Industri Telekomunikasi Indonesia, Berawal dari Kartu Pos Menuju Jaringan Digital

Industri Telekomunikasi Indonesia, Berawal dari Kartu Pos Menuju Jaringan Digital
info gambar utama

Perusahaan Telekomunikasi sudah ada sejak masa Hindia Belanda dan yang menyelenggarakan adalah pihak swasta. Sedangkan perusahaan Telekomunikasi Indonesia (PT. TELKOM) termasuk bagian dari perusahaan tersebut.

Mempunyai bentuk badan usaha Post-en Telegraaflent dengan Staats blaad No.52 tahun 1884. Sejak tahun 1905 perusahaan Telekomunikasi sudah berjumlah 38 perusahaan. Namun setelah itu pemerintah Hindia Belanda mengambil alih perusahaan tersebut yang berdasar kepada Staatsblaad tahun 1906.

Sejak itu berdirilah Post, Telegraf en Telefoon Dients (PTT- Dients),dan perusahaan ini ditetapkan sebagai Perusahaan Negara berdasar Staats blaad No.419 tahun 1927 tentang Indonesia Bedrijven Weet (I.B.W Undang- Undang Perusahaan Negara).

Jawatan PTT merupakan penggabungan dari tiga dinas, yaitu Dinas Pos, Telegraf dan Telepon yang masing-masing mempunyai fungsi dan latar belakang pembentukannya yang berbeda. Walaupun demikian, ketiga dinas ini mempunyai kesamaan fungsi utama, yaitu urusan komunikasi baik dari pelayanan terhadap masyarakat maupun untuk kepentingan politik pemerintah kolonial.

Baca jugaUpaya Telkom dalam Menunjang Industri Digital Indonesia MI

Dinas Pos merupakan dinas yang pertama kali berdiri disebabkan fungsi vital dinas ini sebagai sarana komunikasi dan koordinasi antara kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan beberapa daerah subordinatnya serta beberapa pimpinan pusat (heeren zeventien) di Belanda.

Urusan telegraf pun menjadi elemen komunikasi penting setelah pos. Atas usul pemerintah kolonial pada 1856 dibangun saluran telegraf pertama antara Batavia dan Buitenzorg. Kemudian di 1857 saluran Batavia-Surabaya telah pula diselesaikan melalui jalur Semarang- Ambarawa.

Sementara itu perkembangan layanan telepon diawali dengan pemasangan kabel telepon pertama kali oleh pihak swasta pada 1881 dengan konsesi selama 25 tahun melalui pembukaan jalur Jakarta (Gambir dan Tanjung Priok), Semarang, dan Surabaya.

Kerjasama ini berlanjut dengan perusahaan swasta Intercommunal Telefon Maatschappij untuk hubungan interlokal Jakarta - Semarang, Jakarta - Surabaya,Jakarta - Bogor, Bogor - Sukabumi, Sukabumi - Bandung pada 1897.

Dengan berkembangnya layanan telepon, maka pada 1884, maka urusan telepon (Gouvernements Telephoondienst) dimasukkan dalam wilayah kerja yang sama dengan pos dan telegraf. Dalam upaya mempermudah koordinasi, maka pada 1922-1923, kantor pusat Jawatan PTT yang semula di Weltevreden (Gambir) kemudian pindah ke Bandung yaitu menempati gedung Departement van BOW.

"Sebagai bentuk implementasi dari perkembangan teknologi serta bergerak di bidang yang sama dalam komunikasi cepat, maka pada 1925 urusan layanan telepon disatukan dengan telegraf (yang semula menyatu dengan pos). Penyatuan ini berdampak pada urusan pos yang akhirnya berdiri sendiri, " mengutip dari Arsip Nasional (Anri).

Perusahaan telekomunikasi jadi BUMN

Perusahaan Umum (PERUM) Telekomunikasi merupakan penyelenggara jasa telekomunikasi untuk umum, baik hubungan telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri.

Tentang telekomunikasi luar negeri saat itu juga diselenggarakan oleh PT. Indonesia Satelite Corporation (INDOSAT), yang masih berstatus perusahaan asing yakni dari American Cable and Radio Corp yaitu suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan negara bagian Delaware, USA.

Kemudian pada tahun 1980, seluruh saham PT Indosat dengan modal asing ini dibeli Indonesia dari American Cable and radio Corp. Pemerintah mengeluarkan peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1274 berdasarkan PP No. 53 tahun 1980.

Dilansir dari Tirto, saat itu Soeharto meminta Indosat berpartisipasi dalam proyek pembangunan kabel laut antara Medan dan Penang untuk melengkapi jaringan telekomunikasi internasional. Proyek tersebut merupakan hasil pembicaraan antara Soeharto dengan Perdana Menteri Malaysia Husein Onn

Saat itu Indosat menolak, hingga ada usulan agar pemerintah membeli sepenuhnya saham Indosat. Apalagi kondisi keuangan Indonesia saat itu sedang bagus karena menerima windfall profit dari booming minyak kedua pada 1980.

Sementara itu perjalanan telekomunikasi di Indonesia dimulai dengan hadirnya NMT (Nordic Mobile Phone) pada 1985 dengan sistem analog yang dikembangkan oleh The Telecommunication Administration of Sweden, Norwegia, Finlandia, dan Denmark. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang pertama mengadopsi teknologi seluler versi komersial.

Setahun berselang, teknologi bergeser ke NMT Modifikasi dengan sistem AMPS (Advance Mobile Phone System), dimana ada 4 operator di Indonesia yang menggunakan sistem ini, yaitu PT Rajasa Hazanah Perkasa, PT Elektrindo Nusantara, PT Centralindo Telekomindo, dan PT Panca Sakti.

Baca jugaSaat Pandemi, Industri Telekomunikasi Justru Tumbuh Pesat

Teknologi seluler yang masih bersistem analog itu seringkali disebut sebagai teknologi seluler generasi pertama (1G). Sementara itu di dekade yang sama, diperkenalkan teknologi GSM (Global System for Mobile Communications) yang membawa teknologi telekomunikasi seluler di Indonesia ke era generasi kedua (2G).

Pada masa ini, Layanan pesan singkat (short message service) menjadi fenomena di kalangan pengguna ponsel berkat sifatnya yang hemat dan praktis. Setelah GSM berkembang dengan frekuensi GSM 1800 MHz Telkomsel memperkenalkan SimPATI sebagai produk prabayar pertama.

Lalu disusul Pro-XL yang diluncurkan oleh PT Excelcom dengan roaming-nya sebagai servis unggulan di tahun 1998. Seolah tidak mau ketinggalan dengan kompetitornya, Satelindo lalu membuat produk Mentari dengan keunggulan perhitungan tarif per detik.

Hingga akhir tahun 1999, terdapat 2,5 juta pelanggan seluler di Indonesia dan sebagian besar adalah pengguna produk ketiga operator tersebut. Tapi pada saat itu telepon seluler yang beredar di Indonesia masih belum bisa dimasukkan ke dalam saku karena ukurannya yang besar dan berat.

Rata-rata 430 gram atau hampir setengah kilogram. Harganya pun masih mahal, sekitar Rp10 juta. Operasi sistem AMPS dan NMT ini, pada umumnya ditujukan bagi pengguna telepon mobil, dan cakupan layanannya terbatas bagi setiap operator.

Perubahan zaman yang untungkan industri telekomunikasi

Sejak masuknya teknologi seluler (GSM) di penghujung tahun 1996, teknologi kartu prabayar di awal 1998 dan semakin maraknya penggunaan teknologi CDMA di penghujung tahun 2002.

Membuat sebagian besar masyarakat mulai beralih menggunakan telepon seluler karena dinilai lebih fleksibel dan dapat memenuhi kebutuhan akan mobilitas mereka yang tinggi.

Kemudian mulai muncul teknologi 3G , dimana setelah melalui proses tender pada tanggal 08 Februari 2006 tiga operator telepon seluler ditetapkan sebagai pemenang oleh Pemerintah untuk memperoleh lisensi layanan 3G.

Ketiga perusahaan tersebut adalah yakni PT. Telkomsel, PT Indosat, dan PT. Excelcomindo Pratama (XL). Dan demikianlah selanjutnya sejak tahun 2006 teknologi 3G sudah meluncur secara komersial di masyarakat.

Di era tahun 2010 ke atas, muncul teknologi 4G diantaranya Wimax, LTE dan Konvergensi ICT yang akan menjadi tren dan servis unggulan pelanggan. Saat ini regulasi dan standarisasi ke teknologi konvergensi sedang dioptimalkan oleh para pemangku kepentingan.

Pandemi virus Covid-19 yang menekan segala sektor bisnis nyatanya menjadi katalis bagi industri telekomunikasi. Penerapan Work from Home (WFH) dan School from Home (SFH), membuat penggunaan data dan internet meningkat sehingga menjadi katalis positif untuk sektor telekomunikasi.

Baca jugaWajib Tahu, Ini Fakta Jaringan 5G yang Resmi Hadir di Indonesia

Melansir dari Lokadata kinerja perusahaan telekomunikasi yang masih moncer itu terlihat dari laporan keuangan kuartal III/2020 tiga operator dengan jumlah pelanggan terbanyak yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL. Tak banyak perusahaan di Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba selama pandemi Covid-19.

Pada kuartal III/2020, jumlah pelanggan Indosat dan Telkomsel sama-sama tumbuh sebesar 6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Jumlah pelanggan Indosat menjadi 60,4 juta, sedangkan Telkomsel menjadi 170,1 juta. Sementara, XL tumbuh 2,1 persen menjadi 56,8 juta.

Apalagi dengan, penerapan teknologi 5G secara merata akan sangat mendukung akselerasi produktivitas, industrialisasi maupun informasi dan teknologi.

“Secara garis besar, ekspansi bisnis bagus untuk meningkatkan kinerja fundamental emiten, termasuk dengan menggunakan teknologi 5G,” kata Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini