasi di Maghreb.

Umat Muslim tersebut berasal dari Aljazair dan Maroko, dan kebanyakan umat Muslim selanjutnya datang dari Indonesia. Umat Muslim ditemukan di seluruh Kaledonia Baru, khususnya di Bourail (di utara) dan Le Mont-Dore.

Terdapat total sekitar 25.000 Muslim di New Caledonia. Sebuah pusat Islam dibangun di Nouméa, dan rencananya akan dibuat yang lain di Bourail.

Pusat Islam Noumea merupakan tempat utama penyelenggaraan ibadah Islam di Kaledonia Baru. Lembaga ini menyelenggarakan perayaan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri, Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan lainnya.

Lembaga ini dan Konsulat Jenderal RI juga selalu menghidupkan malam-malam pada Ramadhan dengan menggelar shalat tarawih dan tausiah agama.

Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru (PMIK), Djintar Tambunan, menyatakan khusus bagi penduduk yang berasal dari Jawa, aktivitas keagamaan dan adat masih terus dilaksanakan meskipun jauh dari kampung halaman.

“Masih ada sunatan, pernikahan, atau upacara kematian yang tetap dilakukan hingga saat ini, termasuk yang dilakukan di Wisma Indonesia untuk memperkenalkan dan meneruskan kebudayaan Indonesia,” kata Djintar yang dikutip dari Republika, Sabtu (8/5).

Pusat Islam di Noumea juga menyediakan informasi tentang kebutuhan makanan halal bagi Muslim. Sebenarnya, tak sulit menemukan restoran halal di Kaledonia Baru. Sebab, sejumlah Muslim asal Jawa dan Arab membuka restoran halal, kebanyakan di sekitar Islamic Centre.

Selain tidak sulit menemukan kebutuhan khas Ramadan. Di Kaledonia Baru juga mudah ditemukan tradisi bulan suci, terutama dari Jawa.

Tradisi Ramadan Jawa di Kaledonia Baru

Saat ini tercatat ada sekitar 7.000 orang Jawa yang tinggal di Noumea, Kaledonia Baru. Kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi mereka bisa berbahasa Jawa.

Saat ini masyarakat keturunan Jawa di Kaledonia Baru sudah memasuki generasi kelima dan keempat. Mereka pun sudah bercampur baur dengan kelompok masyarakat lain di Kaledonia Baru.

Walau cukup dari jauh dari tanah leluhur, nuansa Jawa di Kaledonia Baru tetap begitu terasa. Bahkan, oleh keturunan mereka saat ini, masih tetap melestarikan budaya, salah satunya adalah Nyadran.

Dari asal usul katanya, Nydaran berasal dari Bahasa Sansekerta, sraddha yang artinya keyakinan. Setiap menjelang puasa Ramadan, masyarakat Jawa biasa datang ke makam leluhurnya dan kemudian berdoa.

Di Indonesia, umumnya tradisi ini dilakukan oleh umat muslim. Namun, di Kaledonia Baru ada potret berbeda yang unik dari pelaksanaan tradisi Nyadran.

“Di sana karena keturunan kita sudah kawin campur dengan komunitas lain bahkan mereka ikut dengan pihak suaminya dan sebagiannya mereka berpindah agama. Tapi satu hal yang menarik di Nyadran itu, selesai membersihkan makam bersama-sama, setelah Pak kiai berdoa secara Islam, dilanjutkan doa secara Katolik (agama mayoritas di Kaledonia Baru),” cerita Widyarka Ryananta, Konsul Jenderal RI di Kaledonia Baru tahun 2014-2017 yang dikutip dari Kumparan.

Widyarka juga bercerita, selain Nyadran masyarakat keturunan Jawa di Kaledonia Baru juga masih melaksanakan tahlilan untuk memperingati meninggalnya seseorang.

“Saya diundang oleh salah seorang keturunan kita di sana bahkan yang setahu saya beliau tidak menjalankan syariat Islam. Tapi karena itu pesan dari istilah beliau waktu itu neneknya bahwa kamu harus melakukan itu ya diikuti,” lanjut Widyarka.

Dalam tahlilan kala itu, banyak masyarakat keturunan Jawa diundang untuk hadir. Sebelum tahlilan dilaksanakan, masyarakat keturunan itu juga melaksanakan berbagai persiapan yang dinamakan rewang.

Biar pun masyarakat keturunan Jawa ini tinggal berjauhan, itu bukalah halangan untuk hadir Rewang. Mereka saat ini sudah banyak yang memiliki kendaraan seperti mobil. Jumlahnya pun tak hanya satu dua, bahkan bisa tiga buah

Saat tahlilan dilaksanakan, para anak cucu itu diperkenalkan kepada tamu undangan yang hadir. Berbagai hidangan pun disajikan untuk para tamu undangan selama acara.

“Makanan tradisi yang zaman kita sekarang mungkin sudah berkurang di Tanah Air kita. Di sana masih ada ingkung, masih ada jenang abang, jenang putih dengan segala macam kelengkapannya yang luar biasa,” sebut Widyarka.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini