Kisah Ali Topan Anak Jalanan dan Wajah Anak Muda Jakarta Era 70-an

Kisah Ali Topan Anak Jalanan dan Wajah Anak Muda Jakarta Era 70-an
info gambar utama

Penulis novel Ali Topan Anak Jalanan, Teguh Esha, meninggal dunia pada Senin (17/5/2021) pukul 7.23 WIB di RS Dr Suyoto, Bintaro, Jakarta Selatan. Almarhum juga dikenal sebagai wartawan yang juga sastrawan. Kabar meninggalnya Teguh Esha disampaikan oleh Evry Joe selaku Humas Parfi. Evry lantas mengungkapkan duka yang mendalam atas meninggalnya Teguh Esha.

“Kita merasa kehilangan sosok penulis besar, penulis sebuah cerita legenda Ali Topan Anak Jalanan dan film ini terus dikenal menjadi sebuah cerita atau sebuah film layar lebar. Film ini cukup melegenda di negeri kita Indonesia,” ucap Evry yang dikutip dari Kompas, Rabu (19/5).

Dirinya juga menyampaikan bahwa karya Teguh Esha akan terus dikenang oleh banyak orang. Terutama kepada dunia sastra dan juga perfilman.

"Selamat jalan Bang Teguh Esha dan karya-karya Anda menjadi ladang amal untuk dikenang selamanya oleh masyarakat pencinta film Indonesia,” tuturnya.

Memang bagi dunia kesenian, novel Ali Topan Anak Jalanan bukan hanya sekadar karya. Tapi juga perwakilan realitas wajah anak muda jakarta pada masa itu. Novel tersebut dibuat pada 1970-an dan populer pada zamannya, bahkan hingga saat ini. Novel tersebut bahkan sudah difilmkan.

"Saya kira belum ada novel yang sekelas itu. Dia mengubah banyak anak muda, membuat anak muda mengidentifikasikan dirinya sebagai Ali Topan, jadi pada gondrong. Kalaupun sudah terlanjur gondrong, dia menyebut dirinya sebagai Ali Topan," ujar Haris Jauhari, wartawan senior Indonesia mengutip Republika.

Tokoh Ali Topan pertama kali muncul dalam cerita bersambung di majalah Stop pada tahun 1972. Teguh Esha kemudian mengembangkan cerita bersambungnya menjadi film dengan judul Ali Topan Anak Jalanan, dengan dia sendiri sebagai sutradaranya.

Menurut Haris, Ali Topan merupakan gambaran diri Teguh Esha tentang pikiran-pikiran, dan obsesi-obsesi almarhum yang ingin menegakkan keadilan. Semua dituangkan Teguh Esha dalam sebuah novel. Hal ini ditambah dengan kemasan cinta yang diramu secara menarik.

Ali Topan dan jiwa pemberontak

Remaja laki-laki selalu digambarkan sebagai sosok nakal, jahil, urakan, dan suka melanggar peraturan. Ali Topan kemudian menjadi salah satu ikon remaja tahun 70an yang jauh dari kesan tunduk. Sejatinya, Topan adalah siswa SMA yang hobi bolos bersama geng motornya. Tidak ada tempat bagi Topan untuk mengeksplorasi diri selain di jalanan. Tidak di rumah maupun di sekolah.

Kebiasaan bolos inilah yang membuatnya bertemu dengan Anna Karenina, seorang gadis cantik yang merupakan murid baru di sekolah Topan. Pertemuan ini menumbuhkan benih-benih cinta, walau akhirnya ditentang oleh keluarga Anna.

Topan digambarkan sebagai anak laki-laki yang hidup dalam keluarga disfungsional. Ayahnya lebih banyak berada di luar rumah dengan dalih bekerja, sama seperti ibunya yang beberapa kali dipergoki Topan asyik-masyuk dengan pria lain.

Pada sisi lain, Anna justru mengalami situasi keluarga dengan kontrol penuh. Keharmonisan kedua orangtuanya menghasilkan efek dominan dan protektif yang berlebihan. Orangtuanya yang sangat menjaga anaknya dan mementingkan image keluarga, malah justru kebobolan. Kakaknya kawin lari.

Simbol-simbol pemberontakan juga tampak dari atribut yang dipasang Topan, yakni sebuah poster di kamar Topan yang bertuliskan “A house is not a home”. Jalanan menjadi tempat bagi Topan bermain sekaligus belajar sesuatu tanpa embel-embel formalitas.

Walau begitu, di sekolah Topan tetap mempertahankan kecerdasannya, menjadi yang paling cepat selesai setiap ujian. Jalanan tidak lagi bermakna sesuatu yang membuatnya liar, tetapi justru membuatnya bertahan dan mencari cara untuk bertahan.

Ali Topan hadir dengan mengusung semangat crossboy, generasi yang berada di persimpangan jalan. Teguh sendiri mengartikan istilah crossboy sebagai “kebebasan dengan keliaran”. Semangat generasi ini bisa dipahami melalui keseharian Topan dan kawan-kawan yang ‘besar’ di jalanan.

Mengutip Tirto, Korie Layun Rampan dalam bukunya Perjalanan Sastra Indonesia (1983) menyatakan bahwa tokoh Ali Topan merupakan prototype remaja pada tahun 70an. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang ekspresif, brutal, bahkan kadang-kadang tampak superhuman atau superman, demikian melansir Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemendikbud.

Wajah anak muda Jakarta era 70-an

Munculnya perang dingin antara dua blok kekuatan usai Perang Dunia II; Amerika dan Uni Soviet, menumbuhkan kejenuhan dan semangat damai anti perang di kalangan anak muda Amerika Serikat, Kanada dan Eropa Utara.

Hippies lalu muncul sebagai sebuah gagasan tentang cara hidup atau cara pandang alternatif atau berbeda dengan kehidupan yang dominan berlaku pada saat itu.

Kaum hippies ini menjadi mudah dikenali karena secara kasat mata dapat dilihat dari penampilannya yang eksentrik: rambut panjang, jenggot yang dibiarkan tak dicukur, pakaian longgar aneka warna (psikedelik), sandal, kalung, gelang dan perempuannya tidak memakai bra

Semangat flower generation yang dibawa oleh kaum hippies ini, ketika masuk dan mempengaruhi gaya hidup muda-mudi Indonesia, lebih pada persoalan imitasi gaya hidup dan penampilan daripada simbol pemberontakan terhadap kemapanan seperti yang terjadi di negara asalnya.

Pada saat Ali Topan Anak Jalanan diluncurkan tahun 1977. Jakarta baru saja mengalami banyak pembangunan lokasi ikonik seperti Pekan Raya Jakarta, Monas, sampai tempat judi.

Hal ini menambah semangat-semangat baru dan juga peluang untuk menampilkan wajah baru yang masih asing. Ditambah lagi dengan kian terbukanya Indonesia dengan budaya luar, yang terwakili oleh lagu-lagu Barat yang diperdengarkan sepanjang film.

Topan juga hadir sebagai perwakilan anak muda Jakarta yang mengalami culture shock, konsekuensi dari perubahan yang perlahan-lahan hadir. Juga bisa sebagai pemberontakan dari institusi-intitusi sosial yang selama ini dianggap masyarakat sebagai zona nyaman, dan mencoba hidup mandiri.

Selain itu Ali Topan, misalnya, menyoroti soal tante girang, istilah bagi ibu-ibu yang suka berselingkuh dengan para pemuda. Menurut Teguh, yang dulu rajin nongkrong di kawasan Blok M, para mahasiswa atau pemuda bergaya seperti mahasiswa banyak yang beredar di kawasan Melawai dan Bulungan.

"Mereka lantas dijemput tante girang dan dibawa, biasanya ke Puncak,” kata pengarang yang pernah mendapat pengakuan dari mahasiswa dan tante girang itu, mengutip Tempo.

Tante girang sebenarnya gejala sosial yang selalu muncul di tiap zaman. ”Masa itu gejala ini dieksploitasi oleh novel-novel, sehingga bisa jadi ibu-ibu itu malah kemudian terilhami berbuat demikian,” katanya

Menurut dia, lahirnya media semacam itu akibat kejenuhan terhadap politik dan euforia kebebasan pers, yang diperkirakan Teguh pada 1968-1972. ”Itu zaman pers kuning, yang isinya ramuan horor, porno, dan judi,” ujarnya.

Walau begitu Ali Topan, menurut Teguh, memiliki karakter dan spirit. ”Kalau James Dean berontak tanpa alasan, Rebel without a Cause, Ali Topan berontak dengan alasan,” katanya. Ali Topan melawan segala ketidakadilan dan mempertanyakan segala yang dirasanya tak adil. ”Dia berani bila benar dan takut bila salah,” kata Teguh.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini