Kekah, Monyet Endemik yang Jadi Ikon Kepulauan Natuna

Kekah, Monyet Endemik yang Jadi Ikon Kepulauan Natuna
info gambar utama

Kabupaten Natuna terkenal dengan penghasil minyak dan gas, serta kaya akan keindahan parawisatanya. Keanekaragaman Sumber Daya Alam Hayatinya pun sangat melimpah. Wilayah ini merupakan Kabupaten yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan paling utara di Selat Karimata dan berada paling jalur pelayaran Internasional Hongkong, Jepang, Korea, dan Taiwan.

Saat datang ke pulau ini, selain dapat menikmati keindahan panoramanya. Wisatawan akan disambut dengan beragam satwa endemik yang sulit ditemukan di daerah lain, salah satunya Kekah Natuna.

Kekah yang merupakan salah satu dari fauna yang ada di Kepulauan Riau. Binatang ini terdapat di Pulau Bunguran Besar yang kaya akan flora dan faunanya. Sayangnya binatang ini sudah hampir punah karena ulah manusia sendiri.

Banyak sekali orang yang ingin memelihara monyet ini, karena secara morfologi bentuknya sangat lucu dan unik, tubuhnya dibalut oleh bulu-bulu berwarna hitam tebal dan diselingi warna putih. Selain itu hewan ini juga mudah jinak, dan dianggap memiliki nilai prestisius bila memeliharanya.

Salah satu warga Natuna, Naen mengatakan untuk sekarang jarang sekali bisa melihat hewan tersebut. Jika bertemu itu seperti keberuntungan yang sangat jarang bisa didapatkan.

"Di hutan aja adanya. Itu pun sangat jarang menampakkan diri," ucapnya, mengutip Kumparan.

Dari riset Universitas Indonesia pada 2003 masih ada puluhan ribu. Kini, diduga jauh menurun. Salah satu indikasinya, sudah jarang menemukan kekah saat ini.

“Sekarang, pengamatan saya hanya tinggal antara 5.000-7.000 saja,” prediksi Boy Wijanarko, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna, dalam Mongabay Indonesia.

Baca juga Satwa Misterius Terpantau di Belantara Sulawesi Utara

Satwa Kekah yang Diburu dan Dijual

Satwa endemik ini termasuk dalam kategori rentan akan kepunahan dan termasuk 25 jenis primata yang hampir punah dengan jumlah kurang dari 10.000 ekor pada tahun 2001. Kekah masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Organisasi persatuan internasional untuk konservasi alam dan sumber daya alam dalam status rentan punah atau vulnerable (VU).

Ancaman kepunahan Kekah ini salah satu penyebabnya adalah kehilangan habitat akibat konversi lahan dan perburuan. Lahan atau habitat yang semakin berkurang menjadikan Kekah tidak memiliki dan merasakan habitat aslinya.

Luas hutan di Pulau Natuna memang mengalami penurunan, antara lain karena alih fungsi menjadi area terbangun dan lahan pertanian maupun perkebunan masyarakat. Data Global Forest Watch menunjukkan, kurun waktu 10 tahun terakhir, Pulau Natuna kehilangan sekitar 15 persen tutupan hutan primer.

Selain itu perburuan liar juga mengurangi populasi Kekah yang ada di Pulau Bunguran. Banyak orang memang menginginkan untuk memelihara Monyet Kekah ini. Bagi orang yang tidak bisa mendapatkanya secara langsung maka terdapat beberapa orang yang menjual belikan fauna ini. Terlebih dengan harga yang cukup mahal untuk setiap Kekah.

Harga yang dipatok untuk setiap Kekah yang dijual kepada pelanggan cukup menguntungkan untuk penjual, dengan harga Rp300 ribu hingga Rp800 ribu. Harga ini bergantung pada Kekah itu sendiri, terlebih jika hewan ini jinak dan terlatih maka harga akan semakin tinggi.

Selain dua penyebab itu, Putri dan dua peneliti lain, Kurnia Latifiana dan Ika Yuni Agustin menemukan sebagian masyarakat menganggap kekah sebagai hama. Saat musim buah tiba, kekah sering mendatangi kebun buah dan mendahului pemilik kebun untuk “panen” buah masak.

Kekah juga sering memasuki lahan pertanian yang berdampingan dengan hutan, dan memakan sayur dan buah petani. Bagi petani karet, kekah dianggap hama karena seringkali memakan dan merusak karet muda.

“Menyikapi itu, sebagian besar masyarakat hanya menghalau kekah menjauh dari kebun dan lahan pertanian,” kata Putri, pada Mongabay Indonesia.

Baca juga Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan

Wisata Primata Sebagai Upaya konservasi Kekah

Beberapa upaya harus dilakukan untuk konservasi kekah Natuna seperti, peningkatan kesadartahuan masyarakat akan status konservasi dan nilai penting kekah, maupun konservasi habitat eksisting. Salah satunya dengan mengembangkan wisata minat khusus yakni primate watching.

Melalui primate watching ini, pengunjung diajak melihat primata asli Natuna sebagai upaya menumbuhkan perhatian dan kepedulian.

Letak geografis Natuna yang dekat dengan negara tetangga dengan keindahan alam serta keragaman budaya, menjadi modal dasar promosi konsep wisata minat khusus ini. Kalau berjalan baik, primate watching dapat satu strategi konservasi kekah sekaligus sumber pendapatan masyarakat.

“Tentu saja ini membutuhkan usaha lebih dan energi tidak sedikit,” tambah Putri.

Untuk wisata fauna Kekah, maka wisatawan perlu memerhatikan lingkungan yang ada sebagai habitat asli dari Kekah, jangan sampai merusak karena akan sangat berdampak untuk Kekah sendiri sebagai binatang yang hidup disana. Kekah akan bergantung kepada tempat tinggalnya, jika kehilangan maka harus mencari yang baru dan beradaptasi.

Jangan memberikan makanan yang wisatawan bawa kepada Kekah, karena wisatawan juga tidak tahu makanan apa yang seharusnya Kekah makan. Selain dari kerusakan habitat dan perburuan, Kekah juga bisa mengalami kepunahan karena konsumsi yang tidak sesuai.

Kepulauan Natuna, terletak di perairan antara Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Vietnam dan Kamboja. Di gugusan Kepulauan Natuna ini Pulau Natuna atau Bunguran Besar dengan luas sekitar 172.000 hektare, dengan panjang 65 km dan lebar 45 km.

Beberapa satwa lain juga ada di pulau ini, semisal Kukang (Coucang natunae) dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis pumila). Beberapa jenis satwa langka seperti dugong, penyu belimbing (Dermochelys coreacea), dan buaya muara (Crocodilus porosus) juga ada di Pulau Natuna.

Baca juga 8 Tahun Hilang, Katak Pohon Endemik Jawa Mendadak Nongol di Sukabumi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini