Madilog dan Gagasan Tan Malaka Agar Bangsa Indonesia Berpikir Secara Merdeka

Madilog dan Gagasan Tan Malaka Agar Bangsa Indonesia Berpikir Secara Merdeka
info gambar utama

Tan Malaka adalah salah satu tokoh yang dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya sempat menghilang dari buku pelajaran sekolah sehingga tidak begitu dikenal luas oleh masyarakat. Ia merupakan pendiri Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) pada 7 November 1948. Pernah juga terlibat dalam Persatuan Perjuangan (PP) yang melibatkan Jenderal Besar Soedirman.

Tan Malaka bersama pengikutnya meninggal dunia setelah ditangkap di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Di sana mereka dieksekusi dengan cara ditembak mati oleh tangan bangsa sendiri pada tahun 1949.

Meski sosoknya kontroversial, Tan Malaka memberi banyak sumbangsih bagi bangsa Indonesia. Atas jasanya, ia pun mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 28 Maret 1963 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno.

Salah satu buah pemikiranya adalah konsep tentang “Negara Indonesia” dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925). Buku inilah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari barisan yang lain.

Baca jugaTan Malaka, Tokoh Besar Indonesia yang Disanjung Manila

Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta belum menulis gagasannya tentang Indonesia. Bung Hatta baru menulis gagasannya pada 1929 dengan judul “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka), sementara Bung Karno menulis Indonesia Menggugat pada tahun 1930.

Kecerdasan Tan Malaka telah begitu terpancar sejak masa kecilnya di Bukittinggi. Melihat kejeniusannya, G.H. Horensma, salah satu gurunya membantunya supaya berkuliah di Belanda. Harry Albert Poeze, dalam Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik: 1925-1945 (2000) mengatakan, “G.H. Horensma, yang bersama istrinya amat tertarik kepadanya.”

Sekembalinya dari Eropa, sosok yang dijuluki Patjar Merah Indonesia ini menjadi guru bahasa Melayu bagi anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatra Utara. Di sana ia melihat kenyataan hidup rakyat Indonesia.

Dia menyaksikan secara langsung penderitaan kaum buruh yang sering ditipu karena tidak pandai berhitung, diperas keringatnya, dan diberi upah rendah. Tahun 1920-an, dari Sumatra Utara, Tan berkelana ke Jawa. Sempat menyambangi Yogyakarta, ia lantas berpindah menuju Semarang. Di sanalah dirinya membangun sekolah untuk anak-anak Sarekat Islam.

Ia mengubah ruang rapat menjadi ruang kelas. Sekolah ini terbilang sukses, bahkan ketika Ia pergi dari Indonesia, sekolah itu tetap berkembang. Mereka pernah mengadakan perkumpulan dan menghadirkan 40 orang utusan dari 16 sekolah. Jumlah total muridnya mencapai 2500 siswa.

Percaya kemerdekaan Indonesia melalui cara berpikir

Tan Malaka sangat benci dengan budaya imperialisme dan kolonialisme. Hampir setengah hidupnya, Ia jalani untuk melawan cara-cara berpikir sempit yang menindas masyarakat.

Imperialisme dan kolonialisme yang dipraktekkan oleh Belanda memperlihatkan dengan baik pola relasi kekuasaan antara penjajah yang rasional dan inlander (pribumi) sebagai manusia yang irasional. Kemiskinan dan kebodohan adalah realitas yang paling mudah untuk dilihat sebagai hasil dari pola relasi kekuasaan politik dan ekonomi kolonialisme.

Hal ini membuat bangsa Indonesia memandang bahwa apa yang terjadi di dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Cara pandang ini, disebut-sebut oleh Tan Malaka sebagai "logika mistika".

Logika ini melumpuhkan karena ketimbang menangani sendiri permasalahan yang dihadapi, lebih baik mengharapkan kekuatan-kekuatan gaib itu sendiri. Karena itu, mereka (masyarakat Indonesia) mengadakan mantra, sesajen, dan doa-doa. Melihat kenyataan bangsanya yang masih terkungkung oleh "logika mistika" itu, Tan Malaka melahirkan Madilog.

Kata Madilog merupakan perpaduan dari permulaan suku kata, Ma-(tter), Di-(alektika) dan Log-(ika). Ketiga konsep ini memiliki daerahnya masing-masing. Matter (benda) atau materi merupakan dasar pijakan Tan Malaka dalam melihat realitas, Dialektika ialah pertentangan atau pergerakan, dan Logika berhubungan dengan cara berpikir.

Baca juga Kisah Perjuangan Tan Malaka dan Karya-Karya Terbaiknya

Menurut Tan Malaka, Kolonialisme dalam hal ini tidak hanya mengandung aspek penguasaan segi ekonomi dan politik, tapi dominasi dan monopoli ilmu pengetahuan atas daerah jajahan. Karenanya, Ia menilai orang Indonesia tidak mungkin merdeka selama belum menghapuskan segala "kotoran kesaktian" dari kepalanya, selama masih memuja kebudayaan kuno yang penuh dengan kepasifan, membatu, dan selama bersemangat budak belia.

Menurut mendiang peneliti LIPI, Dr Alfian, pernah menyebutkan bahwa Madilog memang merupakan karya terbaik Tan Malaka, paling orisinal, berbobot, dan brilian. Buku ini bukan semacam "ajaran partai" atau "ideologi proletariat", melainkan cita-cita Tan Malaka sendiri.

Baginya Madilog merupakan jalan keluar dari "logika mistika" dan imbauan seorang nasionalis sejati bagi bangsanya untuk keluar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Bercerai dengan Moskow dan bersatu bersama Islam

Tan menghadiri Kongres Komunis Internasional ke-empat, 12 Nopember 1922. Dia hadir sebagai perwakilan Partai Komunis Indonesia. Di depan para tokoh komunis sejagat, Tan memaparkan idenya, yakni tentang kerja sama antara kekuatan komunis dan Islam memerangi penjajahan dan kapitalisme.

Tan menjelaskan ada organisasi Sarekat Islam (SI) yang sangat besar. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki satu hingga empat juta anggota.

"Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner," kata Tan yang berpidato dalam bahasa Jerman patah-patah. Dirinya meminta adanya dukungan untuk mempersatukan perjuangan antara Komunisme dan Islam. Pasalnya ada nuansa perpecahan yang terjadi di Sarekat Islam akibat provokasi dari agen-agen kolonial saat itu.

Baca juga Mengenalnya, Si Pencetus Konsep Republik Indonesia

"Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah," sesal Tan.

Tan menutup pidatonya dengan sebuah ajakan untuk dunia komunis internasional.

"Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?" ujar Tan disambut tepuk tangan meriah.

Islam bagi Tan Malaka tidak hanya sebagai identitas, tapi juga sebagai buah pemikiran. Ia juga menganggap Islam memiliki jiwa perlawanan terhadap ketidakadilan.

"Seseorang Muslim bisa bersambung langsung dengan Dia, tiada perlu memakai kasta Rabbi atau pendeta sebagai perantaraan atau sebagai tengkulak," ucap Tan Malaka dalam bukunya berjudul 'Islam dalam Tinjauan Madilog' tahun 1948.

Karena itulah dirinya menyakini Islam telah menjamin setiap orang berpikir atas keinginannya sendiri. Juga berjuang atas yang dirinya yakini.

"Tap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri. Dalam hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya junjung."

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini