Mengenal Yuniarto, Desainer Wayang di Film ''Raya and The Last Dragon Shadow Puppet''

Mengenal Yuniarto, Desainer Wayang di Film ''Raya and The Last Dragon Shadow Puppet''
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

Wayang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih dalam cerita perwayangan pun bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana. Kisah-kisahnya mengandung filsafat serta kebudayaan dari Hindu dan India.

Kendati begitu, penerapannya di Indonesia sendiri telah diserap dan disesuaikan dengan kebudayaan di Indonesia. Belakangan ini, tersiar kabar bahwa Yuniarto telah membanggakan nama Indonesia dengan mendesain wayang untuk film “Raya and the Last Dragon” dengan nama “Raya and the Last Dragon Shadow Puppet Performance”.

Baca juga Indonesia: Tempatkan Pasukan Perdamaian Internasional di Palestina

“Raya and the Last Dragon Shadow Puppet Performance” diadaptasi sebagai pertunjukan wayang kulit Asia Tenggara (Southeast Asian shadow puppet performance). Penceritaan kembali dari visual film ini dibuat oleh The Digital Dalang Project. The Digital Dalang Project adalah sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri pada wayang kulit otentik budaya dari seluruh dunia. Kemudian, dikombinasikan dengan proyeksi digital modern.

Raya and The Last Dragon Shadow Puppet Performance

Kisah “Raya and the Last Dragon Shadow Puppet Performance” diadaptasi dari “Raya and the Last Dragon”. Kisahnya bercerita tentang perjalanan Raya di dunia fantasi Kumandra. Kumandra adalah tempat manusia dan naga yang hidup berdampingan sejak berabad-abad lamanya. Tapi, ketika kekuatan jahat mengancam negeri itu, para naga mengorbankan diri mereka untuk menyelamatkan umat manusia

Saat ini, 500 tahun kemudian, kejahatan yang sama telah kembali dan hanya tergantung pada seorang pejuang tunggal, Raya. Raya berjuang untuk mencari naga terakhir legendaris agar dapat memulihkan tanah Kumandra yang telah terpecah.

Di sepanjang perjalanannya nanti, Raya akan belajar bahwa ada hal lain yang dibutuhkan dibutuhkan daripada sekadar naga untuk menyelamatkan dunia. Hal itu adalah kepercayaan dan kerja tim yang mampu menyelamatkan tanah Kumandra.

Baca juga Tampah dari Indonesia, Jadi Karya Seni yang Dijual Seharga Jutaan di AS

“Raya and the Last Dragon Shadow Puppet Performance” menampilkan beberapa pengisi suara, yaitu Kelly Marie Tran sebagai suara Raya yang berperan sebagai prajurit pemberani, Awkwafina sebagai naga legendaris bernama Sisu, Gemma Chan sebagai musuh bebuyutan Raya bernama Namaari, dan Daniel Dae Kim sebagai ayah visioner Raya bernama Benja.

Kemudian, ada pula Sandra Oh sebagai ibu Namaari yang kuat bernama Virana, Benediktus Wong sebagai Tong, raksasa yang tangguh, Izaac Wang sebagai Boun seorang pengusaha berusia 10 tahun, Thalia Tran sebagai Noi Kecil balita nakal, Alan Tudyk sebagai Tuk Tuk sahabat dan moda transportasi terpercaya Raya, Lucille Soong sebagai Dang Hu pemimpin negeri Talon, Patti Harrison sebagai kepala negeri Ekor, dan Ross Butler sebagai kepala negeri Spine.

Mengenal Is Yuniarto

Is Yuniarto dilahirkan di Semarang dan memulai minatnya dalam menggambar komik sejak masih kecil. Ia sangat aktif dalam mengikuti berbagai pameran dan kompetisi menggambar komik saat masih kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Komik pertama Is berjudul Wind Rider. Komik ini adalah hasil dari kolaborasinya dengan John G Reinhart pada tahun 2005. Wind Rider diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Baca juga Kian Meroket, UMKM Indonesia Semakin Dikenal di Mata Dunia

Komik itu menerima banyak pujian dari penggemar komik lokal, Wind Rider dinominasikan dalam penghargaan Komikasia Award tahun 2005 dalam tiga kategori yang berbeda, yaitu Best Cover, Best Character, dan Best Comic.

Kemudian di tahun 2007-2009, Is menerbitkan trilogi komik Knights of Apocalypse. Trilogi tersebut adalah hasil kolaborasinya bersama dengan John G Reinhart dan Aswin Agastya. Trilogi komik Knights of Apocalypse kemudian dikenal dengan nama Garudayana.

Selain dua komik tersebut, Is juga menciptakan “Spirit of Nusantara”. “Spirit of Nusantara” adalah komik manga pertama tentang pendekar-pendekar dari berbagai penjuru nusantara.*

Referensi: Kemendikbud | Fandom

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini