Keindahan Alam Masalembu, Pulau di Tengah Keangkeran 'Segitiga Bermuda' Indonesia

Keindahan Alam Masalembu, Pulau di Tengah Keangkeran 'Segitiga Bermuda' Indonesia
info gambar utama

Masalembu merupakan pulau yang terletak tepat di tengah Laut Jawa. Pulau cantik itu juga memiliki keunikan, dengan letak posisinya yang berada di tengah laut yang dikenal sebagai 'segitiga bermuda' Indonesia yang konon katanya, angker.

Ada banyak sekali cerita kurang menyenangkan di perairan ini, mulai dari kapal dan pesawat yang pernah karam di sana. Cerita yang paling terkenal adalah soal karamnya kapal Tampomas II pada tahun 1980-an. Kapal besar itu memuat ratusan penumpang, dan kisahnya abadi bersama lagu musisi Iwan Fals berjudul, "Tampomas II".

Namun terlepas dari keangkerannya, nyatanya Masalembu juga menyimpan beragam keindahan alam dan budaya yang tiada tara. Penasaran? Yuk, simak penjelajahan penulis di Masalembu.

Berada di persimpangan arus laut

Pemandangan laut di Masalembu | Foto: Fariz Ilham Rosyidi
info gambar

Kepulauan Masalembu berada di daerah persimpangan Laut Jawa dan Selat Makassar. Kepulauan tersebut secara administratif terdiri atas tiga pulau utama, yaitu Pulau Masalembu, Pulau Masakambing, dan Pulau Keramaian.

Semua kepulauan itu berada di wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Kalau dilihat di peta, pulau itu seakan terlihat malah lebih dekat dengan Pulau Kalimantan ketimbang Pulau Madura.

Setiap pulau memiliki satu desa, dengan rata-rata penduduk mencapai 1.000-4.000 orang. Mata pencaharian utama mereka adalah melaut, berdagang, dan bertani.

Baca jugaTradisi Potong Jari Ala Suku Dani, Mengerikan tapi Penuh Makna

Misteri Kerajaan Ratu Malaka

Masalembu mempunyai misteri tentang kekuasaan Ratu Malaka. Konon, pada masa lalu, perairan Masalembu dikuasai oleh makhluk halus dan siluman yang berkumpul di sana. Karena menjadi tempat berkumpulnya roh halus, para nenek moyang Pulau Masalembu memerlukan sesajen dan sesembahan agar bisa selamat ketika melewati perairan itu.

Jadi, pantang bagi siapa saja di masa lalu yang ingin selamat melewati perairan itu tanpa membawa sesajen dan sesembahan. Kalau hal itu dilanggar, konon katanya bisa memakan tumbal.

Penduduk yang multietnis

Potret penduduk di Masalembu | Foto: Fariz Ilham Rosyidi
info gambar

Di Masalembu, karakteristik warga lokalnya sangat beragam. Hal itu bisa dilihat dari adanya suku Bugis, Mandar, dan Madura, yang mendiami pulau tersebut. Meski memiliki bahasa tradisional yang berbeda, ketiga suku biasa berkomunikasi menggunakan bahasa Madura.

Soal arsitektur rumah, setiap suku masih mempertahankan kearifan lokalnya. Misalnya, orang Bugis dan Mandar masih mempertahankan rumah panggung. Sementara suku Madura, masih mempertahankan bangunan rumah Taneyan Lanjeng.

Kearifan lokal Masalembu juga dapat dilihat dari etos kerjanya, yakni etos kerja yang gigih dan pekerja keras. Dulu, orang Bugis terkenal kaya yang memperkerjakan orang Madura, namun karena keuletan orang Madura, lambat laun ketimpangan antara etnisnya terhapuskan. Mereka hidup serasi dan berdampingan saat ini.

Baca jugaMelihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda yang Tak Lekang oleh Waktu

Memiliki pantai yang indah

Menikmati sunset pantai di Masalembu | Foto: Fariz Ilham Rosyidi
info gambar

Sejatinya, Masalembu memunyai pantai yang sangat indah. Terdapat beberapa pantai dengan pesona cantik nan memesona, seperti Pantai Masna, Pantai Masalima, dan Pantai Cemara. Ketiganya memiliki air yang jernih dengan warna pantulan birunya langit, dihiasi kepulan awan putih.

Ada pemandangan yang seolah memperlihatkan pantai yang berada di antara dua pulau, sehingga kita bisa menyeberang di kedua pulau itu tanpa perahu, wajar saja karena tinggi air lautnya hanya selutut orang dewasa. Tiap pagi atau sore, anak-anak penduduk lokal sering bermain di sana dan tak segan mengajak untuk bermain bersama para wisatawan.

Itulah beberapa hal unik tentang Pulau Masalembu. Mau menantang adrenalin ke sana? Jangan takut, saat ini kapal perintis seperti Sabuk Nusantara 92 sudah bisa berlayar ke sana dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Untuk biayanya, Kawan hanya perlu merogoh kocek Rp31.500 saja untuk ongkos kapal sekali jalan dari Tajung Perak Surabaya. Murah sekali, bukan? Yuk, berwisata di Indonesia saja, karena di negeri ini ada banyak sekali destinasi yang indah. Selamat berlibur, Kawan!

Baca juga Keindahan Pantai Srakung yang Diapit Dua Tebing

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FR
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini