Sejarah Topi Bambu, Primadona Kerajinan Warga Tangerang

Sejarah Topi Bambu, Primadona Kerajinan Warga Tangerang
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Kota Tangerang merupakan tetangga Ibu Kota Jakarta yang lebih dikenal sebagai kota metropolitan kedua. Demikian, Kota Tangerang dilihat sebagai salah satu tonggak budaya modernisasi di Indonesia.

Padahal, Kota Tangerang memiliki kekayaan budaya luhur yang begitu memukau. Jika Kawan bertandang ke kota ini, akan ditemukan berbagai macam budaya dan kearifan lokal, mulai dari makanan khas, bahasa daerah, hingga adat istiadat.

Kota Tangerang berkomitmen tinggi dalam merawat budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya. Pewarisan nilai-nilai sosial budaya terus dilestarikan, supaya dapat menjaga identitas Kota Tangerang dan memberikan pendidikan kepada masyarakat lokal.

Seni kerajinan topi bambu menjadi tumpuan harapan Kota Tangerang dalam merawat dan menjaga nilai-nilai lokalnya. Hal ini bisa dilihat dari eksistensi topi bambu dari masa pendudukan kolonial hingga masa sekarang. Tak hanya bernilai historis, topi bambu pun dijadikan salah satu komoditas penting warga Tangerang untuk memajukan ekonomi lokal.

Baca Juga: Habib Bugak Asyi, Sosok yang Berwakaf di Makkah untuk Aceh

Awal mula kemunculan topi bambu di nusantara

Ilustrasi Penenunan Topi Bambu oleh Masyarakat Setempat | Foto: Historia.id
info gambar

Dilansir dari Historia.id, kemunculan topi bambu di Tangerang bermula dari kehadiran seorang saudagar asal Cina di tanah Jawa pada abad ke-19. Ia datang jauh-jauh dari Kota Manila, Filipina, untuk melanjutkan ekspansi dagangnya.

Namun, si saudagar mengurungkan niatnya setelah melihat banyaknya bahan-bahan pembuat topi bambu di Jawa, seperti bambu dan serat pandan. Ia lebih memilih untuk memperkenalkan topi bambu kepada masyarakat lokal.

Produksi topi bambu pun berlangsung, para penduduk beserta seluruh anggotanya turut terlibat di dalamnya. Baik anak kecil maupun orang dewasa, perempuan maupun laki-laki, semuanya mengambil peran dalam memproduksi topi bambu. Mereka membuat topi bambu dengan keterampilan, ketekunan, dan kesabaran tinggi.

Dilansir dari merdeka.com, alasan mengapa hampir semua masyarakat setempat memilih untuk beralih profesi dari petani menjadi pengrajin topi adalah permasalahan ekonomi. Pada masa itu, terjadi pelemahan harga padi di neraca perdagangan Belanda sehingga harga padi menurun secara drastis dan tidak laku di pasaran.

Baca Juga: Cerita Pondok Kopi, Perkebunan Kopi Pertama Belanda di Tanah Jawa

Namanya semakin populer hingga mancanegara

Ilustrasi Pembuatan Topi Bambu pada Masa Pendudukan Kolonial | Foto: About Tangerang
info gambar

Demi mendorong roda ekonomi lokal dan meningkatkan pendapatan finansial masing-masing, masyarakat setempat berburu untuk menjual topi bambu dengan harga miring. Ini pun memikat para pelancong dari berbagai belahan dunia untuk bertandang ke Batavia dan membeli topi bambu.

Banyak dari pelancong itu yang membeli topi bambu dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga dua kali lipat di negeri mereka masing-masing. Topi bambu yang dibeli seharga dua gulden 50 sen di Batavia, misalnya, dijual kembali di Marseilles dengan harga 12 franc.

Perputaran bisnis topi bambu antara pelancong-masyarakat setempat pun memberikan kemakmuran bagi para pelancong. Dikutip dari The Netherlands Indies, Vol 3, seorang pedagang bernama Petit Jan membeli jutaan topi bambu milik masyarakat setempat per tahunnya untuk dijual kembali di Paris.

Baca Juga: Sosok Perempuan di Balik Tinta Syair sang Pujangga Chairil Anwar

Saking larisnya penjualan topi bambu Tangerang di Paris, banyak perusahaan ikut membeli langsung topi bambu di Hindia ketimbang di Prancis. Alasannya tak lain untuk mengoptimalkan profit bisnis mereka. Ini terlihat dari upaya ekspansi perusahaan Olivier, Muller & Co. dari Paris menuju Batavia dan Tangerang pada 1901.

Dari Prancis, topi-topi bambu Tangerang pun merambah ke berbagai tempat, seperti Eropa, Amerika, dan Inggris. Negara-negara tersebut berperan dalam meningkatkan popularitas topi bambu Tangerang. Dengan menambah perhiasan di sekitar permukaan topi bambu, dijadikan pelengkap fesyen, dan lain sebagainya.

Pemerintah Hindia Belanda pun tak mau ketinggalan mengambil kesempatan ini. Mereka menjadikan bisnis topi bambu Tangerang sebagai wadah mendulang laba pemerintahan. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan ekspor topi bambu tangerang, dari 23.538.000 pada 1928 menjadi 25.613.300 pada 1929.

Sisi kelam bisnis topi bambu

Ilustrasi Membuat Topi Bambu | Foto: Antara
info gambar

Meskipun bisnis topi bambu terlihat memukau oleh para pebisnis di luar negeri, faktanya terdapat sejarah kelam yang begitu menyayat hati masyarakat. Menurut pandangan Thomas B. Pleyte, Menteri Urusan jajahan dari 1913-1916, semua anak-anak kecil dipaksa untuk membantu menenun topi. Selain itu, pendapatan masyarakat lokal pun tak kunjung meningkat.

Kisah topi bambu Tangerang diakhiri dengan peristiwa Depresi Ekonomi pada 1930-an. Walaupun bisnisnya sempat kembali berjalan semasa pendudukan Jepang, kejayaan topi bambu Tangerang tidak kunjung kembali. Seusai kemerdekaan Indonesia, bisnis topi bambu Tangerang kembali bergerak tapi tak lagi seproduktif dulu.*

Referensi: Historia.id | merdeka.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini