Rencana Kemenparekraf Kembangkan Wisata Medis di Indonesia

Rencana Kemenparekraf Kembangkan Wisata Medis di Indonesia
info gambar utama

Saat ini, pemerintah tengah berencana membangun wisata medis alias medical tourism di Indonesia. Hal ini dilakukan mengingat besarnya potensi pasar untuk industri kesehatan, sekaligus memperkuat kemandirian bangsa dalam penanganan penyakit.

Istilah wisata medis sendiri mengacu pada orang yang bepergian ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan. Pada masa lalu, orang-orang dari negara kurang berkembang mengunjungi pusat kesehatan di negara maju untuk mendapatkan perawatan yang tidak ada di negara asalnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang dari negara maju juga sering terbang ke negara berkembang demi mendapatkan perawatan kesehatan dengan harga lebih rendah. Paling sering, wisata medis dilakukan untuk keperluan operasi, seperti bedah kecantikan atau bisa juga untuk perawatan gigi, kesuburan, kejiwaan, pengobatan alternatif, pemulihan, dan perawatan penyakit kronis.

Pengembangan wisata medis di Indonesia

Untuk menjalankan pengembangan wisata medis di Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, membuat kesepakatan soal pembentukan tim untuk mengembangkan wisata kesehatan di Indonesia.

Tim yang disebut Konsil Wisata Kesehatan Indonesia (Indonesia Health Tourism Council) akan bekerja untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat wisata kesehatan dunia. Tim ini akan mengembangkan inovasi produk hingga kolaborasi layanan unggulan dalam wisata medis.

Rencananya, akan ada lima kluster konsep wisata kesehatan yang dijalankan, yaitu wisata medis Indonesia, wisata kebugaran, anti penuaan dan herbal, wisata ilmiah kedokteran, dan wisata olahraga kesehatan.

Jodi Mahardi, Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan dari data PricewaterhouseCoopers, sebanyak 600 ribu warga negara Indonesia memilih berobat ke luar negeri pada 2015. Sementara itu, negara seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang untuk menggarap wisata kesehatan.

Mengutip Katadata.co.id, sektor wisata kesehatan ini mendatangkan keuntungan sebesar 4,3 miliar dolar AS atau setara Rp63 triliun bagi Thailand, dan sekitar 3,5 miliar dolar AS atau Rp51,7 triliun bagi Singapura. Di Thailand, jumlah pasien dari luar negeri mencapai 2,5 juta orang dan Singapura 850 ribu orang.

Sementara itu, orang Indonesia mengeluarkan 11,5 miliar dolar AS atau setara Rp169,8 triliun per tahun untuk menjalani pengobatan di negara lain. Umumnya, orang melakukan pengobatan ke luar negeri karena merasa kurangnya mutu pelayanan dan pengawasan kesehatan dalam negeri, ketepatan diagnosis, kecanggihan teknologi, hingga reputasi rumah sakit.

Potensi Bali untuk wisata medis

Menurut Putu Deddy Suhartawan, General Manager Indonesia Medical Tourism Board (IMTB) Bali Nusra, Bali memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata medis. Sumber dayanya terbilang mumpuni, ada lebih dari 15 rumah sakit yang terakreditasi nasional KARS paripurna, bahkan 4 rumah sakit sudah terakreditasi internasional, dan 1 rumah sakit sudah disertifikasi ACHS (Australian Council Health Service).

Ada beragam layanan medis yang bisa dinikmati sembari berwisata di Bali, antara lain bedah plastik, face implant, face lift, suntik botox, filler, dan thread lift. Kata Deddy, jumlah pasien mencapai 60 orang per bulan dengan pendapatan hingga Rp1,2 miliar.

"Tapi saat itu, masing-masing rumah sakit bergerak sendiri, secara sporadis. Yang akan kita lakukan sekarang adalah untuk koordinasikan, kolaborasikan, karena rumah sakit memang memiliki fasilitas layak dijual, biasa dengan pasien asing juga. Dikombinasikan dengan hotel," tambahnya.

Wisata medis di NTB

Pada tahun 2019, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah meluncurkan wisata medis perdana. Menurut Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, seperti dilansir Tempo.co, NTB memiliki keindahan alam yang memikat didukung dengan jasa pelayanan medis kekeluargaan yang memberikan rasa nyaman serta bahagia pada pasien sehingga mendorong optimisme untuk lekas sembuh.

Zulkieflimansyah menilai, NTB sudah selayaknya menjalankan wisata medis, karena kesiapan pelayanan di hampir semua rumah sakit telah mendukung. Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi (RUSDP) NTB juga menawarkan produk pengobatan radioterapi sebagai produk unggulan. Layanan ini didukung oleh CT Scan Simulator canggih dan pesawat sinar radioterapi terbarukan.

Sementara Rumah Sakit Harapan Keluarga di Lombok menawarkan layanan unggulan berupa perawatan cuci darah. Sedangkan RS Risa Centra Medica punya layanan unggulan berupa baby spa. Lain itu, ada RSUD Mataram yang memiliki fasilitas hypebaric chamber untuk penanganan kebutuhan osksigen murni, biasa digunakan pada penyelam yang mengalami kedaruratan.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini