Tradisi Beli Baju Lebaran, Bermula dari Banten dan Mengakar Hingga Hari Ini

Tradisi Beli Baju Lebaran, Bermula dari Banten dan Mengakar Hingga Hari Ini
info gambar utama

Pada masa pandemi Covid-19, banyak tradisi Ramadan yang tidak bisa dijalani oleh masyarakat. Pasalnya pemerintah mengeluarkan peraturan agar penyebaran virus tidak menyebar saat Ramadan.

Walau begitu beberapa tradisi tetap dipertahankan, bahkan mendapat dukungan dari pemerintah. Salah satunya tradisi membeli baju lebaran.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta masyarakat tetap menyambut Lebaran dengan penuh suka cita. Meski masih dibayangi pandemi COVID-19, momen satu tahun sekali itu disebut tetap bisa dirayakan dengan protokol kesehatan.

Ia mengatakan belanja misalnya online menjelang Lebaran untuk pembelian baju baru harus tetap dilakukan. Hal itu agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.

"Ada bagusnya juga Lebaran tetap pakai baju baru, beli baju baru supaya walaupun Zoom nanti pakai baju baru sehingga muncul aktivitas di masyarakat bisa terjadi. Jadi saya harapkan masyarakat tetap menyambut ini dengan gembira, dengan bersyukur namun kita juga menjaga supaya risiko terjadinya penularan tidak terjadi," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi April 2021, Kamis (22/4/2021).

Ternyata tradisi membeli baju lebaran sudah mengakar kuat dalam masyarakat. Pasalnya kegiatan ini sudah terjadi pada masa kesultanan Islam di Nusantara.

Tradisi beli baju lebaran dari Banten

Tradisi membeli baju lebaran sudah menjadi memori kolektif masyarakat Indonesia. Mengakar kuatnya tradisi ini karena sudah dipertahankan secara turun temurun.

Menurut Marwati Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buunya "Sejarah Nasional Indonesia" mencatat, tradisi membeli barang baru bahkan sudah dimulai sejak 1596 di Banten.

Abad itu, Banten berada dalam naungan Kesultanan Banten yang merupaka Kerajaan Islam. Agama dan kebudayaan Islam menjadi ruh masyarakat Banten.

Dahulu saat masa kesultanan menjelang Lebaran, mayoritas penduduk Banten sibuk mempersiapkan baju baru. Kebanyakan mereka berasal dari kalangan kerajaan.

Bagaimana dengan masyarakat biasa? Mayoritas orang awam kala itu hanya menjahit baju sendiri untuk dipakai di Hari Raya.

Ternyata waktu itu bukan hanya Banten yang memiliki tradisi serupa. Tepatnya di kerajaan Mataram Islam, Yogyakarta, warga yang mayoritas muslim melakukan tradisi yang serupa.

Terutama saat hari-hari terakhir bulan Ramadan, semua orang bersiap menyambut datangnya lebaran dengan baju baru.

Masyarakat Yogyakarta berbondong-bondong untuk mencari baju baru baik beli maupun menjahit sendiri baju barunya. Setelah lebaran semakin dekat, malam takbiran diiringi cahaya obor di sana sini.

Mirip tradisi orang Eropa

Menurut catatan Snouck Hurgronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial, kebiasaan membeli baju lebaran sudah ada pada abad ke-20. Bahkan kebiasaan membeli dan memakai pakaian baru anak negeri pada bulan 10 dalam kalender Islam itu mirip dengan kebiasaan orang di Eropa.

“Kebiasaan saling bertamu pada hari pertama bulan kesepuluh dengan mengenakan pakaian serba baru mengingatkan kita pada perayaan tahun baru Eropa,” terang Snouck dalam Islam di Hindia Belanda yang dilansir dari Historia.

Pembelian pakaian baru jelang Lebaran menyedot banyak biaya bagi anak negeri. Kebiasaan ini dikritik oleh dua pejabat kolonial: Steinmetz, Residen Semarang, dan De Wolff, pejabat Hindia Belanda.

Mereka menyebut pembelian baju baru, termasuk pula tradisi-tradisi lain untuk menyambut Lebaran, sebagai “sumber bencana ekonomi”.

Keberatan dua pejabat itu karena para bupati dan pamongpraja bumiputra ikut menggunakan dana pemerintah dalam menyambut Lebaran, termasuk pembelian pakaian baru.

Kala itu, para bupati dan pamongpraja bumiputra senang-senangnya menggunakan pakaian campuran ala tradisi setempat, pengaruh Islam, dan ala Eropa.

Namun hal berbeda terjadi kepada masyarakat jelata. Mereka tidak memiliki pilihan untuk membeli baju lebaran, karena sulitnya mencari bahan yang murah.

“Pakaian Barat ditabukan bagi banyak orang, Jika ada pengecualian maka ini berlaku bagi orang-orang yang dekat dengan Belanda,” ucap Kees van Dijk dalam “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”

Barulah pada tahun 1900, rakyat jelata mulai memiliki banyak pilihan untuk membeli pakaian baru. Harian De Locomotief, 30 Desember 1899, misalnya menggambarkan suasana orang-orang jelata yang mulai berpakaian Barat, mengikuti kegemaran.

Kebebasan memilih mode pakaian ini berimbas pada pertumbuhan industri tekstil di Hindia Belanda. Mode pakaian lebih beragam dan pasar penjualan melebar. Masa-masa menjelang Lebaran menjadi masa penjualan terbaik untuk mereka.

Dilansir dari Tirto, baju baru menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan lebaran. Bahkan, menjelang Idul Fitri, pusat perbelanjaan mengadakan pekan diskon untuk beragam produk, yang tentunya akan langsung diserbu oleh masyarakat.

Untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam membeli baju lebaran, bedasarkan riset atas 598 responden beragama Islam yang tinggal di Pulau Jawa. Dilakukan pada 18 Mei-1 Juni 2017, diketahui bahwa masih banyak masyarakat yang membeli baju baru untuk lebaran.

Berdasarkan riset Tirto, membeli baju lebaran memang masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat yang tinggal di pulau Jawa. Sebanyak 61,71 persen masyarakat menyatakan selalu membeli baju baru untuk lebaran setiap tahunnya. Ada 38,29 persen lainnya yang memang tidak selalu membeli baju lebaran.

Pusat belanja/mall masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk membeli baju lebaran (80,22 persen). Selain itu, masyarakat juga sudah mulai membeli baju lebaran secara online (8,67 persen). Hanya 0,81 persen masyarakat yang memilih menjahit pakaian lebarannya.

Bagi mereka yang selalu membeli baju lebaran, biaya yang dikeluarkan cukup besar. Sebanyak 34,69 persen masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa menyatakan mengeluarkan dana lebih dari Rp500 ribu untuk membeli baju lebaran. Yang mengeluarkan kocek kurang dari Rp200 ribu hanyalah 6,23 persen.

Hal ini semakin menunjukkan Ramadan merupakan periode konsumsi tinggi di Indonesia. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, dana yang dikeluarkan untuk membeli baju lebaran juga semakin besar.

Hingga sekarang masa lebaran tetap dianggap waktu untuk berbelanja bagi masyarakat. Walau tetap dihantui oleh pandemi, mereka tetap datang berbondong-bondong ke tempat perbelanjaan.

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini