Film Tjoet Nja' Dhien yang Diproduksi Tahun 1988 Kembali Diputar Ulang

Film Tjoet Nja' Dhien yang Diproduksi Tahun 1988 Kembali Diputar Ulang
info gambar utama

Film Tjoet Nja Dhien akan kembali tayang di bioskop Indonesia pada bulan Mei ini. Bedanya, film Tjoet Nja' Dhien keluaran tahun 1988 ini akan ditayangkan dalam versi yang lebih jernih usai direstorasi di Belanda.

Sejatinya, film ini akan diputar dibeberapa bioskop seperti di Plaza Senanyan, selain itu empat bioskop lain yang akan menayangkan, di Pondok Indah Mall (PIM) 1, Trans Studio Mall (TSM) Cibubur, Blok M Square dan Bekasi.

Pada pemutaran perdana film ini dihadiri langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir, yang menurutnya hal itu merupakan salah satu langkah untuk bisa mengingat kembali sejarah perjuangan para pahlawan.

“Ini adalah salah satu cara untuk kita menghargai karya anak bangsa dan juga mengingat sejarah perjuangan para pahlawan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang cinta atas karya seninya,” kata Erick di Plaza Senayan, Kamis (20/5/2021).

Pemeran Tjoet Nja Dhien, Christine Hakim pun memberikan apresiasi atas kehadiran pemerintah dalam pemutaran film ini. Dirinya menilai kehadiran para pejabat bisa mendorong masyarakat untuk ikut menonton film nasional.

Baca jugaHabib Bugak Asyi, Sosok yang Berwakaf di Makkah untuk Aceh

"Kehadiran Meneg BUMN diharapkan ikut mendorong masyarakat untuk menyaksikan film tentang kepahlawanan nasional ini," kata pemeran utama Tjoet Nya' Dhien, Christine Hakim dalam rilis resminya dikutip dari Antara, Rabu (19/5).

Disebutkan bahwa, penayangan ini bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan rencananya akan dilanjutkan di berbagai kota lainnya seperti Surabaya, Semarang, Makasar dan Medan.

Film Tjoet Nja Dhien adalah sebuah epos sejarah kepahlawanan Indonesia yang disutradarai oleh Eros Djarot pada tahun 1988 lalu.

Dibintangi oleh Christine Hakim sebagai Tjoet NJa' Dhien, Piet Burnama sebagai Panglima Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar, dan Rudy Wowor sebagai tokoh pendukung.

Sinopsis Film Tjoet Nja' Dhien

Film Tjoet Nja' Dhien merupakan film biopik yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita asal Aceh bernama Tjoet Nja' Dhien. Ia dan teman-teman seperjuangannya bertempur melawan tentara Belanda yang menduduki Aceh.

Film ini juga menceritakan tentang suami pertama Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku Ibrahim meninggal akibat kejadian yang bermula pada November 1873, selama Ekspedisi Aceh Kedua, yang kala itu Belanda berhasil merebut VI Mukim pada tahun 1873, diikuti perebutan Istana Sultan pada tahun 1874.

Pada tahun 1875, Cut Nyak Dien dan bayinya dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, sementara suaminya Teuku Ibrahim Lamnga berjuang untuk merebut kembali VI Mukim. Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dalam aksi di Gle Tarum pada 29 Juni 1878.

Setelah mendengar ini, Cut Nyak Dien bersumpah membalas dendam terhadap Belanda. Beberapa waktu setelah kematian suaminya, seorang pria Aceh bernama Teuku Umar (Slamet Rahardjo) melamarnya.

Meskipun pada awalnya dia menolaknya, Cut Nyak Dien akhirnya menerima lamaran dengan syarat diizinkan ikut berperang. Teuku Umar pun menyetujui dan mereka menikah pada tahun 1880.

Baca jugaKuah Beulangong, Sajian Kuliner Khas Serambi Mekkah yang Hanya Boleh Dimasak Kaum Pria

Tjoet Nja' Dhien dikenal sebagai wanita berpendirian tegas melawan penjajah. Sifat kerasnya itu sampai membuat Tjoet Nja' Dhien dikhianati oleh teman setianya.

Hal itu membuat Tjoet Nja' Dhien mau tak mau harus turun tangan menghadapi tentara Belanda bersama para pejuang lainnya. Ia bahkan terus ikut ke medan perang dalam kondisi yang sudah tidak lagi prima.

Kondisi Tjoet Nja' Dhien yang rabun dan encok membuat Panglima Laot merasa iba. Perjuangan panjangnya melawan penjajah pun membuat Tjoet Nja' Dhien berkorban banyak demi kemerdekaan Indonesia.

Tak hanya menceritakan hal-hal dilematis yang dialami Tjoet Nja' Dhien, film ini juga memperlihatkan kesulitan yang dialami pihak Belanda saat bertempur melawan tentara Aceh dalam perang yang berlangsung selama 31 tahun tersebut.

Hal ini terlihat karena setelah ditangkap, Dhien masih menjadi penyemangat perlawanan rakyat Aceh. Pemerintah kolonial sampai harus membuang Dhien ke Sumedang, Jawa Barat, untuk memutus hubungannya dengan rakyat Aceh.

Film yang borong banyak penghargaan

Produksi film Tjoet Nja’ Dhien memakan waktu yang tidak sebentar. Film itu mulai diproduksi tahun 1985, kemudian dirilis tiga tahun kemudian.

Christine mengaku merasa terbebani karena tidak menemukan referensi sosok Cut Nyak Dien. Arsip dan pencatatan sejarah yang kurang membuatnya kesulitan mendalami peran sebagai sosok pahlawan asal Aceh itu.

"Sayangnya, penulisan sejarah dan arsip tentang almarhum (Cut Nyak Dien) sangat terbatas sekali," kata Christine, dalam Pemutaran Film & Diskusi Tokoh SK Trimurti & Laksamana Malahayati, di Jakarta (28/8/2019), dalam Medcom.

Sementara saat itu, hanya buku sejarah Belanda yang menceritakan sosok pejuang Aceh ini. Kurangnya pencatatan sejarah, membuatnya mesti putar otak mencari tahu sendiri sosok panutannya itu.

Mengutip Kompas, Christine Hakim menceritakan, para pemain tidak dibayar dan justru membantu mencari dana produksi.

Baca juga Masjid Tuha Indrapuri, Saksi Bisu Kerajaan Hindu di Aceh

"Kami enggak ada yang dibayar. Mas Slamet (Rahardjo), saya, enggak ada yang dibayar. Bahkan kami nyari duit untuk bisa film ini selesai," ungkap Christine Hakim usai premier restorasi film itu di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (20/5).

Sementara itu, aktor Slamet Rahardjo Djarot yang menjadi pemeran Teuku Umar, suami Tjoet Nja' Dhien mengatakan, film itu dibuat dengan modal nekat.

"Kami orang gila kumpul, enggak punya duit bikin film. Ini dibikin dua tahun bukan gara-gara prosesnya, tapi syuting dua bulan duitnya habis, nyari duit lagi," tutur Slamet Rahardjo.

Namun semua kerja keras tersebut bisa dibayar lunas dengan berbagai penghargaan yang didapatkan. Baik dari dalam maupun luar negeri.

Film ini menyabet delapan Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 1988 yakni Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Eros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik ( Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi).

Selain itu, film ini sempat diajukan Indonesia kepada Academy Awards ke-62 tahun 1990 untuk penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik, tetapi tidak lolos dalam pencalonan nominasi. Cut Nja' Dien juga menjadi film Indonesia pertama yang tampil di Festival Film Cannes tahun 1989 di Perancis.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini