Tanpa Keramaian di Borobudur, Begini Perayaan Hari Waisak di Tengah Pandemi

Tanpa Keramaian di Borobudur, Begini Perayaan Hari Waisak di Tengah Pandemi
info gambar utama

Setiap tahun, umat Buddha merayakan hari Waisak untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu kelahiran Siddharta Gautama, pencapaian pencerahan yang sempurna, serta kematiannya.

Hari Waisak juga dianggap sebagai momen ulang tahun Buddha dan tanda pencerahan Buddha ketika ia menemukan makna hidup. Umat Buddha akan merenungkan ajaran Buddha dan apa artinya menjadi seorang Buddhis, sebutan bagi umat Buddha.

Tanggalan hari Waisak setiap tahun akan berbeda-beda. Ini karena perhitungannya berdasarkan bulan purnama penuh pada kalender lunar kuno Vesakha. Biasanya, Waisak tak jauh-jauh dari sekitar Mei atau Juni.

Para Buddhis merayakan Waisak dengan tradisi di daerahnya masing-masing. Biasanya, mereka akan pergi ke kuil. Ada beberapa orang yang suka tinggal di kuil sepanjang hari dan pada malam bulan purnama. Pastinya, mereka akan melakukan perbuatan baik, meditasi, membawa persembahan ke kuil, berbagi makanan, dan merenungkan ajaran Buddha.

Imbauan Kemenag soal perayaan Waisak di masa pandemi

Kementerian Agama (Kemenag) Bali mengimbau masyarakat selalu mematuhi aturan protokol kesehatan dengan menjalankan 5 M saat hari Waisak, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Dikutip dari dari surat imbauan dari Kemenag Bali, berikut cara merayakan merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2565 BE tahun 2021:

  1. Pujabakti dan Meditasi Detik-detik waisak pada tanggal 26 Mei 2021 pukul 18.13.30 WIB agar tidak dilaksanakan secara massal dengan menghadirkan umat dalam jumlah banyak baik di lingkungan rumah ibadah maupun tempat umum.
  2. Rangkaian acara menyambut Hari Wasiak seperti pengambilan api dan air melibatkan umat dalam jumlah banyak ditiadakan.
  3. Pujabakti dan Meditasi Detik-detik Waisak di rumah ibadah dapat dilaksanakan terbatas hanya untuk anggota sangha dan/atau pengelola/pengurus rumah ibadah, dengan memperhatikan status zona di mana rumah ibadah berada (hanya zona hijau dan kuning yang memungkinkan).
  4. Umat Buddha disarankan melaksanakan Pujabakti dan Meditasi Detik-detik Waisak di rumah.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi/media sosial dan/atau melakukan live streaming terkait perayaan Tri Suci Waisak 2565 BE tahun 2021.

Perayaan Waisak sebelum pandemi

Di Indonesia, biasanya umat Buddha akan merayakan festival lampion Waisak di Candi Borobudur. Pada acara ini, mereka akan melepas ribuan lampion. Namun, berhubung tahun ini kita masih dihadapkan dengan suasana pandemi, perayaan Waisak pun tak bias diselenggarakan semeriah biasanya.

Menurut Penyelenggara Bimbingan Masyarakat Buddha Kanwil Kemenag Kabupaten Magelang, Saring, sudah dua tahun ini perayaan Waisak tidak diadakan di Borobudur. Kata Saring kepada suarajawatengah.id, perayaan Waisak disarankan untuk dilakukan secara virtual. Pun bila ada perayaan di vihara, bisa dilakukan di zona hijau dengan pembatasan peserta.

Jika saja pandemi covid-19 tidak ada, maka orang-orang akan berbondong-bondong ke Candi Borobudur. Maha Bikhsu Dutavira Sthavira, Koordinator Dewan Sangha Walubi, mengatakan kalua tahun ini, detik-detik Hari Raya Waisak akan terjadi pada pukul 18.00 WIB. Jadi arak-arakan air dan api biasa jam 13.00 WIB (mulai) jalan dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon, hingga berakhir di Candi Borobudur.

Selain acara di Candi Borobudur, tentunya berbagai daerah lain punya tradisi masing-masing. Misalnya, kirab agung amisa puja di Yogyakarta. Umat Buddha di sana biasanya menyambut detik-detik Waisak dengan mengarak replika Sang Buddha sambil membawa persembahan menuju ke pelataran Vihara Giriloka.

Rombongan kirab biasanya akan kompak menggunakan pakaian adat Jawa. Usai kirab, mereka akan melakukan sembahyang dan pembacaan paritta suci Waisak lalu acara ditutup dengan perayaan darma sakti.

Di Jambi, masyarakatnya biasa mengikuti Festival Candi Muaro di kompleks Candi Muaro. Rombongan umat Buddha akan melakukan berbagai ritual Waisak, dari mulai mengitari candi, sembahyang, hingga semadi dipimpun biksu. Ketika ritual usai, mereka akan melepas lampion pada dini hari.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini