Helicak, Transportasi Idola Warga Jakarta yang Sekarang Tinggal Kenangan

Helicak, Transportasi Idola Warga Jakarta yang Sekarang Tinggal Kenangan
info gambar utama

Pada masa modern sekarang, masyarakat Jakarta telah memiliki beragam pilihan transportasi. Mulai dari ojek online (ojol), bus Transjakarta, hingga Mass Rapid Transit (MRT). Namun, generasi sekarang belum tentu kenal dengan motor angkutan umum yang bernama Helicak. Nama Helicak dikenal sebagai sarana transportasi umum di Jakarta beberapa tahun silam yakni tahun 1971.

Jenis kendaraan ini sempat menjadi idola warga Jakarta pada tahun itu. Nama helicak sendiri berasal dari gabungan kata helikopter dan becak, karena bentuknya memang mirip dengan helikopter dan becak.

"Sebelum angkutan ibu kota dikuasai Bajaj asal India, minicar produksi kendaraan dengan mesin dari Italia seperti ini dominan menguasai lebih dulu,” ujar pegiat skuter yang juga Ketua komunitas pecinta Vespa klasik 946, Adhitya alias Dodit, yang tertulis dalam Tempo, Minggu (23/9/2018).

Baca juga Si Pinky, Siap Ajak Masyarakat Wisata Keliling Sukabumi

Bedanya dengan becak, bagian depan Helicak tertutup dan digerakan oleh mesin. Secara sederhana, bentuk kabin Helicak sangat mirip dengan kabin Helikopter. Sementara secara fungsi, angkutan ini hanya berkapasitas dua orang penumpang yang sama seperti Becak.

Dilansir dari Jakarta.go.id, Helicak merupakan sejenis angkutan umum beroda tiga untuk mengangkut dua penumpang. Kendaraan tersebut menggunakan basis motor skuter beroda tiga dengan posisi penumpang di bagian depan.

Bagian bodi Helicak terbuat dari kerangka besi dan dindingnya terbuat dari serat kaca, sehingga penumpangnya terlindung dari panas, hujan, ataupun debu. Sementara itu pengemudinya harus rela terkena hujan maupun paparan sinar matahari yang panas.

Awal mula Helicak yang ingin gantikan becak

Awal mulanya, pengadaan Helicak sebenarnya untuk menggantikan angkutan becak yang murni ditenagai manusia. Saat itu penggunaan becak dianggap tidak manusiawi. Helicak pertama kali beroperasi di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada tahun 1970. Lokasi ini merupakan tempat ramainya ojek sepeda beroperasi.

Kendaraan hasil modifikasi dari skuter Lambretta dan Vespa ini, pertama kali diluncurkan di Jakarta pada 24 Maret 1971 di masa Gubernur Ali Sadikin. Kendaraan ini diimpor dari Italia sebanyak 400 unit dengan harga satuan Rp400.000. Impor terakhir dilakukan pada tahun 1979 dengan harga Rp525.000 per unit.

Spesifikasi kendaraan umum ini, punya mesin 2-tak berkubikasi 148 cc yang bisa mengeluarkan tenaga sebesar 8,7 dk dan sanggup dipacu hingga 101 km/jam. Sedangkan Lambretta SX 150 diproduksi mulai dari tahun 1966 dan berakhir pada 1969. Skuter ini menggendong mesin 2-tak berkapasitas 150 cc yang sanggup menghasilkan tenaga 8,8 dk dan bisa dipacu sampai kecepatan 96 km/jam.

Baca juga Ragam Moda Transportasi ''Djadoel'' Khas Jakarta, Siapa Pernah Coba?

Masa populer Helicak kala itu memiliki bermacam-macam warna. Adapun beberapa warna tersebut di antaranya merah, oranye, biru, dan hijau. Bahkan, ada juga yang berwarna hitam dan putih. Saat pertama kali didatangkan, Helicak dipamerkan di Jakarta Fair (JF)–sekarang lebih dikenal dengan nama Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kala itu JF diadakan di lapangan Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat.

Dalam pameran tersebut, pengunjung diperbolehkan mencoba naik Helicak hanya dengan membayar seharga karcis saat itu, pengunjung diajak berkeliling arena JF. Menuai kesuksesan di JF, pemerintah daerah pun mencoba menampilkan Helicak di jalan-jalan Jakarta. Hingga pada akhirnya poluler menjadi angkutan umum masyarakat Jakarta kala itu.

Helicak juga pernah dicoba untuk dikembangkan di daerah Salatiga, Yogyakarta, dan Surabaya. Di Jakarta, Helicak umum ditemukan di wilayah Kemayoran.

Dilarang karena dianggap berbahaya

Umur helicak ternyata tidak panjang. Kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam menyediakan angkutan rakyat yang tidak konsisten menyebabkan Helicak yang jumlahnya 400 buah pada saat pertama kali diluncurkan, tidak dikembangkan lebih lanjut.

Selain itu, dari sisi keamanannya helicak dianggap tidak aman bagi penumpang. Ini karena bila terjadi kecelakaan, maka penumpanglah yang pertama kali akan terkena efeknya.

Sedangkan pengemudinya bisa langsung melompat hingga terhindar dari kecelakaan. Ditambah lagi para sopir akan kepanasan dan kehujanan. Karena memang tidak ada atap yang bisa menutupi para pengemudi angkutan roda tiga itu.

Oleh sebabnya, para sopir mulai meninggalkan Helicak dan berpindah ke Bajaj yang mulai masuk tahun 1975. Lama-kelamaan Helicak tersisih dan kemudian kendaraan ikonik di era 70-an itu benar-benar punah dari jalanan Jakarta jelang tahun 90-an.

Menurut catatan harian Kompas, pada 1973 terdapat 714 buah Helicak di Jakarta, tetapi di tahun 1997 tinggal tersisa empat buah. Salah satu yang menjadi alasan adalah masalah kesejahteraan.

Di Surabaya, banyak yang masih hidup dalam kekurangan jika hanya mengandalkan pendapatan dari sopir Helicak, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka saja dirasa masih kekurangan. Pendapatan yang kecil juga dikarenakan semakin banyaknya Helicak yang beroperasi di Surabaya.

Baca juga6 Transportasi Masa Lalu ini Kini Tinggal Kenangan

Bahkan banyak Helicak yang berasal dari Jakarta datang ke Surabaya yang menjadikan jumlah Helicak di Surabaya semakin tidak terkendali. Dari peristiwa tersebut bisa dikatakan bahwa kesejahteraan para sopir Helicak masih belum tercapai.

Karena itu, pemkot Surabaya memutuskan memunculkan kendaraan baru bernama Angguna atau Angkutan Serba Guna. Pasalnya kendaraan ini dianggap lebih modern, aman, dan nyaman, bagi penumpangnya, ditambah lagi bisa menampung banyak barang, karena terdapat bagasi yang bisa ditempati barang seperti tv dan kulkas.

"Jadi, dengan diberikannya kendaraan baru ini pemerintah berharap para sopir bisa memperoleh pendapatan yang lebih banyak ketimbang ketika menjadi sopir helicak," mengutip jurnal ilmiah Mohammad Riyan Firdaus berjudul Angguna di Surabaya tahun 1988-2003.

Sementara di Jakarta, karena adanya kesulitan dalam hal perawatan kendaraan serta terkait dengan kebijakan pemkot yang tidak terus menerus dalam menyediakan angkutan umum ini bagi masyarakat. Pemprov DKI pada 1987 kemudian melarang beroperasi kendaraan Helicak yang berdampak makin langkanya kendaraan umum itu dari jalan-jalan ibu kota hingga pelan-pelan mulai raib.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini