Kisah Diplomasi Batik, Merentang dari Nelson Mandela hingga Super Junior

Kisah Diplomasi Batik, Merentang dari Nelson Mandela hingga Super Junior
info gambar utama

Dua Personel boyband asal Korea Selatan, Super Junior, Leeteuk dan Yesung mengunggah foto menggunakan pakaian batik. yang dibuat oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Salah satunya Yesung yang yang juga mengucapkan terima kasih kepada Ridwan Kamil.

Yesung tampak mengenakan kemeja batik bernuansa hijau dan kuning motif Garuda Kujang Kencana yang dilengkapi dengan blazer bernuansa merah maroon. Ia memadukan gayanya itu dengan celana bahan maroon dan sepatu boots pendek.

"Apa itu cocok untukku? Terima kasih kepada Ridwan Kamil yang merancang batik ini. Terima kasih untuk Jawa Barat dan Indonesia. Aku cinta kamu," tulis Yesung dalam caption.

Sementara itu Leeteuk, tampil mengenakan kemeja batik motif mega mendung dominan warna merah dan blazer biru. Agar serasi, ia memilih celana bahan biru.

"Menerima hadiah batik yang dirancang sendiri. Terima kasih Ridwan Kamil untuk desain batik ini. Terima kasih Jawa Barat dan Indonesia. Aku mencintaimu," begitu keterangan foto Leeteuk di akun Instagram miliknya.

Ridwan Kamil pun membalas ucapan kedua idola anak muda millennial ini dengan nada bercanda. Menurutnya keduanya sudah cocok untuk pergi ke kondangan atau mencalonkan diri menjadi kepala daerah.

"Sekarang kalian sudah siap untuk pergi kondangan atau ikut pilkada di Indonesia. Kamsahamnida from your Hyung," tulisnya lagi dalam keterangan foto yang sama.

Kang Emil--sapaan akrab Ridwan Kamil--juga berpesan pada perempuan muda Indonesia kalau sekarang idola mereka sudah tampak lebih lokal dan terkesan mudah dijangkau.

"Buat gadis-gadis Indonesia, dengan ini mereka terlihat lebih melokal dan tentunya lebih terjangkau. Mari semangat jadikan batik Indonesia mendunia. Saya menggunakannya untuk diplomasi budaya."

Baca juga Dibalik Nama ‘Mega Mendung’ Batik Kebanggaan Kota Cirebon

Diapresiasi publik Korea Selatan

Ternyata dari rancangan batik yang dibuat oleh Ridwan Kamil ini menarik perhatian publik Korea Selatan (Korsel). Salah satunya sorotan positif dari News.naver.com yang merupakan agensi berita online terbesar di Korea Selatan yang dioperasikan oleh Naver Corporation.

Batik yang dikenakan oleh Leeteuk dan Yesung merupakan batik dengan motif Garuda Kujang Kencana dengan kombinasi Mega Mendung dan Kawung. Motif garuda kujang kencana ini merupakan motif yang mengusung tema wibawa, religius, dan nasionalis.

Motif mega mendung menggambarkan kehidupan manusia secara utuh dan motif kawung memiliki makna keadilan dan kesejahteraan. Dalam batik tersebut tampak gambar burung garuda yang melambangkan dasar negara Indonesia, senjata tradisional kujang dan inisial nama Ridwan Kamil, yakni R dan K.

Mantan Walikota Bandung itu tak menduga, batik yang awalnya hanya dijadikan sebagai hadiah oleh-oleh dari Jabar untuk para dubes ini diberikan kepada personel boyband Super Junior Leeteuk dan Yesung.

Baca juga Pesona Kain Tradisional Indonesia yang Indah dan Menawan

“Saya tidak menduga ternyata dia menjahit dipakai dan diposting dan dengan bangganya, kemudian sebelumnya Dubes meminta izin Pak Gub bisa ga ngasih ke K-Pop stars,” ungkapnya.

Diplomasi budaya melalui batik yang digunakan oleh bintang K-Pop ini menandai eratnya hubungan bilateral antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. Selain itu, Ridwan Kamil juga mengungkapkan, diplomasi batik merupakan contoh baik dalam hubungan diplomasi dua negara.

“Hubungan diplomasi ini tidak perlu yang bersifat formal dan seremonial (saja). Super Junior sebagai simbol bintang Korea menggunakan Batik yang merupakan simbol budaya unggul Indonesia ini adalah contoh baik untuk hubungan diplomasi."

Diplomasi batik Nusantara

Terdapat sebuah catatan sejarah lain, yaitu bahwa teknik membatik pertama kali dicatat di dalam buku, History Of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles (London, 1817). Pada masa itu ia, menjabat sebagai Gubernur Jenderal, bertepatan dengan dikuasainya Belanda oleh Napoleon.

Pada tahun 1873, seorang pedagang Belanda, Van Rijekevorsel, menghibahkan satu kain Batik yang didapatnya ketika berkunjung ke Nusantara kepada Museum Etnik Rotterdam. Sejak saat itu, penyebaran Batik di luar Nusantara dimulai.

Batik menyebar hingga ke Afrika Selatan, yang pada masa itu juga merupakan daerah koloni Kerajaan Belanda. Pasca kemerdekaan penggunaan batik baru ramai saat zaman Orde Baru (Orba).

Baca jugaEksotisme di Balik Tradisi Mistis Batik Madura

Sepanjang tahun 1980-an hingga 1990-an, Soeharto biasa memberikan cinderamata batik kepada para pemimpin negara sahabat, dan rancangan Iwan Tirta selalu menjadi pilihannya. Bahkan pada tahun 1990, Soeharto menerbangkan kemeja batik rancangan Iwan Tirta ke Afrika Selatan untuk diberikan kepada Nelson Mandela.

Para pemimpin negara yang berkostum batik dalam KTT APEC 1994 dipandang sebagai titik tertinggi keberhasilan Soeharto memperkenalkan batik hingga tingkat internasional. Walau saat itu, penggunaan batik hanya sebagai simbolisasi dirinya sebagai orang Jawa.

Hari Batik Nasional pertama kali ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional pada 17 November 2009 yang meminta masyarakat mengenakan batik.

Selain itu pada KTT APEC di Bali, 7 Oktober 2013, yang dipimpin Presiden SBY para kepala negara dan pemerintahan dunia menggunakan batik. Kala berpergian ke luar negeri dan melakukan pertemuan bilateral baik dengan pemerintahan maupun pengusaha, Presiden Indonesia sudah lazim mengenakan batik selain jas.

Dalam sidang Dewan Keamanan (DK) PPB pada Mei 2019 lalu, batik dipilih sebagai 'Dress code' guna menunjukkan penghormatan para anggota DK PBB kepada Indonesia yang memegang kepemimpinan. Sejumlah anggota PBB yang mengenakan batik, di antaranya Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres yang menggunakan motif tenun troso dari Bali, berwarna cerah.

Selain itu, delegasi lainnya yang terlihat menggunakan batik termasuk dari Amerika Serikat, Jerman, Pantai Gading, Prancis, Peru, Republik Dominika, dan China.

Alhasil, batik tidak hanya menjadi sekedar fashion yang ciamik untuk digunakan, namun juga bisa menjadi simbol politik diplomasi bangsa Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini