Perintis Ritel Modern di Indonesia, Ini Sepak Terjang Hero Group Sebagai Induk Giant

Perintis Ritel Modern di Indonesia, Ini Sepak Terjang Hero Group Sebagai Induk Giant
info gambar utama

Salah satu pemain besar di industri ritel tanah air, yaitu Giant membawa kabar perpisahan dengan mengumumkan penutupan serentak seluruh gerai yang akan dilakukan pada akhir Juli 2021 mendatang.

Kesulitan di masa pandemi bukan jadi perkara utama dari langkah bisnis tersebut, mengingat salah satu merek usaha dari Hero Group ini sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda keterpurukan jauh sebelum pandemi melanda, tepatnya di awal tahun 2019 di mana Hero supermarket menutup 26 gerai yang kemudian diikuti penutupan 6 gerai Giant pada bulan Juni di tahun yang sama, demikian mengutip laman Idxchannel.com, Selasa, (25/05/2021).

Gerai ritel Giant di beberapa kota baik yang berada pada pusat perbelanjaan atau bangunan mandiri sejatinya memang sudah terlihat ditutup sebelum pihak manajemen membuat pengumuman resmi beberapa hari lalu, di antaranya penutupan gerai di Mall Margo City Depok, Mall Botani Square, dan Padjajaran Bogor.

Dalam pernyataan yang dimuat pada laman resmi Hero Group, pihak manajemen menyatakan penutupan seluruh gerai Giant ini diklaim sebagai langkah bisnis yang diambil perusahaan untuk lebih fokus berinvestasi mengembangkan lini bisnis ritel lain yang dimiliki, yaitu Hero supermarket, Guardian, dan IKEA.

Baca juga Daftar 10 Negara Terbaik untuk Memulai Bisnis, Apakah Indonesia Termasuk?

Sejarah Hero Group sebagai perintis supermarket pertama di Indonesia

Hero mini supermarket di tahun 1970
info gambar

Kerajaan bisnis ritel Hero Group berawal dari Hero Mini supermarket yang dibuka pertama kali pada tanggal 23 Agustus 1971 oleh Muhammad Saleh Kurnia, kala itu Kurnia melihat banyak kalangan borjuis yang sering bepergian ke negara tetangga hanya untuk berbelanja makanan.

"Lihatlah orang-orang asing itu, mereka pergi ke Singapura 3 atau 4 kali hanya untuk berbelanja makanan barat dan minuman. Ini adalah kesempatan, kita bisa mengimpor makanan dan minuman yang mereka butuhkan dan kita bisa menjualnya lagi di Jakarta" ucap Kurnia, seperti yang dituliskan pada laman sejarah Hero.co.id.

Supermarket pertama tersebut lalu dibuka pertama kali di Jalan Falatehan No. 23, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tepatnya di tengah wilayah perumahan mewah. Dengan berbagai srategi operasional yang dilakukan Kurnia, dirinya berhasil membuat Hero menjadi pelopor supermarket pertama yang menghadirkan banyak usaha serupa dan mengikuti jejak Hero, namun belum ada yang mampu menjadi pesaing pada saat itu.

Berkat kegigihannya, sejak pertama kali dibuka Kurnia berhasil membuat Hero menjadi perusahaan ritel yang dihormati di Indonesia, targetnya untuk membuka satu gerai setiap tahun nyatanya berhasil direalisasikan ketika pada tahun 1980 tercatat ada 9 cabang Hero supermarket di Jakarta.

Baca juga Sejarah Munculnya Supermarket di Indonesia Jauh Sebelum Adanya Carrefour, Hypermart, dkk

Hero yang melantai di Bursa Efek pada tahun 1990

Hero supermarket
info gambar

Tahun 1980-1989 bisa dikatakan menjadi masa kejayaan Hero yang berkembang pesat, Hero memiliki 26 cabang supermarket dan 3.000 pemasok barang. Memasuki tahun 1990, Hero melakukan Initial Public Offering (IPO), atau melantai di bursa saham.

Kala itu, karena memenuhi syarat secara keuangan dan kriteria untuk IPO, Hero akhirnya menjual 15 persen saham di Bursa Efek Jakarta, yang nyatanya diikuti dengan harga saham Hero yang terus meningkat.

Setelah IPO, Hero Group menjadi bagian dari Asian Retail Affiliation Network (ARAN). Hal ini yang membuat Hero mampu bekerja sama dengan perusahaan lain di kawasan Asia dan akhirnya menghadirkan Guardian sebagai jaringan ritel pada bidang kecantikan dan kesehatan di Indonesia pada tahun yang sama.

Sayangnya, ketika Hero Group sedang ada di puncak kejayaan tepatnya di tahun 1992, Kurnia meninggal dunia dan kepemimpinan Hero dilanjutkan oleh sang istri, Nurjahati (Nurhayati). Walau sempat ikut terpuruk pada saat situasi krisis tahun 1998, nyatanya Hero mampu bangkit di tahun-tahun berikutnya sebagai pemain utama di industri ritel tanah air.

Jaringan ritel Hero yang melebar berkat Dairy Farm International Holdings Limited

Salah satu pemain ritel besar Asia yaitu Dairy Farm International Holdings Limited juga turut andil dalam perkembangan Hero Group, kala itu di sekitar tahun 2000-an Dairy Farm aktif menanamkan modal dan membuat Hero ada dalam lingkar jaringan ritel Dairy Farm, sehingga pada saat Dairy Farm membuat langkah bisnis berupa joint venture untuk mengoperasikan ribuan jaringan ritel di kawasan Asia, Hero Group pun ikut merasakan dampaknya.

Dairy Farm Group diketahui mengoperasikan berbagai jaringan ritel terkenal di kawasan Asia, di antaranya Giant, Guardian, IKEA, dan termasuk Hero di dalamnya. Karena itu, berdasarkan kepemilikan saham Dairy Farm terhadap Hero Group, maka tidaklah heran jika saat ini Hero Group di Indonesia memiliki jaringan bisnis ritel aktif lain seperti yang disebutkan sebelumnya.

Jika Hero sejak awal berdiri ada pada level supermarket, maka Hero Group meningkatkan level dengan menghadirkan Giant sebagai ritel untuk segmen hypermarket yang dibuka pertama kali pada tahun 2002, dan berlokasi di Villa Melati, Tangerang.

Keberadaan Giant sebagai ritel penyedia kebutuhan rumah tangga dan Guardian yang merupakan ritel di bidang kecantikan serta kesehatan di mana keduanya menjadi bagian dari Hero Group, nyatanya tidak menghentikan langkah bisnis selanjutnya yang dilakukan.

Baca juga Tak Kalah dari yang Modern, Ini 3 Jenis Perawatan Kecantikan Tradisional

Masih atas dorongan dari Dairy Farm, Hero Group akhirnya menjadi induk dan pemegang lisensi dari retail perabot rumah tangga asal Swedia yang saat ini banyak digandrungi, yaitu IKEA. Alam Sutera, Tangerang jadi wilayah yang dipilih sebagai lokasi berdirinya gerai yang pertama kali dibuka pada tanggal 15 Oktober 2014. Saat ini, IKEA memang baru memiliki 3 gerai di Indonesia yang terletak di Tangerang, Sentul, dan Bandung.

Sementara itu, masih berdasarkan rilis yang dimuat dalam situs resmi soal penutupan seluruh gerai Giant, dikatakan bahwa Hero Group akan memanfaatkan kondisi saat ini, di mana sektor perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan kecantikan sedang memiliki potensi yang bagus. Sehingga penutupan gerai Giant akan digantikan dengan ekspansi gerai IKEA dan Guardian dalam beberapa tahun ke depan.

Klaim Hero Group tersebut ternyata sejalan dengan hasil survei yang dilakukan oleh beberapa pihak setahun belakangan. Di antaranya iPrice, platform agregator perbandingan harga produk yang tersedia di berbagai layanan marketplace.

Survey produk yang paling banyak dicari saat Ramadan tahun 2020
info gambar

iPrice membagikan hasil survei mengenai barang yang paling banyak dibeli pada saat momen Ramadan tahun 2020. Hasilnya, kebutuhan rumah tangga, kosmetik, dan kesehatan masuk kategori 5 besar yang banyak dibutuhkan, dan jika dilihat pada peringkatnya memang jadi salah tiga jenis barang yang sejatinya dimiliki oleh jaringan ritel Hero Group.

Hasil riset lain yang terbaru dilakukan di momen Ramadan dan lebaran tahun 2021 oleh perusahaan analis data dan kecerdasan buatan ADA besutan Axiata, yang menyatakan jika produk kesehatan dan kecantikan menempati peringkat pertama sebagai produk yang paling banyak dicari bagi pengakses marketplace.

Karena itu, langkah bisnis yang dilakukan Hero Group kali ini dengan menutup Giant bisa dikatakan bukanlah suatu kemunduran, melainkan strategi yang dilakukan untuk dapat bertahan sesuai dengan kondisi pasar ritel tanah air.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini