Asal Mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar

Asal Mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

Kereta api menjadi salah satu pilihan moda transportasi yang dapat mempermudah masyarakat, khususnya di Jabodetabek. Berbicara tentang kereta api tentu saja tidak lepas dari stasiun, tempat pemberhentian kereta.

Di Jabodetabek sendiri, terdapat banyak sekali stasiun yang dapat membawa penumpang berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Salah satunya adalah Stasiun Duri, stasiun kereta api yang letaknya ada di jalan Kali Anyar, Tambora, Jakarta Barat dengan jalur bercabang menuju Tangerang.

Stasiun Duri berada di kawasan kumuh, sebab tidak sedikit gubuk liar yang berdiri di sekitar jalur kereta api. Seringkali, keberadaan gubuk liar ini membuat perjalanan kereta api yang ingin melintas menjadi terganggu.

Apabila terjadi gangguan atau rel yang patah di selang Jakarta Kota dan Manggarai, semua kereta akan dialihkan untuk melintas dari jalur Stasiun Duri. Begitulah seperti yang dituliskan dalam laman Stasiun Duri.

Baca Juga:Jung Jawa Kapal Raksasa Legendaris yang Serang Portugis di Malaka

Asal mula Stasiun Duri

Stasiun | Duri Liputan 6
info gambar

Asal mula Stasiun Duri diawali dengan cerita tentang perkeretaapian di Batavia (Jakarta). Perkeretaapian di Batavia (Jakarta) diselenggarakan oleh tiga buah perusahaan, yaitu Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Batavia Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS), dan Staatssporwegen (SS).

Dilansir dari laman Heritage KAI, NISM adalah perusahaan kereta api swasta, yang pertama kali membangun jaringan kereta api di Batavia. Perusahaan ini mengoperasikan kereta api pada lintas tengah, yakni Batavia-Buitenzorg (Bogor) yang diresmikan pada tahun 1873. Sementara itu, perusaahaan kereta api swasta BOSM membuka jaringan kereta api di lintas timur Batavia, yaitu Batavia-Bekasi-Kerawang tahun 1899.

Kemudian, SS selaku perusahaan kereta api negara membangun jaringan kereta api di lintas barat Batavia sampai ke Anyar. Pada lintas tersebut SS membangun pula sebuah jalur persimpangan dari Duri ke Tangerang melalui Staatblad No. 180 tanggal 5 Juli 1896.

Awalnya, Stasiun Duri adalah sebuah halte yang dibuka pertama kali pada 2 Januari 1899 oleh perusahaan kereta api Negara, Staatssporwegen (SS). Kala itu, Stasiun Duri menjadi bagian dari pembangunan jalur kereta api lintas Jakarta-Duri-Tangerang sepanjang 23 km dengan lebar jalur 1067 mm.

Pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 1 Oktober SS meresmikan jalur kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 km. Lalu, diteruskan ke Serang dan Anyer pada tahun 1900. Keberadaan jalur kereta api lintas Jakarta-Duri ke Tangerang dan Anyer mempermudah transportasi penumpang dan pengangkutan barang. Barang impor dari luar negeri dibawa dari pelabuhan Batavia untuk didistribusikan ke Banten.

Baca Juga:Alasan Tidak Digunakannya Huruf C pada Plat Kendaraan Bermotor di Indonesia

Sebaliknya, hasil komoditas pedalaman Banten akan diangkut ke pelabuhan di Batavia. Penduduk Banten memiliki mata pencaharian sebagian besar sebagai petani. Hasil perkebunannya mempunyai arti penting, yakni kelapa.

Perkebunan orang Eropa terbatas pada karet (hevea) yang terdapat di Banten bagian Selatan. Selain itu, di Stasiun Duri juga terdapat persimpangan menuju pabrik gas milik pemerintah Hindia-Belanda, Nederlandsch Indische Gas Maatschappij (NIGM).

Pabrik gas tersebut dibangun pada tahun 1859 dan lokasinya ada di sisi utara Gang Ketapang yang kini menjadi Jalan KH Zainul Arifin. Lokasi bekas pabrik gas ini sekarang digunakan sebagai kantor pusat PT Perusahaan Gas Negara (Persero).

Persimpangan menuju pabrik gas terletak di sebelah selatan Stasiun Duri. Berdasarkan peta Batavia tahun 1928, lokasinya ada di utara dari mulainya persimpangan menuju Tangerang.

Panjang jalur menuju pabrik gas dari Stasiun Duri sekitar 2,5 km, meskipun tidak jauh namun jalur rel kereta ini memiliki peranan penting terhadap pasokan gas di kota Batavia. Pasalnya, dalam pengoperasian pabrik gas tersebut menggunakan batu bara yang didistribusikan dengan kereta api.

Belum diketahui dengan pasti kapan pembongkaran rel kereta menuju pabrik gas di Ketapang itu. Namun masih bisa ditemukan rel lama dengan bantalan kayu persimpangan tersebut.

Peningkatan fungsi kereta api

Salah satu permasalahan dalam pengembangan wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek) tahun 1976 adalah kebutuhan masyarakat di bidang transportasi umum. Untuk mengatasinya, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Jepang untuk melakukan peningkatan fungsi kereta api di Jabotabek.

Oleh karena itu, pada tahun 1982 dilakukan Proyek Pengembangan Prasarana Kereta Api Jabotabek. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kereta api komuter modern dengan frekuensi yang lebih tinggi, aman, dan andal dengan peningkatan fasilitas-fasilitas kereta api yang ada.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Angkutan Darat RI

Lintas kereta api Duri--Tangerang tak luput menjadi perhatian. Beberapa pengembangan di lintas Tangerang meliputi rehabilitasi jalur kereta api, elektrifikasi, dan penambahan jalur kereta api. Rehabilitasi lintas Duri-Tangerang dilakukan pada tahun 1984. Selanjutnya, dilakukan pekerjaan pemasangan bantalan beton.

Sementara itu, pemasangan gardu induk pusat listrik Duri dimulai tahun 1985 di sebelah selatan Stasiun Kereta Api Duri. Pada tahun yang sama dilakukan juga peningkatan jalan Duri-Tanah Abang.

Nah, demikian asal mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar. Apakah Kawan pernah melintasi stasiun ini?*

Referensi: Stasiun Duri | Heritage KAI

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini