Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Anjuran Berhenti Merokok Demi Cegah Covid-19

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Anjuran Berhenti Merokok Demi Cegah Covid-19
info gambar utama

Setiap tahunnya tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Momen ini bertujuan untuk mengingatkan publik tentang bahaya tembakau bagi kesehatan.

Menurut penjelasan WHO, Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini diadakan untuk memberi informasi pada publik tentang bahaya penggunaan tembakau, praktis bisnis perusahaan tembakau, hingga apa yang harus dilakukan untuk memerangi epidemi tembakau.

Sejak tahun 1987, Hari Tanpa Tembakau Sedunia mulai diperingati untuk menarik perhatian global terhadap epidemi tembakau serta kematian dan penyakit yang dapat dicegah akibat tembakau.

Hubungan tembakau dan Covid-19

Tahun ini, bertepatan dengan pandemi Covid-19, Hari Tanpa Tembakau Sedunia, juga jadi momen untuk mengingatkan masyarakat berhenti merokok terkait dengan virus yang tengah melanda saat ini.

Menurut Dokter spesialis paru, Feni Fitriani, mengatakan jika seseorang lepas dari rokok bisa mengurangi risiko terkena virus Covid-19. Orang yang tidak merokok dikatakan bisa lebih sehat dan kekebalan tubuhnya lebih baik hingga sanggup menghadapi virus yang tengah merajalela ini.

"Ketika seseorang berhenti merokok, akan sedikit sekali kondisi mulut menyentuh tangan, sementara kita tahu bahwa tangan bisa saja membawa virus Covid-19, apalagi yang jarang cuci tangan," kata Feni, mengutip CNN Indonesia.

Ketika seseorang merokok, aktivitas enzim angiotensin-converting enzyme-2 (ACE2) pada sel tubuh menjadi meningkat berlebihan. Pada saat yang bersamaan, ACE2 bisa jadi ‘pintu masuk’ untuk Covid-19.

"Jadi berhenti merokok tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Tak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Berhenti merokok sekarang juga!" anjurnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Pandang Tedi Adriyanto, M.Sc, Sp.PD, FINASIM, juga mengatakan bahwa merokok diketahui menjadi faktor risiko untuk berbagai infeksi saluran pernapasan, dan bisa meningkatkan tingkat keparahan penyakit saluran pernapasan.

Pandang menambahkan, ada beberapa penyakit yang diakibatkan kebiasaan merokok. 90 persen di antaranya adalah kanker paru-paru pada pria dan 70 persen pada wanita. Rokok juga menyebabkan 56-80 persen penyakit saluran pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia, 22 persen penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah, serta 50 persen impotensi pada pria.

Menurut penjelasan Dr. Delyuzar MKed (PA), SpPA (K), merokok bisa mengurangi pergerakan bulu getar (cilia) pada saluran pernapasan, mudah terkena infeksi kronis, dan saat terkena Covid-19, gangguan pada jaringan saluran pernapasan jadi lebih berat dan rentan. Ketika seseorang merokok, pembuluh darah terganggu dan bisa terjadi penyempitan yang pada akhirnya mengganggu jantung.

Kampanye berhenti merokok

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menggalakkan kampanye #BeraniBergenti pada momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuan dari kampanye ini untuk menggerakan seluruh masyarakat Indonesia agar berhenti merokok, apapun jenisnya, termasuk rokok elektronik dan rokok dengan pemanasaran karena dinilai sama-sama bahaya untuk kesehatan.

Perlu diketahui bahwa setiap tahunnya, ada delapan juta perokok meninggal dunia akibat penyakit-penyakit yang disebabkan oleh tembakau. Perokok dikatakan memiliki risiko hingga dua kali lipat terkena strok dan empat kali libat berisiko mengidap penyakit jantung. Tak lupa, ada 20 jenis kanker yang bisa disebabkan tembakau.

Dengan berhenti merokok, Anda akan memiliki kualitas hidup lebih baik. Tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga demi keluaga dan orang-orang di sekitar.

Pemprov DKI Jakarta membagikan tips berhenti merokok, yaitu motivasi, tahan keinginan dengan menunda, berhenti merokok total seketika, kenali waktu dan situasi paling sering ingin merokok, olahraga teratur, minta dukungan keluarga dan kerabat, serta konsultasi dengan dokter.

Untuk mencegah kecanduan nikotin, pihak Pemprov DKI membagikan metode 4M, yaitu mencari kesibukan, menahan, minum air, dan menarik napas.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini