Rindu Palestina pada Indonesia

Rindu Palestina pada Indonesia
info gambar utama

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.”

Kalimat bijak ini ada di Pembukaan Konstitusi Indonesia UUD 1945. Para pendiri bangsa ini apapun latar belakangnya menggodok kalimat itu dengan serius seperti membuat Visi bangsa berdasarkan pada sejarah bangsa masa lampau, termasuk masa- masa penjajahan, karakter bangsa, nilai-nilai luhur yang ada di semua suku di negeri ini dsb; menjadikan kalimat itu sebagai jati diri bangsa, Khittah bangsa yang selalu melawan penindasan dari satu bangsa terhadap bangsa lainnya.

Sikap bangsa seperti itu dalam soal percaturan internasional, menjadikan Trade Mark khusus Indonesia dimata negara-negara di Asia, Afrika, Timur Tengah yang mengalami penjajahan (umumnya dari Inggris, Belgia, Prancis, Italia, Spanyol, Portugis, Jerman).

Pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, banyak negara-negara di kawasan itu menaruh hormat kepada bangsa Indonesia karena dianggap telah memberikan semangat agar merdeka dari penindasan. Konferensi Asia Afrika di Bandung juga menjadi harapan besar bagi negara-negara tersebut karena memberi insipirasi kuat untuk bediri sendiri lepas dari penjajahan.

Padahal pada saat itu negara kita ini statusnya negara miskin (poor country), tapi toh disegani dunia karena sikap tegasnya melawan penjajahan.

Saya diwaktu kecil tahun 50 an sering mendengarkan pidato para pemimpin bangsa termasuk presiden Soekarno yang membela mati-matian negara-negara yang dijajah. Saya merasakan “suasana revolusi” mendengar pidato-pidato itu, bahkan seingat saya, Indonesia dulu pernah mengundang pejuang wanita Aljazair namanya Djameela ke Indonesia (juga ke Surabaya?).

Djameela itu salah satu pahlawan Aljazair melawan penjajah Perancis, ditangkap dan disiksa dengan sadis oleh penguasa Perancis.

Karena itu, persoalan pendudukan Israel atas bangsa Palestina seharusnya menjadikan perhatian khusus bangsa Indonesia mengingat memang jati diri bangsa ini melawan penjajahan seperti yang termaktup dalam preamble UUD 1945 tersebut.

Selain itu mengingat Palestina lah salah satu negara di Afrika dan Timur Tengah yang mengakui pertama kali secara resmi Kemerdekaan Indonesia; bahkan disebutkan dalam sejarah ada seorang pengusaha Palestina bernama Muhammad Ali Taher yang mengambil dana pribadinya di bank Arabia untuk disumbangkan kepada Indonesia agar dapat mencapat kemerdekaannya.

Konflik Israel-Palestina ini yang harus dipahami adalah bukan konflik agama antara Yahudi menyerang Islam. Konflik ini adalah soal kemerdekaan Palestina artinya baik warga Palestina yang mayoritas Islam maupun yang beragama Nasrani sama-sama berjuang menuntut hak mereka untuk merdeka dan menuntut hak atas tanah airnya.

Kalau kita lihat susunan kabinat gerakan Al-Fatah/PLO ada menteri yang beragama Nasrani. Ini sama halnya di Indonesia dulu, semua warga, suku apapun agamanya berjuang bersama-sama melawan penjajah Belanda dan Jepang. Pertempuran 10 November di Surabaya melawan Inggris itu melibatkan Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra dsb dari berbagai latar belakang suku dan agama.

Ada pendapat umum yang mempertanyakan kenapa seluruh negara-negara Arab yang jumlah penduduknya lebih 400 juta tidak mampu mengalahkan Israel yang jumlah penduduknya kurang dari 10 juta. Persoalannya tidak semudah itu. Israel mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat dalam berbagai hal; disebutkan bahwa Israel itu adalah “Sekutu Sejati” Amerika Serikat, dalam bahasa sederhananya “sampai kiamat pun Isreal adalah sekutu AS” atau dalam bahasa Arek Suroboyo “Konco Sak Mateke” (persahabatan sampai akhir hayat).

Selain ini, negara-negara sekutu AS di Eropa juga selalu berpihak pada Israel. Di Prancis misalnya Menteri Dalam Negerinya meminta polisi untuk melarang demonstrasi yang membela Palestina dalam kasus pengsuiran warga palestina dari tanah kelahirannya, dan penyerbuan tentara Israel di Masjid Al-Aqsa. Polisi di Yunani juga dengan kerasnya menindak demonstran yang mendukung Palestina.

Sebutan “The War on Gaza” sebenarnya tidak tepat disebut Perang di Gaza, karena pihak yang diserang dalam hal ini Palestina tidak memiliki apa-apa, tidak punya tank, tidak punya kapal perang, tidak punya pesawat tempur, ekonominya hancur dsb. Sementara Israel memiliki segala-galanya terutama dukungan negara-negara barat. Jadi tepatnya sebutan itu adalah “The Onslaught of Gaza” atau Pembataian Gaza.

Sementara itu negara-nagara Arab yang kaya raya itu tebelah fokusnya, karena memiliki persoalan politik dalam negerinya masing-masing, juga menerima tekanan dari Amerika Serikat karena ketergantungannya yang besar. Karena itu dalam kejadian penyerangan Israel ke Gaza negara-negara kaya itu hanya mengeluarkan pernyataan mengutuk Israel.

Bahkan Mesir yang digadang-gadang dunia Arab hanya berharap kedua pihak yang bertikai menahan diri. Hanya Turki yang nampak berjuang sendiri meyakinkan para raja-raja dan pemimpin negara-negara Arab itu untuk bersikap tegas melawan Israel. Presiden Turki Erdogan bahkan mengatakan meskipun sendirian akan mengirim tentaranya untuk membela Palestina.

Penyerbuan Israel ke Palestina itu juga merupakan perang para “Influencer” dan “Buzzer” global yang sebagian besar berada di pihak Israel. TV-TV di Amerika Serikat dan Eropa hanya menyiarkan “penderitaan” rakyat Israel akibat di rudal pejuang Palestina dari Gaza.

Sementara kebrutalan Israel menyerang orang Palestina didalam Masjid Al-Aqsa maupun pengusiran warga Palestina dari tanahnya dan penyerbuan ke Gaza memperoleh porsi sedikit dalam pemberitaan. Karena itu tidak heran Presiden AS Joe Biden ketika menelpon PM Israel Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel punya hak untuk mempertahankan diri (Israel has the right to defend itself) dan mengabaikan pembataian Israel di Yerusalem dan Gaza.

Akibat media yang berat sebelah itu, banyak warga negara-negara barat yang memiliki persepsi bahwa bangsa Arab Palestina itu pembunuh dan Israel sebagai pihak yang mederita.

Sebaliknya TV-TV di Turki menyiarkan dengan “full coverage” kebrutalan Isreal, diskusi dengan para ahli yang membahas sikap seenaknya sendiri Israel. Saya pribadi berkhayal media di Indonesia gencar menyiarkan secara khusus agresi Israel itu, ada sidang DPR yang membahas penderitaan Palestina dsb.

Tapi khayalan saya itu tidak terjadi karena kenyataannya berita tentang konflik itu hanya menjadi “bagian kecil” dari suatu berita. Di luar itu program seperti biasanya ditayangkan seperti sinetron tentang perselingkuhan, komedi, arus mudik, anggota KPK yang dipecat karena tidak lulus tes kebangsaan, soal ajakan presiden jokowi untuk membeli babi panggang sebagai oleh-oleh dsb.

Bahkan, di beberapa sosial media bisa kita jumpai ada warga kita yang mati-matian membela Israel dan mengecam Palestina (kebanyakan narasinya sama dengan narasi pemberitaan media barat), malah ada yang menghina agama mayoritas bangsa Palestina.

Saya jadinya tidak merasakan “suasana revolusi” seperti waktu kecil ketika presiden Soekarno berteriak lantang “Inggris Kita Linggis”; “Amerika Kita Setrika”; dan semua warga tanpa kecuali mendukung sikap negara melawan penindasan.

Memang Indonesia sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengecam tindakan Israel, tapi banyak yang menyayangkan pernyataan itu dibacakan menteri luar negeri, tidak keluar langsung dari presiden. Sementara negara-negara lain para presiden dan rajanya lah yang yang langsung mengeluarkan pernyataan negaranya. Hal ini menunjukkan sikap serius suatu negara.

Sikap Indonesia yang lebih tegas dan aktif memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina itu yang sangat dirindukan warga Palestina karena sejatinya watak bangsa Indonesia yang membela kebenaran dengan menolak segala bentuk penjajahan itu di patrikan secara abadi di pembukaan konstitusinya. Sikap yang tidak tegas membela kaum yang tertindas merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus professional di kota kelahirannya, Surabaya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini