Legenda Akek Antak, Jejak Islamisasi di Bangka Belitung dan Kearifan Lingkungan

Legenda Akek Antak, Jejak Islamisasi di Bangka Belitung dan Kearifan Lingkungan
info gambar utama

Masyarakat Bangka Belitung pernah dihebohkan dengan penemuan telapak kaki raksasa di atas sebuah batu granit besar. Telapak kaki berukuran raksasa yang disebut sudah ada sejak zaman purbakala ini, foto-fotonya tersebar melalui jejaring sosial media.

Foto yang sempat viral pada 2017 lalu ini disebut merupakan telapak kaki Akek Antak (Kakek Antak). Pada keterangan photo, bekas telapak kaki berukuran raksasa itu berada di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

"Telapak kaki manusia purba atau tapak kaki dari Akek Antak. Ayo viralkan," tulis Jum Ra dikutip dari laman akun Facebook miliknya.

Karena penemuan ini banyak yang meminta adanya penelitian lebih lanjut. Juga berharap lokasi tersebut bisa menjadi destinasi wisata bagi masyarakat.

"Jejak kaki raksasa ini harus diteliti secara mendalam, tampaknya ada keterkaitan dengan yang cerita yang ada di Toboali, Batu Belimbing di Kabupaten Bangka Selatan dengan cerita Akek Antak," tulis akun dengan nama Didik Suryadi.

Baca juga Dua Geopark Indonesia akan Didaftarkan ke UNESCO

Legenda Akek Antak, sangat populer di masyarakat Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Disebutkan bahwa Akek Antak merupakan tokoh sakti yang pernah hidup di masa lalu.

Mengutip dari Mongabay Indonesia,Kulul Sari, pegiat sejarah dan budaya Bangka, Minggu (02/5/2021), menjelaskan ada sejumlah batu yang dikaitkan dengan legenda Akek Antak. Misalnya telapak kaki, tudung atau caping, dan lainnya.

“Telapak kaki ditemukan di empat lokasi. Jejak itu ada pada batu granit. Misalnya di Desa Puput, Simpang Katis [Kabupaten Bangka Tengah], Tanjung Samak, Pesisir Pantai Tuing [Kabupaten Bangka], Pantai Sampur [Pangkalpinang], dan Hutan Mangkak, antara Desa Bakam dan Mabat [Kabupaten Bangka]. Semua jejak itu diakui warga sebagai milik Akek Antak,” terangnya.

Setidaknya ada beberapa tempat persinggahan Akek Antak yang selalu di sebut-sebut orang. Sementara tempat tinggal tetapnya ada di Kelekak Durian yang berada di gugusan Bukit Permisang di Kecamatan Simpang Rimba.

Tempat-tempat yang di maksud yaitu Gunung Maras di Bangka Induk. Menurut kisah orang tua-tua, dari Kelekak Durian ke Gunung Maras, ia tempuh hanya dalam 7 langkah.

Islamisasi di Pulau Bangka

Segala sepak terjang yang di lakukan Akek Antak, selalu menjadi buah bibir yang abadi sepanjang masa. Kesaktiannya tak seorangpun yang meragukannya, dan jejaknya selalu menimbulkan tandatanya.

Bahkan, Seorang penulis muda, Teungku Sayyid Deqy, sangat tertarik untuk mengabadikan sosok Akek Antak ini, yang akhirnya dituangkan dalam tulisan. Deqy mengatakan bahwa Akek Antak itu tokoh yang benar-benar ada dan nyata.

"Akek Antak hidup di sekitar abad ke 10 Masehi. Akek Antak merupakan tokoh wali yang paling fenomenal, namun dianggap sebagai tokoh mitologi yang berhasil merebut semua komposisi lisan masyarakat Bangka," ujar Teungku Sayyid Deqy (Dalam bukunya Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka).

Syekh Abdul Rasheed atau Akek Antak meski berasal dari tanah Arab yaitu Hadhramaut, Yaman namun mempunyai hubungan emosional dengan kewalian Turki.

Dinasti para Syarif lah yang menunjukkan gelar Akek Antak dari garis Alawiyyin yang tersambung ke Nabi Muhammad SAW. Banyak juga berkembang di Turki dan bisa jadi Akek Antak pernah tinggal di Turki lalu hijrah ke Aceh, Cirebon lalu Bangka.

Begitulah secuil penggalan buku karya Teungku Sayyid Deqy, pria kelahiran Belinyu Kabupaten Bangka. Dia meneliti, menyusun, merangkai 'tali temali' tentang penyebaran agama Islam di Pulau Bangka.

Deqy memperkirakan, Akek Antak seorang sufi atau ahli tasawuf dari Arab. “Sebab dalam cerita masyarakat Bangka, sosok Akek Antak itu putih, tinggi besar, dan sering disebut Arab Putih,” katanya.

Sebagai seorang sufi, Akek Antak lebih mengutamakan upaya penyucian jiwa dan menjernihkan akhlak. Dan dapat dikatakan tidak mengutamakan ritual.

“Merusak alam tentu saja bertentangan dengan upaya menyucikan jiwa dan menjernihkan akhlak,” kata Deqy.

Baca Juga Depati Amir, Menyatukan Masyarakat Melayu dan Tionghoa di Pulau Bangka

Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai jalur pelayaran penting setidak-tidaknya sejak awal abad ke-5 Masehi terbukti dengan ditemukannya kapal-kapal karam. Bukti lain adalah kapal karam yang salah satu di antaranya berasal dari abad ke-9 Masehi dengan muatan barang-barang mewah.

Kapal dagang tersebut berasal dari Arab yang pada saat itu sudah menganut Islam. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui, bahwa Kepulauan Bangka Belitung sudah bersentuhan dengan Islam sejak abad ke-9 Masehi. Pada saat itu Islam belum masuk dan dianut oleh masyarakatnya.

Berdasarkan data arkeologi dan naskah beraksara Jawi yang ditemukan dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Bangka berasal dari Palembang dan dibawa oleh ulama keturunan Arab.

Hingga menjelang pertengahan abad XX atau sekitar dekade 1940-an, dakwah dengan sistem pengajian di rumah-rumah penduduk oleh ulama Banjar, masih berlangsung di Pulau Bangka. Salah satu ulama dimaksud yakni KH Mansyur Al Banjari yang menetap di Desa Petaling Kecamatan Mendobarat.

Manusia purba dan kearifan terhadap lingkungan

Sigit Eko Prasetyo, arkeolog dari Balar Sumsel, kepada Mongabay Indonesia, yang melakukan penelitian gambar cadas (Rock Art) di Bukit Batu Kepale, Gunung Permisan, Bangka Selatan, mengatakan sangat mungkin legenda Akek Antak terkait masa megalitikum di Pulau Bangka.

“Gambar cadas itu menandakan adanya kehidupan manusia purba di Pulau Bangka. Keberadaan batu-batu yang dikaitkan legenda Akek Antak sangat mungkin terhubung dengan kehidupan manusia di masa megalitikum,” katanya, Kamis (06/5/2021).

Sementara itu penelitian Mongabay Indonesia, melihat beberapa kelompok masyarakat yang kuat hubungannya dengan legenda Akek Antak memang sangat arif dengan lingkungan. Misalnya hubungan masyarakat Suku Lom dengan hutan.

Hubungan masyarakat Suku Jerieng dengan pangan lokal dan sebagainya. Hutan diposisikan sebagai supermarket dan apotek.

Seperti yang dipaparkan oleh H. Juli salah satu tokoh masyarakat desa Belilik, menceritakan Bandar Akek Antak masih dipahami oleh masyarakat namun angkatan tua saja. Menurutnya, Akek Antak mengajarkan untuk cinta terhadap terhadap alam dan menjaga lingkungan sekitar.

Baca Juga Tradisi Penolak Bala Khas Bangka Belitung

Hal ini ditandai dengan adanya kelekak atau hutan adat yang ada di desa Permis yang tidak boleh dirusak karena ada hukum adat tidak tertulis atas dasar cerita yang terdahulu dan erat kaitannya dengan Akek Antak.

Sebelum kisah Akek Antak, pada abad ke-7, Kedatuan Sriwijaya menguasai Pulau Bangka. Ini ditandai dengan Prasasti Kota Kapur tertanggal 28 April 686 Masehi yang dikeluarkan Dapunta Hyang, pendiri Kedatuan Sriwijaya.

Saat dikuasai Kedatuan Sriwijaya, di Kota Kapur sudah ada kelompok masyarakat yang memeluk agama Hindu. Temuan arkeologis berupa arca Wisnu dan Lingga berbentuk bulat telur, menunjukkan, mereka pemuja Dewa Wisnu dan Siwa.

Dilihat dari ajaran tersebut, diperkirakan para penganutnya sangat melindungi alam, atau tidak merusaknya karena merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

“Jadi, sangat mungkin, manusia awal yang menetap di Pulau Bangka ini sangat arif terhadap lingkungan. Baik di masa sebelum Kedatuan Sriwijaya maupun di masa hidupnya Akek Antak,” papar Kulul Sari.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini