Ngejot, Tradisi Berbagi Makanan Bukti Toleransi Beragama di Bali

Ngejot, Tradisi Berbagi Makanan Bukti Toleransi Beragama di Bali
info gambar utama

Momen perayaan lebaran tidak luput dilakukan oleh masyarakat Bali. Meski masyarakat Pulau Dewata mayoritas manganut agama Hindu, namun masyarakat di sana juga menggelar kegiatan untuk memeringati Idulfitri.

Tradisi Ngejot menjadi kegiatan rutin umat beragama di Bali yang dilakukan untuk merayakan hari-hari penting kegamaan. Perayaan ini dilakukan dengan kegiatan berbagi makanan, minuman, dan buah-buahan, sebagai wujud syukur kepada tetangga yang memiliki toleransi tinggi.

Tradisi Ngejot dilakukan oleh umat Hindu, Islam, dan Kristen. Umat Islam melakukan tradisi tersebut menjelang Idulfitri, umat Hindu menerapkannya kala perayaan Galungan, Nyepi, dan Kuningan, sedangkan umat Kristen saat momen Natal.

“Orang Bali itu, untuk tetangga yang non-Hindu membuat makanan khusus yang tidak ada daging babinya. Biasanya kita masak daging ayam khusus untuk para tetangga non-Hindu seperti tetangga Muslim,” ungkap Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, I Gede Pitana, mengutip Kompas (13/5/2021).

Ia mengatakan bahwa toleransi masyarakat Bali sangat tinggi. Maka, pemberian makanan dalam tradisi ngejot kepada para tetangga masih dilakukan hingga kini.

Biasanya bingkisan ini berupa jajanan khas lebaran, dan beberapa buah buahan. Secara ekonomis, bingkisan ejotan (Sebutan makanan Ngejot) mungkin tak seberapa. Akan tetapi, makna simboliknya sangat besar. Dari tradisi ini bisa memupuk modal sosial antar tetangga dan kerabat meski berbeda agama.

"Mereka datang ke rumah sambil bawa ejotan, trus kita balas dengan ucapan selamat hari raya Galungan, indah kan?," Ucap Anis Choirunnisa (26), warga Desa Pejarakan Buleleng Bali, dalamp NU online.

Sejarah tradisi Ngejot

Tradisi Ngejot dipercaya sudah hadir sejak ratusan tahun silam. Ketika itu, wilayah desa Angantiga, daerah tempat ngejot berasal, dikuasai kerajaan Hindu. Beberapa waktu kemudian, masyarakat pendatang yang beragama Islam dari Bugis datang dan tinggal di daerah tersebut.

Kata "Ngejot" sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bali yang memiliki arti "memberi." Jenis pemberiannya bisa berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan

Mengutip Tirto, bedasarkan catatan Menyama Braya dalam "Pluralitas dan Integrasi Sosial Bali" mendeskripsikan bagaimana Islam pertama-tama masuk Bali. Pertama kali Islam datang ke Bali dalam rangka mengiring raja, bukan untuk menyebarkan agama.

Kala itu mereka disambut baik oleh para pemimpin di kerajaan Bali, yaitu dengan diberi tempat tinggal, tanah pertanian, dan juga tempat untuk mendirikan masjid. Tidak ada raja di Bali yang menekan umat Islam agar mengganti keyakinannya menjadi penganut Hindu.

Adanya peran raja-raja di Bali tersebut semakin mengokohkan eksistensi kehadiran Islam di Bali dan sekaligus menjadikan masyarakat Hindu di Bali terbuka serta bersahabat terhadap muslim. Hubungan dekat ini di Bali disebut sebagai ‘nyama selam’ yang artinya "saudara Islam."

Untuk saling menjaga kerukunan antara pengikut kedua agama tersebut, masyarakat berusaha membangun toleransi dengan saling membantu dan berbagi makanan ketika hari raya keagamaan mereka masing-masing. Tradisi ini yang sampai sekarang masih dilestarikan dan diistilahkan dengan Ngejot.

Sementara itu Kepala Kampung Angantiga, M Ramsudin, seperti ditulis Antara mengaku tidak tahu asal kata dan arti "Ngejot" karena warga hanya mewarisi hal tersebut dari leluhur.

Tradisi lainnya, kata dia, adalah "ngeraris", yang intinya juga berbagi kesenangan antara umat Hindu dan Muslim.

"Kalau ada pernikahan di kalangan muslim, saudara-saudara yang Hindu juga membantu, demikian juga sebaliknya. Kegiatan saling membantu itu disebut dengan 'metulung' atau saling tolong-menolong," katanya.

Mereka yang pertahankan tradisi

Tradisi Ngejot dilakukan jika seseorang baru mendapatkan pekerjaan atau mereka memiliki lauk cukup banyak. Tradisi tersebut bagian dari berbagi kebahagiaan kepada tetangga. Tradisi itu ternyata tidak hanya dilakukan pada saat menjelang hari besar keagamaan, namun juga bisa dilakukan saban hari.

Menurut Pitana, tradisi Ngejot bukanlah sekadar pertukaran makanan, melainkan sudah tentang keakraban. Hal tersebut juga menunjukkan saling percaya bahwa dalam makanan yang ditukar tersebut tidak akan mencelakai.

"Dalam kepercayaan di Bali, keakraban itu bisa ditunjukkan dengan makanan. Kalau orang kasih makanan kemudian kita tidak mau makan, itu bisa jadi petaka. Konflik besar," kata Pitana.

"Kalau kita kasih makan kemudian dimakan, segala permusuhan akan hilang karena sudah berani makan makanan yang diberikan orang lain," lanjutnya.

Meningkatkan indeks kerukunan beragama

Segala bentuk akulturasi tersebut merupakan bentuk berdamai masyarakat Bali dengan perbedaan. Nilai antar-agama satu dengan yang lain bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus saling meniadakan.

Hal ini terlihat dari Indeks Kerukunan Beragama (IKB) di Bali juga selalu berada di atas IKB Nasional. Misalnya di tahun 2018 ketika IKB nasional berada di angka 70,90, IKB di Bali mencapai 75,4. Sedangkan di tahun 2019, ketika IKB nasional mencapai angka 73,83, IKB Bali mencapai 80,1.

Bali menjadi contoh nyata bahwa dengan mengedepankan toleransi, kesetaraan dan kerjasama antar umat beragama bisa diwujudkan. Sehingga para pemeluk agama bisa hidup dengan damai.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini