Ikan Bilih, Spesies Endemik Penghuni Danau Singkarak yang Terancam Punah

Ikan Bilih, Spesies Endemik Penghuni Danau Singkarak yang Terancam Punah
info gambar utama

Danau Singkarak merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatra setelah Danau Toba. Dengan luas 11.200 hekatre, danau tersebut membentang di dua kabupaten, yakni Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok.

Menurut Tim Ahli Pokja Geopark Ranah Minang, Dian Hadiyansyah, telah terjadi penambahan luas daerah Danau Singkarak secara alami setiap tahunnya.

"Danau itu makin lama makin luas karena memang ada istilah geologi namanya lembah patahan, yakni danau yang terbentuk akibat patahan lempengan," kata Dian Hadiyansyah pada Bisnis.com, Kamis (24/10/2019).

Sumber air Danau Singkarak sendiri berasal dari beberapa sungai, seperti dari aliran Sungai Sumpur, Sungai Paninggahan, Sungai Sumani, dan sungai lainnya.

Menariknya, kumpulan air yang berada dalam cekungan danau tersebut menyimpan ikan endemik yang bernilai ekonomis bagi masyarakat sekitar. Biota endemik tersebut bernama ikan Bilih atau nama latinnya Mystacoleucus padangendis.

Baca juga Ternyata, 3 Ikan Purba Ini Masih Hidup di Perairan Indonesia

Ikan Bilih jadi berkah bagi masyarakat lokal

Secara umum, hamparan air Danau Singkarak dihuni oleh 19 spesies ikan. Namun biota yang memiliki populasi paling tinggi adalah ikan Bilih. Ukuran ikannya sendiri sedikit lebih besar dari ikan teri, yakni memiliki panjang 6-12 cm.

Untuk menangkap ikan Bilih, biasanya masyarakat setempat menggunakan beberapa alat mulai dari jala, jaring insang, lukah, sampai setrum aki. Dari hasil tangkapan tersebut, total produksi ikan Bilih yang bisa diraup masyarakat setiap hari dapat mencapai rata-rata 2 ton, dengan nilai ekonomi mencapai Rp20 juta.

Jika dijual dalam bentuk kemasan, maka ikan Bilih yang sudah diolah bisa dibanderol dengan harga Rp50.000-100.000 per kilogram. Dengan harga yang cukup menggiurkan, ikan Bilih pun menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitar danau.

Selain dijual dalam bentuk kemasan, rasa gurih dari ikan Bilih juga dapat dinikmati langsung di warung makan dan restoran di sepanjang kawasan Danau Singkarak. Sehingga, keberadaan ikan Bilih di Danau Singkarak, memberikan sumbangan yang sangat besar sebagai sumber mata pencarian bagi masyarakat di sekitar danau.

Baca Juga Tapir Asia, Hewan Pemalu Asal Sumatra yang Terancam Punah

Penurunan populasi ikan bilih jadi sorotan

Intensitas penangkapan yang dilakukan secara besar-besar menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi ikan Bilih.

Berdasarkan laporan Syandri et al (2001), jumlah alat jaring insang pada tahun 1980 tercatar sebanyak 30 unit dan bartambah menjadi 854 unit pada tahun 2001. Besarnya kuantitas alat tangkap ikan ini bisa menggambarkan keberadaan ikan Bilih sudah mengalami eksploitasi.

Nelayan setempat juga mengakui bahwa tangkapan mereka beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Sekitar 10 tahun lalu, masing-masing nelayan setiap harinya bisa menangkap ikan Bilih sekira 50 kg, tetapi belakangan ini mereka hanya memperoleh hasil tangkapan sebanyak 0.5 kg saban harinya.

Kecendrungan menggunakan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti memakai jaring insang, setrum aki, dan penggunaan bahan peledak akhirnya berpengaruh terhadap keadaan stok ikan Bilih di masa yang akan datang.

Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, ahli perikanan dan ilmu kelautan, sekaligus peneliti ikan Bilih dari Universitas Bung Hatta, saat dikonfirmasi oleh Mongabay.co.id (24/10), ia mengatakan penyebab terancam punahnya ikan Bilih dipicu oleh alat dan cara tangkap yang digunakan masyarakat yang tidak ramah lingkungan.

Baca juga Namanya Busok, Kucing Leopard Asal Madura yang Ingin Diakui Dunia

National Bilih Center, solusi di tengah ancaman kepunahan

Guna menjaga kelestarian ikan endemik Indonesia dan hanya satu-satunya di dunia ini. Maka, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Sumatra Barat berencana melakukan pengembangan Pusat Konservasi Ikan Bilih Nasional atau National Bilih Center di Danau Singkarak.

Untuk memastikan realisasi program tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, bersama dengan Komisi IV DPR RI telah melakukan kunjungan kerja dalam rangka melakukan kegiatan restocking dan pemberian bantuan di Danau Singkarak.

Lebih rincinya, Kementerian KKP telah melakukan restocking benih ikan Nilem di Danau Singkarak sebanyak 100 ribu ekor yang merupakan hasil dari kegiatan pembenihan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam.

Sedangkan untuk ikan Bilih, menimbang banyak ditemukan larva ikan Bilih yang mati saat mencapai hari ke-10, maka Slamet berupaya akan segera melakukan uji coba pembenihan. Untuk itu, Kementerian KKP merasa perlu melakukan banyak uji coba dengan melibatkan lembaga riset agar pengembangan ikan endemik tersebut maksimal dan selamat dari ancaman kepunahan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini