Ziarah Kubur, Tradisi Mengingat Kematian yang Mengakar Kuat di Nusantara

Ziarah Kubur, Tradisi Mengingat Kematian yang Mengakar Kuat di Nusantara
info gambar utama

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang warga ibu kota melaksanakan ziarah kubur jelang dan saat Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah. Pelarangan ini membuat seluruh seluruh TPU di Ibu Kota bakal ditutup mulai 12 - 16 Mei 2021.

Hal ini disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, usai menggelar rapat koordinasi bersama Pangdam Jaya, Kapolda Metro Jaya, dan sejumlah pejabat daerah Jabodetabek.

"Kegiatan ziarah kubur ditiadakan mulai tanggal 12 Mei sampai dengan hari Minggu 16 Mei," kata Anies, di Balai Kota DKI, Senin (10/5/2021).

Pelarangan ini dimaksudkan guna mengantisipasi kerumunan yang berpotensi terjadi. Adapun kebijakan ini berlaku bukan cuma di Jakarta, tapi juga seluruh pemakaman di wilayah penyangga ibu kota.

"Seluruh pemakaman di Jabodetabek akan ditutup dari pengunjung untuk ziarah," sambung dia.

Masyarakat Indonesia memang memiliki kebiasaan untuk ziarah kubur, mengunjungi makam orang tua atau sanak saudaranya. Hal ini dilakukan sebelum datangnya bulan suci Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

Hal ini biasa dilakukan berbarengan dengan saat mudik. Sehingga, seseorang bukan hanya pulang kampung dan bersilaturahim dengan sanak saudara tapi juga mengenang anggota keluarga yang telah tiada.

Ternyata tradisi ziarah kubur tidak hanya terdapat dalam budaya masyarakat Islam. Tapi juga dalam kebudayaan lain, tradisi ini juga dilakukan dengan tujuan yang sama.

Tradisi Mengingat Kematian

Bagi masyarakat klasik Yunani dan Romawi Kuno, ziarah kubur dikenal dengan istilah memento mori. Hal ini secara harfiah diartikan menjadi 'ingatlah akan kematian'.

Hal ini serupa dengan berbagai praktik untuk mengunjungi pemakaman dan penghormatan terhadap leluhur di kebudayaan lainnya, yakni untuk mengingat bahwa kehidupan suatu saat akan berakhir.

Kematian merupakan subjek yang umum dibicarakan, karena dapat kita jumpai hampir setiap harinya. Namun, menyadari kematian diri sendiri yang tidak terelakan dan dapat menjemput kapan saja, merupakan hal yang jarang singgah di pikiran kita.

Konsep mengenai kematian sebagai gerbang menuju alam lain adalah salah satu kepercayaan tertua yang dijumpai di awal peradaban.

Hal ini juga ditenggarai merupakan alasan mengapa praktik penguburan jenazah serta ritual pasca-penguburan dan mengunjungi makam merupakan hal pertama yang muncul pada manusia sebagai suatu spesies, bahkan jauh sebelum adanya peradaban.

Ziarah memang tidak hanya milik islam atau jawa saja, setiap agama memiliki budaya ziarah tersendiri, pemeluk buddha misalnya berziarah ke kavilavastu. Umat khatolik mengunjungi nazaret sampai bukit golgata, bahkan sendangsono di Yogyakarta.

Islam tentu juga memiliki tempat-tempat suci yang dijadikan sebagai tempat ziarah, seperti Makkah dan Madinah, terutama saat mengunjungi Madinah para jamaah bisa dipastikan menengok makam Nabi Muhammad sampai makam para syuhada perang badar.

Namun keunikan Muslim Indonesia adalah akulturasinya dengan budaya lokal salah satunya akulturasi dengan budaya jawa, dan dalam konteks ziarah adalah terletak pada ritus nyekar. fenomena yang oleh kalangan muslim moderenis dianggap bid'ah hingga menjadi penyebab rusaknya akidah umat.

Mengakar Kuat di Nusantara

Konon, tradisi nyekar muncul berkat akulturasi budaya Islam-Jawa-Hindu, yang mana dalam kepercayaan Jawa, roh adalah abadi dan selalu “pulang” menemui keluarga pada setiap bulan “Ruwah” (dalam kalender Islam disebut Sya’ban). Ruwah berasal dari kata “Arwah” bentuk plural dari “Ruh” yang berarti roh.

Sehingga, menurut kepercayaan ini, bulan Ruwah merupakan momentum untuk saling bertegur-sapa antara mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup. Kemudian dalam Islam, ziarah kubur merupakan hal yang sangat positif dilakukan sebagai wahana mengingat akan kematian.

Saat di permakaman, peziarah biasanya akan membaca Surah Yasin dan tahlil, serta membersihkan makam kerabat atau sanak saudara yang terlihat kotor. Pada hari pertama perayaan Idul Fitri misalnya, ratusan masyarakat tampak memadati permakaman.

Sementara itu menyoal ziarah ke makam para leluhur menurut antropolog Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Argo Twikromo, merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman dahulu walaupun dalam perkembangannya juga kerap kali mengalami pembaruan.

Ketika melihat ziarah kubur, Argo juga menganggap hal itu memiliki hubungan dengan bagaimana kedekatan manusia dengan pendahulunya atau dalam arti bagaimana manusia menghargai jasa maupun pengalaman bersama mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

"Jadi, tidak hanya menjadi simbol tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tapi juga bagaimana cara kita menghargai asal-usul kita dari para orangtua," ucapnya yang dilansir dari MediaIndonesia.

Dalam tataran ritus jawa konsep ziarah dengan pendekatan islami secara bertahap dilakukan oleh para wali terutama para walisongo, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri. Pasalnya para wali memberi gambaran dan mengajarkan penyebaran islam tanpa kekerasan dalam bentuk apapun.

Maka ziarah juga bukanlah sebuah proses kekenesan atau mencari pelarian. Sebab dalam ritus ziarah ada kenangan akan nilai kemanusiaan yang agung.

Baca Juga :

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini