Ganefo, Olimpade Tandingan Buatan Soekarno yang Menyatukan Olahraga dan Politik

Ganefo, Olimpade Tandingan Buatan Soekarno yang Menyatukan Olahraga dan Politik
info gambar utama

Olahraga bagi pandangan Komite Olimpiade Internasional (IOC) haruslah lepas dari kepentingan politik. Berbeda dengan Soekarno yang menganggap olahraga bisa menjadi sarana persatuan sebuah bangsa.

Pandangan inilah yang membuat Presiden Soekarno menegaskan bahwa event olahraga haruslah terkait dengan proyek-proyek kebangsaan. Selain itu juga menjadi wadah bagi setiap bangsa untuk menyalurkan aspirasi politik.

Sikap ini sudah ditunjukan sejak, Asian Games ke-4 pada Agustus-September 1962 di Jakarta. Waktu itu hampir seluruh negara di benua Asia diundang—kecuali Israel dan Taiwan, yang menurut panitia memiliki masalah terkait visa.

Analis politik menyatakan, motif sesungguhnya tetap berkaitan dengan status Israel yang dinilai sebagai penjajah bangsa Palestina. Sementara Taiwan tidak mempunyai hubungan diplomatik resmi dengan Pemerintah RI karena dianggap bagian Republik Rakyat Cina (RRC).

Hal ini membuat panita penyelenggara Asian Games IV harus berurusan dengan Asian Games Federation (AGF) dan International Olympic Committee (IOC). IOC juga menangguhkan keanggotaan Indonesia, dan Indonesia diskors untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas 1964 di Tokyo.

Ini pertama kalinya IOC menangguhkan keanggotaan suatu negara. Tapi ternyata hal ini tidak membuat gentar Soekarno.

Dilansir dari Tirto, Bung Karno marah betul terhadap keputusan IOC. Kedongkolannya tertuju khususnya kepada presiden IOC asal Amerika Serikat (AS), Avery Brundage. Soekarno pun kemudian menegaskan kembali konsepsi yang dibikinnya pada tahun 1961 tentang dunia yang terbagi antara Oldefo dan Nefo.

Oldefo (The Old Established Forces), adalah kekuatan lama dunia yang sudah mapan dan bersifat imperialis-kolonialis. Negara-negara barat dikategorikan dalam Oldefo oleh Soekarno. Sedangkan Nefo (The New Emerging Forces), yaitu kelompok negara-negara progresif dan mewakili kekuatan baru di tengah bipolarisasi blok barat dan blok timur.

Baca juga Bersama ARKIPEL Melihat Hakikat Asian Games 1962 AA

Negara-negara Nefo tumbuh di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mereka berusaha bebas dari neo-kolonialisme dan neo-imperialisme Oldefo, sembari berupaya membangun tatanan dunia baru tanpa eksploitasi antar manusia.

Bung Karno juga menegaskan bahwa Indonesia menyatakan keluar dari IOC. Indonesia menganggap organisasi tersebut sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan neo-kolonialisme dan imperialisme.

“Mereka mengatakan bahwa olahraga harus terpisah dari politik. Tapi, pada kenyataannya, mereka hanya beranggotakan negara non-komunis, yaitu negara-negara yang tidak mau melawan neo-kolonialisme dan imperialisme. Indonesia mengajukan secara jujur, bahwa olahraga adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan politik. Indonesia mengajukan usulan untuk menggabungkan olahraga dan politik, dan melaksanakan sekarang Games of New Emerging Forces–Ganefo--melawan Oldefo,” demikian disampaikan delegasi Indonesia.

Ganefo, perlawanan Soekarno melalui olahraga dan politik

Pada 13 Februari 1963, Soekarno berpidato khusus untuk mengumumkan penyelenggaraan Ganefo dengan nada tegas di hadapan ribuan rakyat Indonesia. Ganefo sendiri diikuti oleh negara-negara baru sesuai istilah Nefo ciptaan Soekarno.

"Selaku Presiden Republik Indonesia, selaku Panglima Tertinggi Republik Indonesia, selaku Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, dan selaku Pemimpin Besar Partai Nasional Indonesia, saya memerintahkan Indonesia: Keluar dari IOC... Saudara-saudaraku, selain perintah untuk keluar dari IOC, saya juga perintahkan: Persiapkan GANEFO secepat-cepatnya, Games of The New Emerging Forces, untuk Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara sosialis lainnya,” ucap Soekarno, mengutip Tirto.

Ganefo, yang mengambil semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus Pantang Mundur), berlangsung pada tanggal 10 sampai 22 November 1963. Kejuaraan olahraga ala negara-negara anti imperialis ini diikuti 2.200 atlet dari 48 (versi lain menyebutkan ada 51 negara) negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur). Karena besarnya jumlah kepesertaan dan cabang olahraga yang dipertandingkan, maka “Ganefo” pantas disebut olimpiade tandingan.

Demikianlah, setelah melalui persiapan dan perjuangan berat, Ganefo berhasil dilaksanakan di Jakarta. Prestasi Indonesia pun cukup membanggakan di ajang Ganefo ini, yakni menempati urutan ketiga, setelah RRT dan USSR, dengan perolehan 21 emas, 25 perak, dan 35 perunggu.

Baca juga Indonesia Tengah Siapkan Roadmap Seleksi Tuan Rumah Olimpiade 2032

Namun, berbeda dengan olimpiade internasional yang didasarkan pada kompetisi murni untuk mencari juara, Ganefo justru dibasiskan pada olahraga untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas. Sebelum Ganefo dibuka, Bung Karno mengundang kontingen Indonesia ke Istana Negara.

Di sanalah kemudian Bung Karno menegaskan bahwa tugas atlet Indonesia bukan hanya menunjukkan kemampuan mereka di bidang olahraga, tetapi juga membina persahabatan dengan atlet/peserta dari negara lain juga.

Kegiatan Ganefo I memang didasarkan pada semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan idealisme olimpiade yang sejati: bertujuan mempromosikan kemandirian perkembangan kebudayaan berolahraga di seluruh negara-negara Nefos, menstimulasi hubungan baik di antara pemuda-pemudi Nefos, serta mempromosikan jembatan persahabatan dan perdamaian dunia pada umumnya.

IOC kemudian mengumumkan bahwa mereka tak mengakui Ganefo dan akan mempertimbangkan kembali hak untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 1964 bagi para atlet-atlet yang berpartisipasi dalam Ganefo. Indonesia tak bergeming dan tetap melayangkan undangan ke negara-negara berkembang, kendati dilanda bimbang, mereka akhirnya menyambut uluran Soekarno.

Hal yang menarik, biaya yang dikeluarkan Indonesia untuk penyelenggaraan event olahraga ini cukup minim, karena Soekarno mendanainya lewat bantuan 10,5 juta dolar AS dari Soviet. Sementara Tiongkok menyumbangkan 18 juta dolar AS untuk transportasi semua delegasi Ganefo sebagai bentuk dukungan.

Indonesia yang bikin geger dunia

Ganefo punya efek yang dahsyat untuk Indonesia di panggung politik global. Sejak awal 1960-an, Soekarno membuat pusing negara-negara barat lantaran sikap politiknya yang radikal dan membahayakan kepentingan mereka.

Kelahiran Ganefo makin melambungkan nama Soekarno dan Indonesia. Dunia internasional menyaksikan ada negara baru yang belum dua dekade merdeka tapi berani keluar dari IOC dan membikin olimpiade tandingan.

Sukarno ditasbihkan sebagai pendiri Ganefo. Dia pula yang mencanangkan Conefo, dengan tujuan menghimpun suara negara-negara Nefos dalam sebuah organisasi resmi. Menurutnya, perjuangan melawan imperialisme belum akan berakhir dan Ganefo akan terus ada untuk melawan. Sebuah gedung baru pun dibangun untuk menjadi markasnya–sekarang menjadi Gedung MPR/DPR.

Ganefo ke-2 diadakan di Pnom Penh, Kamboja, pada 1966, kemudian Ganefo ke-3 direncanakan di Pyongyang, Korea Utara, pada 1970, namun tak pernah direalisasikan hingga akhirnya organisasi penyelenggara Ganefo kolaps.

Pada penyelenggaran ke-2 meski peserta tidak sebanyak seperti pada Ganefo pertama, masyarakat Kamboja tetap menyambut gembira ajang multi-event tersebut. Terlebih upacara pembukaan turut dibuka Perdana Menteri Kamboja saat itu, Pangeran Sihanouk.

Baca juga Kisah Presiden Soekarno Paksa Rusia Cari Makam Imam Bukhori

Ganfeo ke-2 diikuti sekitar 2.000 atlet dari 17 negara, yakni China, Indonesia, Irak, Jepang, Kamboja, Korea Utara, Laos, Lebanon, Mongolia, Nepal, Pakistan, Palestina, Singapura, Sri Lanka, Suriah, Vietnam Utara, dan Yaman.

Selain itu, lengsernya Soekarno dari kursi Presiden Republik Indonesia pada 1967, dan digantikan oleh Soeharto, membuat Indonesia kembali bergabung dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Kepemimpinan Soeharto di Indonesia jelas mengubah peta politik luar negeri. Merah Putih pun kembali mewarnai ajang Olimpiade, tepatnya pada 1968 di Mexico City, Meksiko.

Namun, ketika anda membuka lembaran sejarah dunia mengenai olahraga, maka keberhasilan Indonesia melaksanakan Ganefo pada tahun 1963 merupakan prestasi besar dan mengagungkan. Bung Karno juga membuktikan aksi heroiknya untuk mengawal keberlangsungan ajang olahraga negara-negara berkembang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini