Super Blood Moon dan Fenomena Gerhana Bulan yang Pernah Terjadi di Indonesia

Super Blood Moon dan Fenomena Gerhana Bulan yang Pernah Terjadi di Indonesia
info gambar utama

Masyarakat Indonesia baru saja menikmati fenomena langka yang terjadi di langit. Fenomena gerhana bulan total (GBT) yang juga di sebut bulan merah super (super blood moon) terjadi bertepatan dengan peringatan Hari Raya Waisak.

Hal ini disampaikan oleh Peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) M Zamzam N M.Si, dalam live instagram @pussainsa_lapan bertajuk Mengulas Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021.

"Ini termasuk langka, karena gerhana bulan total berwarna merah, baru bisa terjadi berapa puluh tahun lagi," kata Zamzam, Selasa (25/5/2021) yang dikutip dari Kompas.

Secara global, GBT kali ini bisa masyarakat saksikan dari wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Oseania, sebagian besar benua Amerika.

Sedangkan untuk wilayah Indonesia, GBT kali ini dapat di saksikan di seluruh Indonesia dari arah Timur-Tenggara (hingga Tenggara untuk Indonesia bagian Timur).

Baca juga Gerhana Bulan Tergelap Sedunia

Selain itu, Lapan menyebutkan, fenomena GBT itu sangat spesial karena terjadi 195 tahun sekali, dan gerhana bulan kali ini beriringan dengan terjadinya Perige, yakni ketika bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi atau biasa disebut Super Moon.

Selain tampak lebih besar dibanding biasanya, Bulan juga akan tampak merah karena pembiasaan cahaya Matahari oleh lapisan atmosfer Bumi.

"Oleh karenanya, GBT kali ini disebut juga dengan Bulan Merah Super atau Super Blood Moon," kata Lapan di akun Instagram, Selasa (18/5).

Mengapa disebut sebagai bulan merah

Bulan purnama maupun Super Moon umumnya cenderung identik dengan penampakan warnanya yang putih atau putih-abu saat malam hari. Namun, mengapa saat gerhana total kali ini bulan berwarna merah dan disebut Super Blood Moon?

BMKG mengatakan gerhana bulan total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar. Hal ini membuat Bulan masuk ke umbra Bumi. Akibatnya, saat fase totalitas gerhana terjadi Bulan akan terlihat kemerahan.

Pada fase totalitas, fenomena optis skala raksasa terjadi, yaitu bagian Bulan yang 'tergerhanai' yang pada awalnya gelap akan menjadi kemerahan. Hal itu disebut terjadi karena ada sebagian kecil cahaya kemerahan dari Matahari yang dibiaskan oleh atmosfer Bumi hingga sampai ke permukaan Bulan.

Dari permukaan Bulan, cahaya itu kemudian dipantulkan kembali ke arah Bumi, sehingga penampakan Bulan pada fase totalitas akan terlihat kemerahan.

Baca juga Juli Ini, Siap-Siap Menyaksikan Gerhana Bulan Parsial

"Dari sinilah, saat terjadinya gerhana bulan total, muncul istilah bulan darah atau blood moon," kata BMKG.

Melansir Time and date, bulan tidak memiliki cahayanya sendiri. Bulan bersinar karena permukaannya memantulkan sinar matahari. Selama gerhana bulan total, bumi bergerak di antara matahari dan bulan sehingga memutus pasokan cahaya ke Bulan.

Saat itu terjadi, permukaan Bulan akan bersinar kemerahan, bukannya gelap total. Warna merah dari gerhana bulan total telah membuat banyak orang dalam beberapa tahun terakhir menyebut gerhana bulan total sebagai Blood Moon.

Alasan mengapa Bulan berwarna kemerahan selama totalitas adalah fenomena yang disebut Rayleigh scattering. Itu adalah mekanisme yang sama ketika matahari terbit dan terbenam berwarna-warni.

Sebagian orang zaman dahulu kemudian menyebut GBT sebagai blood moon atau bulan merah-darah. Sebenarnya, kata Yatny, warna bulan saat puncak gerhana tidak selalu sama. Bulan dapat berwarna merah-oranye, merah bata, merah kecoklatan, hingga merah gelap.

Fenomena langka yang ratusan tahun terjadi

Fenomena gerhana bulan beberapa kali terjadi di Indonesia. Seperti pada 28 Juli 2018, saat itu gerhana bulan ini bisa diamati di seluruh wilayah Indonesia. Gerhana bulan ini memiliki fase totalitas terlama hingga lebih dari 100 tahun ke depan. Fase totalitas gerhana bulan berlangsung selama 103 menit.

Selain itu pada 31 Januari 2018, terjadi gerhana dengan julukan Super Blue Blood Moon ini termasuk langka. Gerhana ini akan terjadi lagi setelah 100 tahun. Saat gerhana berlangsung, bulan berwarna merah darah dan tampak lebih besar di saat normal. Fenomena ini terjadi di seluruh dunia meski dalam waktu yang berbeda-beda.

Baca juga Ingin Melihat Gerhana Bulan Total? Baca Dulu 5 Hal Ini

Fenomena bulan super merah (super blood moon) yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak seperti yang terjadi pada, Rabu (26/4), sudah pernah terjadi pada 16 Mei 2003 silam.

Sehingga, kejadian Bulan Merah Super yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak terjadi pada tahun 1808 dengan 1826. Kemudian, terulang kembali pada tahun 2003 dan 2021. Serta, di periode berikutnya diprediksi akan terulang di tahun 2199 dan 2117.

Sementara itu, Bulan Super Merah yang terjadi berdekatan, yakni sebelum atau sesudah, perayaan Waisak pernah terjadi di antaranya pada tanggal 10 Mei 1808, 21 Mei 1826, 1 Juni 1844, dan 21 Mei 1845.

Lalu, peristiwa Bulan Super Merah beriringan Hari Raya Waisak masih akan terjadi pada 10 Mei 2199, 21 Mei 2217 dan 16 Mei 2394.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini